Di ruang kelas, perpustakaan, kafe kampus, bahkan kamar kos, semakin banyak pelajar dan mahasiswa membuka aplikasi AI sebelum membuka buku. Ada yang memakainya untuk merangkum bacaan, mencari ide makalah, menerjemahkan artikel, menyusun kerangka presentasi, hingga menulis jawaban tugas.
Fenomena ini sudah terlalu dekat untuk dianggap sekadar tren teknologi. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke dunia pendidikan, melainkan bagaimana ia mengubah cara kita belajar. Lebih jauh lagi, apakah kemudahan belajar juga menghasilkan karakter yang lebih baik?
Pertanyaan itu penting karena pendidikan tidak pernah hanya berurusan dengan informasi. Sekolah dan kampus memang mengajarkan pengetahuan, tetapi tujuan terdalamnya adalah membentuk manusia yang mampu berpikir, memilih, bertanggung jawab, dan hidup bersama orang lain secara bermartabat.
Dalam bahasa pendidikan karakter, pengetahuan moral tidak cukup. Seseorang perlu membangun kebiasaan, kepekaan, disiplin, integritas, dan keberanian mengambil keputusan. Semua itu tidak tumbuh dari jawaban yang cepat, melainkan dari proses yang sering kali lambat.
AI mengubah lanskap belajar secara drastis. Informasi yang dulu perlu dicari melalui buku, diskusi, atau penelusuran panjang kini bisa muncul dalam hitungan detik. Laporan Higher Education Policy Institute dan Kortext pada 2025 menunjukkan 92 persen mahasiswa sarjana di Inggris menggunakan AI dalam studi mereka, naik dari 66 persen pada 2024.
Digital Education Council pada 2024 juga melaporkan 86 persen mahasiswa yang disurvei telah memakai AI dalam kegiatan akademik. Angka-angka ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi alat pinggiran. Ia telah menjadi bagian dari ekosistem belajar generasi muda.
Namun, memperoleh informasi tidak sama dengan membangun karakter. Seorang mahasiswa bisa mendapatkan ringkasan teori etika dalam sepuluh detik, tetapi belum tentu menjadi lebih jujur dalam menulis. Seorang pelajar bisa meminta AI menjelaskan konsep matematika, tetapi belum tentu memiliki ketekunan untuk berlatih.
Di sinilah letak persoalannya. Pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil akhir mudah tergoda menjadikan AI sebagai jalan pintas. Padahal karakter dibentuk justru ketika seseorang berhadapan dengan kesulitan, kebingungan, koreksi, dan tanggung jawab atas pekerjaannya sendiri.
Karakter, seperti otot, tidak terbentuk hanya karena kita melihat orang lain berolahraga. Ia tumbuh karena latihan yang berulang. Bila setiap kesulitan belajar segera dialihkan kepada mesin, daya juang bisa melemah perlahan. Bukan karena AI jahat, melainkan karena kebiasaan manusia berubah.
Kebiasaan menunda membaca, malas menyusun argumen, atau enggan memeriksa sumber dapat menjadi pola baru bila AI dipakai tanpa kesadaran. Dalam jangka panjang, yang terancam bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga integritas intelektual.
Budaya instan adalah risiko paling nyata. Pendidikan seharusnya memberi ruang bagi proses: membaca, meragukan, bertanya, gagal, memperbaiki, lalu memahami. AI dapat mempercepat sebagian proses itu, tetapi juga bisa menghapus bagian yang paling mendidik.
Mahasiswa yang langsung menerima jawaban AI tanpa memeriksa kebenarannya kehilangan kesempatan untuk belajar skeptis. Pelajar yang menyerahkan seluruh esai kepada AI kehilangan kesempatan menyusun suara pikirannya sendiri. Akhirnya, tugas selesai, nilai mungkin baik, tetapi karakter belajar tidak tumbuh.

Kita juga perlu melihat risiko terhadap kemampuan berpikir mandiri. AI bekerja dengan pola, prediksi, dan data yang telah tersedia.
Ia dapat membantu menyusun gagasan, tetapi tidak memiliki pengalaman moral sebagai manusia. Bila generasi muda terlalu sering meminta mesin menentukan apa yang harus dipikirkan, mereka bisa menjadi konsumen gagasan, bukan penghasil gagasan.
Mereka mungkin lancar berbicara, tetapi miskin pergulatan. Padahal pendidikan yang baik bukan sekadar membuat seseorang tampak cerdas, melainkan membantu seseorang memiliki pendirian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Meski demikian, kritik terhadap AI tidak boleh berubah menjadi ketakutan teknologi. AI memiliki manfaat nyata. Ia dapat membantu mahasiswa memahami bacaan sulit, memberi umpan balik awal terhadap tulisan, membuka akses pengetahuan bagi pelajar yang kekurangan sumber belajar, dan meringankan beban administratif guru.
UNESCO dalam kerangka kompetensi AI untuk siswa dan guru pada 2024 menekankan pentingnya literasi AI, etika, dan tanggung jawab manusia dalam penggunaan teknologi. Artinya, lembaga pendidikan dunia pun tidak mendorong penolakan buta, melainkan penggunaan yang sadar.
Masalahnya bukan keberadaan AI, melainkan pola penggunaannya. Pisau dapat dipakai memasak atau melukai. AI dapat menjadi tutor yang sabar, tetapi juga dapat menjadi mesin penyalin tugas. Ia dapat memperluas kesempatan belajar, tetapi juga mempersempit proses berpikir bila dipakai hanya untuk mengejar cepat selesai.
Karena itu, perdebatan pendidikan hari ini tidak cukup berhenti pada boleh atau tidak boleh memakai AI. Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk tujuan apa AI dipakai, pada tahap mana ia boleh membantu, dan bagian mana dari proses belajar yang tetap harus dijalani manusia?
Di sinilah pendidikan karakter perlu diperbarui untuk era digital. Kejujuran akademik tidak lagi cukup diajarkan sebagai larangan plagiarisme. Ia harus mencakup etika penggunaan AI: kapan harus menyebut bantuan AI, bagaimana memeriksa akurasi jawaban, mengapa sumber tetap penting, dan mengapa karya belajar harus tetap mencerminkan usaha pribadi.
Integritas di era AI berarti berani mengakui bantuan teknologi sekaligus tetap bertanggung jawab atas isi, keputusan, dan dampak dari karya yang dihasilkan.
Penilaian pendidikan juga perlu berubah. Jika tugas hanya menilai produk akhir, AI akan selalu menggoda sebagai jalan tercepat. Sekolah dan kampus perlu memberi bobot lebih besar pada proses: catatan membaca, draf bertahap, refleksi pribadi, diskusi lisan, portofolio, dan kemampuan menjelaskan alasan di balik jawaban.
Dengan cara ini, AI tidak harus dimusuhi, tetapi ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses yang tetap menuntut kehadiran pikiran manusia.
Selain itu, budaya refleksi harus menjadi bagian dari pembelajaran. Pelajar dan mahasiswa perlu dibiasakan bertanya setelah memakai AI: bagian mana yang benar-benar saya pahami, bagian mana yang hanya saya salin, dan keputusan apa yang tetap harus saya ambil sendiri? Pertanyaan sederhana seperti ini dapat mengembalikan pendidikan pada inti pembentukan karakter. Berpikir kritis bukan hanya kemampuan membantah, tetapi keberanian memeriksa kenyamanan sendiri.
Akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih mesin menjawab pertanyaan, tetapi oleh seberapa matang manusia menggunakan jawaban itu. AI mungkin membantu kita berpikir lebih cepat, tetapi ia tidak bisa menggantikan perjuangan untuk menjadi pribadi yang jujur, tekun, rendah hati, dan bertanggung jawab.
Tantangan terbesar generasi muda bukan sekadar hidup bersama mesin yang semakin pintar. Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa ketika mesin membantu berpikir, manusia tidak berhenti membangun karakter.
Referensi Singkat
- Higher Education Policy Institute & Kortext. (2025). Survei penggunaan AI mahasiswa Inggris, dilaporkan oleh The Guardian: https://www.theguardian.com/education/2025/feb/26/uk-universities-warned-to-stress-test-assessments-as-92-of-students-use-ai
- Digital Education Council. (2024). Global AI Student Survey, dilaporkan antara lain oleh Campus Technology: https://campustechnology.com/
- UNESCO. (2024). AI Competency Framework for Students dan AI Competency Framework for Teachers: https://www.unesco.org/
- Perkins, M., Roe, J., & Furze, L. (2024). The AI Assessment Scale Revisited: A Framework for Educational Assessment. arXiv.
Penulis:
1. Rizal Maulana
2. Indah Dwi Susilowati
3. Aida Aisyah Kamilah
4. Chintia Catur Cahyarona
5. Ratri Affinah Lailatul Fitriyah
6. Reni Agustin
7. Nabila Army Cahyani
8. Renata Tri Lestari
9. Ilham Dwi Kusuma
10. Mohammad Romi Maulana
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo
Dosen Pengampu: Edita Rachma Kamila, S.M., M.M.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi













