Kita Mungkin Sudah Pandai Beribadah tetapi Sudahkah Pandai Memanusiakan Manusia?

Akhlak Mulia dalam Islam
Kita Mungkin Sudah Pandai Beribadah tetapi Sudahkah Pandai Memanusiakan Manusia? Sumber: MMI.

Di zaman sekarang, tidak sulit menemukan orang yang rajin beribadah. Masjid semakin ramai, kajian keislaman mudah diakses, bahkan media sosial dipenuhi dengan berbagai konten dakwah yang mengingatkan kita untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Semua itu tentu menjadi kabar baik bagi umat Islam.

Namun, di balik semangat beribadah tersebut, ada satu pertanyaan yang sering kali luput dari perenungan kita: apakah ibadah yang kita lakukan telah menjadikan kita lebih baik dalam memperlakukan sesama manusia?

Jangan sampai kita pandai berdiri dalam salat, tetapi masih mudah merendahkan orang lain. Jangan sampai lisan kita fasih membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi masih tajam ketika berbicara kepada sesama. Jangan sampai tangan kita ringan bersedekah, tetapi hati kita berat untuk memaafkan.

Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan hubungan seorang hamba dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90).

Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan tidak berhenti pada ibadah ritual, tetapi harus diwujudkan dalam sikap adil, santun, dan penuh kasih kepada orang lain.

Sayangnya, realitas yang kita lihat terkadang berbeda. Ada yang rajin beribadah, tetapi mudah mencela. Ada yang aktif mengikuti kajian, tetapi gemar menyebarkan kebencian. Ada pula yang sibuk menilai dosa orang lain, sementara lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Media sosial menjadi contoh nyata. Hanya karena perbedaan pendapat, seseorang bisa dengan mudah menghina, mempermalukan, bahkan menghakimi orang lain tanpa mengetahui cerita di balik kehidupannya. Padahal, bisa jadi orang yang sedang kita hakimi sedang berjuang menghadapi ujian yang tidak pernah kita alami.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ukuran terbaik seorang muslim bukan hanya pada banyaknya ibadah, tetapi juga pada akhlaknya.

Beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad).

Hadis ini menjadi bukti bahwa misi utama Rasulullah SAW bukan sekadar mengajarkan tata cara ibadah, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki akhlak mulia.

Baca Juga: Reformasi AI berbasis Karakter: Evaluasi Holistik untuk Generasi Anti-Bullying

Lebih dari itu, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang siapa muslim yang paling baik. Beliau menjawab:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Mungkin kita tidak melukai seseorang dengan tangan, tetapi bagaimana dengan tulisan kita? Bagaimana dengan komentar yang kita tinggalkan di media sosial? Bagaimana dengan kata-kata yang kita ucapkan kepada keluarga, pasangan, teman, atau rekan kerja?

Memanusiakan manusia bukan berarti membenarkan semua kesalahan orang lain. Memanusiakan manusia berarti tetap menghormati martabatnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tidak harus saling menjatuhkan. Kita boleh menasihati, tetapi tidak dengan cara mempermalukan.

Bukankah setiap orang sedang berjuang? Ada yang berjuang melawan kemiskinan, ada yang sedang menghadapi kehilangan, ada yang berusaha keluar dari dosa-dosanya, dan ada pula yang setiap hari berjuang melawan dirinya sendiri. Sayangnya, perjuangan itu sering kali tidak terlihat oleh mata kita.

Karena itu, sebelum menilai seseorang, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku sudah benar-benar menjadi manusia yang membawa ketenangan bagi orang lain?”.

Baca Juga: Cara Mahasiswa Universitas Quality Menjadi Guru yang Akan Dirindukan Peserta Didik

Ibadah yang benar seharusnya melahirkan akhlak yang baik. Salat seharusnya membuat kita semakin rendah hati. Puasa mengajarkan kesabaran. Zakat menumbuhkan kepedulian. Haji melatih persaudaraan. Jika ibadah hanya berhenti pada ritual tanpa mengubah cara kita memperlakukan sesama, maka sudah saatnya kita melakukan muhasabah.

Pada akhirnya, mungkin Allah SWT tidak hanya melihat seberapa lama kita berdiri dalam salat, tetapi juga seberapa banyak hati yang kita jaga agar tidak terluka karena ucapan dan perbuatan kita.

Mari terus memperbaiki ibadah kepada Allah SWT sekaligus memperindah akhlak kepada sesama. Sebab, seorang muslim yang baik bukan hanya dikenal karena rajin beribadah, tetapi juga karena kehadirannya mampu membuat orang lain merasa dihargai, dihormati, dan dimanusiakan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang tidak hanya pandai menghadap Allah dalam sujud, tetapi juga pandai memanusiakan manusia dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.


Penulis: Muhammad Ridho Fadilah (NIM: 2461201913)
Mahasiswa S1 Manajemen ITB Ahmad Dahlan Jakarta


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *