Donat adalah salah satu camilan paling populer di dunia. Bentuknya sederhana, rasanya manis, mudah ditemukan, dan cocok dinikmati kapan saja—mulai dari teman ngopi pagi, camilan sore, hingga sajian acara keluarga. Di Indonesia sendiri, donat hadir dalam berbagai versi: donat klasik bertabur gula, donat cokelat, donat isi krim, hingga donat modern dengan topping kekinian. Salah satu donat yang menarik adalah https://the-donutdude.com/
Namun, di balik tampilannya yang sederhana, donat menyimpan perjalanan sejarah yang panjang dan menarik. Donat bukanlah makanan yang tiba-tiba muncul di era modern. Ia lahir dari tradisi memasak manusia sejak ribuan tahun lalu, berkembang lintas budaya, lalu berevolusi mengikuti teknologi dan selera zaman.
Menelusuri sejarah donat bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang bagaimana manusia berinovasi, beradaptasi, dan berbagi budaya. Dari adonan goreng di masa kuno, pengaruh imigran Eropa, hingga menjadi ikon kuliner global, donat adalah contoh nyata bagaimana sebuah resep sederhana bisa menembus batas geografis dan generasi. Artikel ini mengajak Anda menyusuri perjalanan panjang donat, dari masa lalu hingga hari ini.
Tradisi Adonan Goreng dalam Peradaban Kuno
Sebelum istilah “donat” dikenal, manusia sudah lama mengenal konsep adonan yang digoreng. Hampir semua peradaban kuno memiliki versi makanan berbasis tepung yang dimasak dengan minyak atau lemak panas. Teknik ini dipilih karena praktis, cepat matang, dan menghasilkan tekstur renyah di luar serta lembut di dalam.
Di Yunani kuno, misalnya, terdapat catatan tentang adonan goreng yang disiram madu sebagai pemanis. Makanan ini sering disajikan dalam perayaan atau jamuan. Bangsa Romawi juga mengenal kue goreng berbentuk bulat atau cincin yang disantap sebagai hidangan penutup sederhana. Di wilayah Timur Tengah, berbagai jenis kue goreng manis berkembang dan kemudian menyebar ke Eropa melalui jalur perdagangan.
Pada Abad Pertengahan di Eropa, masyarakat mulai mengombinasikan adonan dengan gula, rempah, dan buah kering. Teknik menggoreng menjadi semakin umum karena minyak nabati dan lemak hewan mudah diperoleh. Dari sinilah lahir beragam makanan yang secara konsep sangat mirip dengan donat modern, meskipun belum memiliki nama dan bentuk yang seragam.
Tradisi adonan goreng ini membuktikan bahwa donat bukanlah hasil satu budaya tunggal. Ia adalah hasil akumulasi kebiasaan memasak manusia selama berabad-abad, yang kemudian menemukan bentuk dan identitasnya di era berikutnya.
Olykoeks: Warisan Belanda yang Membentuk Donat Modern
Perjalanan donat memasuki fase penting ketika imigran Belanda bermigrasi ke Amerika Utara pada abad ke-17. Mereka membawa resep tradisional bernama olykoeks atau “oil cakes”. Makanan ini berupa bola adonan yang digoreng dalam minyak hingga kecokelatan. Rasanya manis dan sering diisi potongan buah atau kacang untuk menambah cita rasa.
Di wilayah yang kini dikenal sebagai New York—dulu bernama New Amsterdam—olykoeks menjadi camilan populer di kalangan komunitas imigran. Bentuknya bulat padat, namun memiliki satu masalah: bagian tengah sering tidak matang sempurna. Hal ini terjadi karena panas minyak sulit menembus bagian dalam adonan yang tebal.
Meski demikian, olykoeks menjadi fondasi penting bagi lahirnya donat modern. Resep ini menyebar ke masyarakat lokal dan mengalami berbagai modifikasi. Nama dan teknik memasaknya perlahan berubah mengikuti lidah dan kebiasaan masyarakat Amerika.
Olykoeks membuktikan bahwa migrasi manusia turut membawa tradisi kuliner lintas benua. Dari dapur keluarga imigran, resep sederhana ini berkembang menjadi produk yang akhirnya dikenal luas sebagai donat. Inilah contoh nyata bagaimana budaya makanan bergerak mengikuti arus sejarah manusia.
Lahirnya Donat Berlubang dan Inovasi Bentuk
Salah satu ciri paling ikonik dari donat adalah lubang di tengahnya. Bentuk ini ternyata tidak muncul sejak awal. Ada kisah populer tentang seorang pelaut bernama Hanson Gregory pada pertengahan abad ke-19. Ia merasa bahwa donat buatan ibunya sering mentah di bagian tengah. Untuk mengatasi masalah itu, ia melubangi bagian tengah adonan sebelum digoreng.
Ide sederhana ini ternyata sangat efektif. Dengan adanya lubang, panas minyak bisa merata ke seluruh bagian adonan, sehingga donat matang sempurna dan teksturnya lebih konsisten. Selain itu, bentuk cincin membuat donat lebih ringan, tidak terlalu padat, dan mudah ditangani saat proses produksi.
Inovasi ini dengan cepat menyebar dan menjadi standar baru dalam pembuatan donat. Toko-toko roti mulai mengadopsi bentuk berlubang karena lebih praktis dan menarik secara visual. Dari sinilah donat mulai memiliki identitas bentuk yang kita kenal hingga sekarang.
Bentuk donat berlubang bukan sekadar estetika, tetapi hasil dari kebutuhan teknis dan efisiensi produksi. Inovasi kecil ini menjadi titik balik penting dalam sejarah donat modern.
Donat di Era Industri dan Urbanisasi
Memasuki awal abad ke-20, donat mulai memasuki era industrial. Perkembangan mesin dan teknologi memungkinkan produksi donat dalam jumlah besar. Mesin pembuat donat otomatis mempercepat proses pencetakan, penggorengan, dan penirisan minyak. Hal ini membuat donat semakin mudah diakses oleh masyarakat luas.
Di kota-kota besar, toko donat mulai bermunculan sebagai bagian dari budaya urban. Donat menjadi makanan cepat saji yang terjangkau, praktis, dan cocok untuk pekerja kota. Pada masa perang, donat bahkan menjadi simbol dukungan moral, karena sering dibagikan kepada tentara sebagai penghibur di medan tugas.
Industri donat terus berkembang dengan munculnya jaringan toko dan sistem distribusi modern. Donat tidak lagi sekadar buatan rumahan, tetapi menjadi komoditas bisnis yang dikelola secara profesional. Standarisasi rasa, ukuran, dan kualitas mulai diterapkan agar konsumen mendapatkan pengalaman yang konsisten.
Era industri menjadikan donat sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Dari makanan sederhana, donat berubah menjadi produk massal yang mengisi rak toko, kafe, hingga pusat perbelanjaan.
Globalisasi Donat dan Variasi Budaya
Seiring globalisasi, donat menyebar ke berbagai negara dan mengalami adaptasi sesuai budaya lokal. Di Asia, donat hadir dengan rasa teh hijau, kacang merah, hingga tekstur mochi yang kenyal. Di Eropa, donat sering diisi selai buah atau krim custard. Di Amerika Latin, donat dipadukan dengan gula kayu manis dan saus karamel.
Perkembangan media sosial turut mempercepat popularitas donat. Tampilan warna-warni, topping unik, dan bentuk kreatif membuat donat menjadi objek visual yang menarik untuk dibagikan. Banyak pelaku usaha kuliner menjadikan donat sebagai media eksperimen rasa dan desain.
Donat kini tidak hanya dianggap camilan, tetapi juga bagian dari industri kreatif makanan. Festival kuliner, kompetisi baking, dan tren makanan digital membuat donat terus berevolusi mengikuti selera generasi muda. Meski tampil dalam berbagai variasi, esensi donat tetap sama: adonan sederhana yang menghadirkan rasa bahagia.
Globalisasi menjadikan donat sebagai bahasa kuliner universal yang bisa diterima oleh hampir semua budaya.
Kesimpulan: Donat sebagai Warisan Kuliner Multiperadaban
Perjalanan donat adalah kisah panjang tentang inovasi, migrasi, dan adaptasi budaya. Berawal dari tradisi adonan goreng di peradaban kuno, berkembang melalui resep olykoeks dari Belanda, menemukan bentuk ikonik berlubang, lalu tumbuh pesat di era industri dan globalisasi.
Donat bukan hanya makanan manis, tetapi juga cerminan bagaimana manusia mengolah bahan sederhana menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi dan budaya. Setiap gigitan donat membawa jejak sejarah lintas generasi dan lintas benua.
Di era modern, donat terus bertransformasi mengikuti tren, teknologi, dan kreativitas pelaku kuliner. Namun, akar sejarahnya tetap menjadi fondasi yang membuat donat bertahan sebagai salah satu camilan paling dicintai di dunia. Dari dapur sederhana hingga etalase modern, donat membuktikan bahwa inovasi kecil bisa menghasilkan dampak besar dalam budaya makanan manusia.













