Strategi Reunifikasi Maldova dan Rumania

bendera Maldova dan rumania
Ilustrasi: istockphoto

Pendahuluan

Unifikasi kini merupakan topik yang sudah sangat jarang dibahas dalam dunia hubungan internasional untuk masa kini sebab terdapat tendensi besar bagi negara-negara untuk terpecah belah dan menjadi bersatu, khususnya reunifikasi yang dapat terjadi bagi negara yang pernah menjadi satu kedaulatan.  

Dalam hal ini reunifikasi akan lebih didefinisikan mengenai menyatukan kembali suatu negara dengan negara lain, seperti sentimen reunifikasi antara negara Moldova dan Rumania yang masih ada hingga saat ini, meskipun hal tersebut tidak mungkin akan terjadi namun sentimen reunifikasi tersebut masih ada hingga saat ini.

Maldova dan Rumania memiliki kesamaan secara sejarah seperti kesamaan bahasa, budaya, dan bangsa serta dalam sejarah geografis menyatakan bahwa wilayah Maldova juga merupakan wilayah Rumania, hal tersebut yang menjadikan faktor pendorong terjadinya reunifikasi di antara kedua negara tersebut.

Adapun faktor lain yang menjadikan sentimen reunifikasi antara Moldova dan Rumania muncul yaitu karna banyaknya partai politik yang mendukung bersatunya kedua negara tersebut demi mencapai kepentinganya yaitu integrasi Eropa.

Di mana dapat kita ketahui bahwa Rumania telah bergabung dengan keanggotaan Uni Eropa sejak tahun 2007.

Dan beberapa pendukung partai politik tersebut mempercayai dengan bersatunya Moldova dan Rumania akan membantu Moldova lebih dekat dengan Uni Eropa agar mendapatkan manfaat seperti perbaikan ekonomi, karena yang telah kita ketahui bahwa Moldova merupakan negara miskin secara ekonomi jauh dibandingkan dengan Rumania.

Para pendukung unifikasi ini memiliki pandangan bahwa unifikasi dapat meningkatkan perdagangan, investasi, dan aktivitas ekonomi lainnya.

Hubungan antara negara Maldova dan Rumania sangat bersahabat pasca Moldova memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet tahun 1991. Rumania merupakan salah satu negara yang mengakui kemerdekaan Moldova pada saat itu sebab kemerdekaan Moldova dipandang oleh Rumania sebagai salah satu bentuk langkah menuju unifikasi dengan Rumania.

Setelah kemerdekaan Moldova beberapa hari kemudian Rumania dan Moldova membuat perjanjian pembentukan hubungan diplomatik dengan membuat rezim mengenai perbatasan wilayah bebas visa dan paspor untuk diberlakukan agar warga Moldova dan Rumania dapat melakukan perjalanan melintasi batas negaranya hanya dengan kartu identitas.

Rumania juga banyak membantu Maldova di bidang pendidikan seperti memberikan fasilitas buku pelajaran sekolah dan memberikan bantuan beasiswa untuk siswa Maldova agar dapat belajar di Rumania.

Namun pada tahun 2009 terdapat konflik pertikaian diplomatik yang membuat Moldova menutup perbatasan antara Rumania dan Moldova kemudian memberlakukan kembali kebijakan pengecekan visa dan paspor, membatalkan perencanaan pembuatan koneksi jalur kereta api yang menghubungkan Rumania dan Moldova.

Tetapi jauh berbeda dengan Rumania, ia tidak membalas apapun yang telah dilakukan oleh Moldova, tidak ada kebijakan-kebijakan yang diubah, ia tetap mempertahankan semuanya dan pada masa kepresidenan yang dipimpin oleh Igor Dodon hubungan antara Moldova dan Rumania kian memburuk.

Pada masa kini Moldova dipimpin oleh Maia Sandu, kini Moldova lebih memihak kepada Rumania dan ingin mempercepat integrasi ke dalam Uni Eropa untuk reunifikasi kemudian dukungan publik di Moldova untuk bersatu dengan negara Rumania juga telah meningkat.

Maia Sandu juga telah mempersiapkan reunifikasi tersebut. Langkah awal dari Maia Sandu sendiri adalah seperti membuat undang-undang pengesahan mengenai bahasa yang dipertegas bahwa bahasa negara Moldova adalah bahasa Rumania bukan bahasa Moldova.

Selanjutnya tujuan dalam melakukan penulisan ini yakni mengkaji lebih dalam mengenai strategi apa saja yang dilakukan dalam mencapai reunifikasi Moldova dan Rumania kemudian mengidentifikasi permasalahan yang ada antara Rumania dan Moldova sehingga munculnya sentimen reunifikasi tersebut.

Pembahasan

A. Sejarah

Moldova merupakan daratan yang terletak di sudut timur laut Kawasan Balkan di Eropa. Ibu kota Moldova adalah Chisinau, yang terletak di bagian tengah-selatan negara Moldova. Moldova sebelumnya dikenal sebagai Bessarabia. Bessarabia merupakan bagian integral dari kerajaan Rumania di Moldavia hingga tahun 1812, Bessarabia diserahkan ke Rusia namun tetap menjadi provinsi Kekaisaran Rusia sampai setelah Perang Dunia I, Bessarabia di dalam kendali Rusia pada tahun 1940-1941 hingga setelah Perang Dunia II, ketika bbergabung dengan wilayah bekas wilayah Ukraina, Republik Sosialis Soviet otonomi Moldavia, di tepi kiri Sungai Dniester untuk membentuk Republik Sosialis Soviet Moldavia. Setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, Bessarabia mendeklarasikan kemerdekaannya dan menggunakan nama Moldova, kemudian pada tahun 1992 Moldova menjadi negara anggota PBB.

Sejak tahun 1812, dibawah kekaisaran Rusia yang menyebut wilayah Moldova sebagai Bessarabia. Hingga tahun 1918, tentara Rumania mulai memasuki Bessabaria untuk meninjau kembali posisinya dan ketentuan otonomi, yang pada akhirnya ditetapkan bahwa Rumania dan Bessarabia memutuskan persatuan bersyarat pada 27 Maret 1918. Pada masa Perang Dunia 2, Rumania menyerahkan Moldova kepada Uni Soviet atas bentuk persetujuan ultimatum oleh Uni Soviet, hal ini membuat terciptanya Moldavian Soviet Socialist Republic atau RSSM. Rumania tetap memperjuangkan wilayah Moldova dengan bergabung kekuatan poros atau Axis Power pada 1941 yang ingin menginvasi wilayah Bessarabia, Bukovina Utara, dan Timur Dniester atau dijuluki “Transnistria”. Namun upaya ini gagal karena upaya Uni Soviet yang kuat dalam membangun kembali otoritasnya di tanah Moldova. Uni Soviet juga menetapkan bahwa Romanian dan Moldovan merupakan 2 bahasa yang berbeda, hal ini dilakukan untuk menekan perbedaanan 2 negara tersebut.Pada tahun 1989, RSSM mendeklarasikan bahasa Modlova sebagai bahasa resmi sebagai bentuk liberalisasi Uni Soviet. Setelah beberapa dekade pemisahan yang ketat, pada 1990 kedua negara mulai mencabut pembatasan penyebrangan/pembatasan diwilayah Sungai Prut.

Pasca kemerdekaan Moldova tahun 1994, gagasan unifikasi kedua negara menjauh, hal ini ditandakan melalui Referendum 1994 yang secara implisit mengecualikan persatuan dengan Rumania. Konsep Kebijakan Nasional (2003) yang dicetuskan oleh kelompok komunis Moldova juga mengatakan bahwa Moldova dan Romania merupakan pribadi yang sangat berbeda, dan Rumania merupakan kaum minoritas di Moldova. Baru-baru ini, parlemen Moldova memutuskan perubahan bahasa negara dari Moldova ke Rumania, hal ini didukung oleh Partai Aksi dan Solidaritas yang berkuasa serta akademisi ilmu pengetahuan Moldova, namun ditentang oleh Blok Komunis dan Sosialis.

B. Identifikasi Masalah

Rumania dan Moldova pernah berlangsung selama dua dekade dan kemudian dipisahkan kembali oleh Perang Dunia II dan pakta Molotov-Ribbentrop tahun 1939, yang mana pada saat itu Moskow dan Berlin menciptakan wilayah pengaruh di Eropa Timur pada tahun 1940-an. Pada tahun yang sama dikimkanlah Ultimatum yang ditujukan untuk Raja Rumania Carol II, yang membuat Rumania harus menyerahkan Moldova, Bucovina Utara dan Hertsa kepada Uni Soviet.

 Setelah merdekanya Moldova, mencuatlah Re-unifikasi pada akhir 1989 sebagai bentuk dampak atas kebijakan Glastnost yaitu gerakan politik untuk reformasi diera Komunis Soviet. Pada tahun ini kuatnya keinginan Moldova bergabung dengan wilayah Rumania dapat dibuktikan dengan Moldova yang mengadopsi bendera tiga nwarna milik Rumania sebagai bendera negara Moldova dan symbol-simbol nasionalis Rumania lain yang diadopsi oleh moldova. Dalam hal ini ada dua kubu di Moldovanya sendiri yaitu kubu yang setuju atau biasa disebut Unionisti dan kubu para penentang yang disebut Moldovenisti.

Adanya rancangan Re-unifikasi ini akhirnya menyebabkan adanya pergerakan masa di Moldova timur yaitu Transnistria yang sebagian besar warganya adalah orang asli Rusia dan Ukraina, mereka menolak adanya Re-unifikasi ini adalah karena mengkhawatirkan posisinya akan menjadi minoritas dan menjadi etnis yang tidak didengar. Hal ini juga yang akhirnya membuat keinginan dari Transnistria untuk memisahkan diri. Selain itu ada beberapa alasan Rusia berada dikawasan Transnistria ( Moldova) diantaranya adalah faktor sejarah yaitu adanya ekspansi ke Transnistria sehingga ada banyak etnis Transnistria adalah adanya program ekspansi. Ekonom, adamya bantuan ekonomi yang diterima oleh Transnistria secara baik contohnya subsidi usia pensiun dan lain sebagainya. Budaya juga berpengaruh penting nilai-nilai yang ada dikarenakan adanya kesamaan budaya yang sama dan lain sebagainya.

Didalam kasus ini ada pihak eksternal yang selalu terlibat yaitu Ukraina dan Rusia, Rusia sendiri sudah ikut campur didaerah Transnistria pada tahun 1992, Rusia tetap tingggal dengan dua kontingen yaitu pasukan penjaga perdamaian trilateral bagian Rusia ( bersama transnistria  dan pasukan moldova) dan kelompok oprasional pasukan Rusia ( OGRF) yang bertugas untuk menjaga depot snejata lama milik Soviet di Tranistria yang terbesar di kota Cobasna dan juga menjaga agar tidak ada serangan tidak terduga Moldova.   Kehadiran pasukan penjaaga ini disahkan pada perjanjian gencatan senjata pada 1992, namun Moldova tidak pernah menerima kehadiran dari OGRF. Dan setelah pergantian presiden Moldova menyatakan pembubaran OGRF yang kemudian mendapatkan kecaman dari beberapa pihak Rusia.

Rusia kemudian menargetkan sebidang tanah  yang berdekatan dari Donetsk di Ukraina Timur , membentang di sepanjang panai Azov dan Laut Hitam melalui Kherson dan Odesa, dan dari sana ke Tranistria. Setelah itu sering terjadi adanya penyerangan teroris misterius. Rusia sebagai pihak eksternal pada akhirnya dianggap sangat menunjukan keberpihakannya terhadap kaum pemberontak di Transnistria dengan latar belakang kepentingan pribadi.

Selain Rusia dan Ukraina terdapat kontribusi dari Uni Eropa, mengingat Rumania adalah bagian dari Uni Eropa. Setelah adanya perluasan Uni Eropa mulai lebih memperhatikan Moldova utamanya terkait dengan kontrol perbatasan. Apabila kondisi Moldova masih lemah dan masih terjadi berbagai konflik seperti Tranistria akan menyebabkan gangguan bagi Uni Eropa, hal ini juga menjadi pertimbangan besar dari Uni Eropa terkait bergabungnya Moldova ke Uni Eropa dan adanya reunifikasi Moldova ke Rumania yang merupakan bagian dari Uni Eropa. Oleh karena itu UE sendiri juga memberikan bantuan terhadap konflik yang terjadi di Transnistria yaitu dengan mengirimkan European Union Special Representative (EUSR) yang menjadi simbol keseriusan UE dalam keterlibatannya di Transnistria. Untuk reunifikasi sendiri UE belum dapat mendukung hal tersebut dikarenakan belum selesainya konflik yang ada di Moldova sehingga reunifikasi akan menjadi PR besar bagi Uni Eropa untuk mengembalikan kestabilannya.

Munculnya nama Kozak Memorandum atau kozak Plan pada tahun 17 November 2023 yang berisi nota prinsip dasar dalam konstitusi. Sudah cukup lama setelah dipisahkannya Moldova dari Soviet, namun penyatuan keduanya masih menjadi pembahasan. bagaimana tidak? pada tahun 2021 iData melakukan Jajak pendapat pada Rakyat Moldova, hasil yang didapatkan adalah kurang lebih 44% warga Moldova mendukung Re-Univikasi. selain itu masyarakat Rumania juga dimintai pendapatnya pada tahun 2018 oleh Biro Penelitian Sosial Rumania, dari Jajak pendapat tersebut diketahui ada 74% masyarakat Rumania akan memilih reunivikasi dalam referendum Hipotesis, 15% menentang dan 11 %, memilih untuk tidak menggunakan suaranya. ada beberapa alasan yang mendasari agenda ini mendapatkan dukungan diantaranya berarti perluasan wilayah, sumber daya alam yang bertambah dan akan masuknya warga negara baru. adanya warga negara baru juga sangat membantu kedua negara, karena kedua negara memiliki jumlah migrasi dan tingkat kelahiran yang rendah, dan terus menurun setelah kemerdekaan Moldova. Tidak jarang masyarakat Moldova memilih untuk bersekolah di Rumania dan mendapatkan kewarganegaraan Rumania.

Adanya rencana reunifikasi ini tidak menjadi fokus utama kedua negara, berdasarkan data yang didapatkan oleh jajak pendapat BSR Rumania tahun 2018 hanya 27% warga rumania menganggap serikat pekerja sangat dibutuhkan. Dari masyarakat Moldova sendiri, sebelumnya pernah dibawahi oleh Rusia dan mendapatkan pelajaran dan atau transfer ilmu dari Rusia, merasa tidak setuju karena bersatu dengan Rumania, mereka terhalang oleh bahasa dan budaya. Masyarakat Moldova, sebagian lebih menyenangi Moldova sebagai negara merdeka. Alasannya adalah mereka lebih bebas daripada menjadi bagian dari negara lain, mereka dapat kursi di PBB dan mendapatkan hak-hak internasional yang dapat dinikmati oleh sebuah negara merdeka. adanya penggabungan ini juga sulit untuk dilakukan karena karena Transnistria yang masih berkonfik beku dengan Moldova, yang mana dalam konflik ini ada campur tangan rusia yang menjadi “Pelindung” salah satu pihak. hal ini tentu saja menjadi pertimbangan besar bagi Rumania mengingat secara historis keduanya berpisah disebabkan oleh Rusia dan Moldova belum bersatu kembali.

Adanya Reunifikasi antar kedua negara merupakan hal yang baik dan sudah seharusnya dilakukan sedari dulu namun kedua negara juga sudah seharusnya menyelesaikan konflik negaranya sendiri terlebih dahulu terutama bagi Moldova adanya konflik Transnistria menjadi halangan besar adarnya reunifikasi mengingat konflik tersebut berasal dari rencana Reunifikasi dan menjadi gangguan besar bagi adanya reunifikasi tersebut .

C. Strategi Reunifikasi

Perkembangan upaya reunifikasi Romania dan Moldova cenderung mengalami maju-mundur akibat pemerintah kedua negara yang tidak dapat membuat keputusan. Baik dari pemerintah dan masyarakat di kedua negara memiliki perbedaan pandangan terkait upaya reunifikasi khususnya dampak yang akan terjadi jika kebijakan tersebut tercapai. Kelompok Unionist (pendukung) berpendapat bahwa upaya reunifikasi ini akan meningkatkan memperluas teritori negara di Benua Eropa, serta meningkatkan tingkat perekonomian kedua negara melalui transfer sumber daya alam. Di sisi lain, kelompok Statalist (penentang) menekankan bahwa kedua negara memiliki perbedaan dalam kebudayaan dan bahasa sehingga upaya ini akan menghilangkan kedaulatan negara yang telah dibentuk sejak lama. Dalam upaya menangani perbedaan pendapat yang terjadi, masyarakat dan pemerintah membentuk gerakan serta kebijakan yang menjadi jembatan bagi unionist dalam memperjungkan reunifikasi Moldova dan Romania, seperti:

1. Kewarganegaraan Ganda

Kebijakan ini ditujukan kepada masyarakat Moldova oleh pemerintah Romania melalui Otoritas Nasional untuk Kewarganegaraan yang ditetapkan pada tahun 1991. Hingga tahun 2021, sekitar 850.000 masyarakat Moldova telah memiliki kewarganegaraan ganda masyarakat dari dewasa hingga anak-anak. Faktor pendorong masyarakat Moldova memperoleh kewarganegaraan Romania dikarenakan banyak masyarakat berpihak ke Romania (unionist), serta kemungkinan berpergian ke luar negri khususnya wilayah Uni Eropa.

2. Pembukaan Pebatasan Lipcani-Radauti di Sungai Prut

Sungai Prut merupakan sungai yang memisahkan dua kota antara negara Romania dan Moldova. Perbatasan ini sempat dibuka pada tahun 1990 sebagai bentuk liberalisasi Uni Soviet terhadap kedudukannya di Moldova. Namun pada tahun 2010, perbatasan sungai ini resmi dibuka kembali dan pagar kawat yang membentangi kedua negara resmi dibongkar.

3. Union Marches

Aksi yang dilakukan oleh kelompok Action 2012 (NGO Unionist) dan Union Council (Unionist Moldova) yang diperingati pada tanggal 27 Maret yang dikenal sebagai Hari Persatuan. Aksi gerakan ini dihadiri 25.000 hingga 30.000 unionist dengan melakukan  gerakan  melewati  Sungai  Prut  yang merupakan perbatasan antara Romania dan Moldova, serta memberitakan keinginan mereka terkait reunifikasi kedua negara.

Berdasarkan sudut pandang pemerintah kedua negara, Romania telah memberikan titik terang sejak tahun 2007 melalui upaya presiden Romania pada saat itu, Traina Basaescu yang ingin membantu Moldova bergabung Uni Eropa secara bersamaan dengan Romania. Namun upaya ini ditolak oleh Vladimir Voronin, presiden Moldova yang ingin bergabung Uni Eropa secara mandiri. Presiden Basescu juga mengupayakan kerjasama dibidang perekonomian melalui proyek pembangunan infrastruktur senilai 100 juta euro, yang tercapai melalui pembukaan kerjasama bisnis dan investasi Romania-Moldova. Hal ini meningkatkan tingkat investasi terhadap Moldova, salah satunya pengambil-alihan portal berita Uni Media oleh Realitatea-Cațavencu group Romania.

Berbeda dengan Romania, pemerintah Moldova disisi lain selalu menunjukan upaya pemisahan diri menjadi independent-state dan menilai upaya reunifikasi akan mengganggu kesejahteraan masyarakat Moldova (Victor Gaiciuc, Menteri Pertahanan dan Keamanan). Selain itu, otonomi territorial Moldova seperti Gagauzia dan Transnistria yang dikenal sebagai teritori etnik local, dinilai akan kehilangkan identitas otonomi karena hukum Romania yang tidak mengizikan otonomi ethnic-based territorial dan penggunaan bahasa selain Romania.

D. Analisis

Persoalan mengenai unifikasi antara kedua negara yaitu Moldova dan Rumania dapat dianalisis melalui teori determinis dan teori posibiliis. Dalam teori determinis sendiri yaitu keadaan dari suatu negara yang letak geografisnya mempengaruhi peta politik negara tersebut. Suatu negara yang berada di antara dua negara besar maka kebijakan dari negara tersebut dapat terpengaruh dari negara adikuasa atau negara yang lebih besar di sekitar wilayah tersebut. Sehingga, dalam teori determinis menyatakan bahwa unsur geografis lah yang merupakan unsur mutlak dan menentukan politik nasional suatu negara dan menyatakan bahwa geopolitik dan geostrategi merupakan doktrin kekuatan negara di atas bumi. Beda halnya pada teori posibilitis, unsur geografis hanyalah sebagai salah satu unsur saja, sehingga suatu negara tidak sepenuhnya menerima pengaruh dari negara lain walaupun letak geografisnya saling berdeketan.

Berangkat melalui persoalan yang terjadi antara Moldova dan Rumania, letak geografis Moldova berada di bagian Eropa Timur. Perbatasan barat Moldova terbentuk oleh sungai yang bernama sungai Prut, sementara sungai utama di timur adalah sungai Dniester yang mengalir dari utara ke selatan. Moldova tidak memiliki akses ke laut meskipun terletak dekat dengan Laut Hitam, dan sebagian besar wilayah Moldova berbukit-bukit. Pada abad pertengahan, sebagian besar wilayah Moldova merupakan bagian dari Kepangeranan Moldavia lalu pada bagian timur kepangeranan ini lalu dia aneksasi oleh Kekaisaran Rusia pada tahun 1812 yang dikenal sebagai Bessarabia. Pada saat pembubaran Kekaisaran Rusia tahun 1917, Republik Demokratik didirikan, yang selanjutnya bersatu dengan Rumania Raya pada tahun 1918. Lalu tahun 1940, Bessarabia diduduki oleh Uni Soviet, dan dibagi antara Republik Sosialis Soviet Ukraina dan Republik Sosialis Soviet Moldova. Sehingga dengan runtuhnya Soviet tahun 1991, Moldova menyatakan kemerdekaannya dan menjadi negara yang mandiri.

Sehingga dari sejarah dan letak geografis Moldova, analisis menggunakan teori determinis ialah, terjadinya reunifikasi antara Moldova dan Rumania merupakan sebuah bentuk kecenderungan dari kedekatan letak geografis kedua negara tersebut, sehingga adanya hal tersebut dapat mempengaruhi bagaimana keberlanjutan dari proses reunifikasi tersebut. Namun, dari data yang didapat mengenai masyarakat Moldova yang memiliki kewarganegaraan ganda, masyarakat moldova yang memilih bersekolah atau bekerja di Rumania, bantuan infrastruktur Rumania ke Moldova, dan akses mudah bagi masyarakat Moldova ke Rumania dalam analisis ini, hal tersebut dianggap merupakan bentuk nyata dari determinasi dari letak geografis karena mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Moldova dan kebijakan-kebijakan sebelumnya yang telah dibuat antar kedua negara tersebut.

Lalu dalam analisis teori posibilitis, ditinjau dari sikap antar Moldova yang masih mempertahankan identitas nasionalnya, walaupun dari anggapan masyarakat pendukung reunifikasi, kedua negara tersebut memiliki bahasa dan budaya. Namun kenyataanya yang terjadi sampai saat ini proses keberlanjutan reunifikasi masih diambang-ambang karena antara kedua negara tersebut masih dinilai labil untuk menentukan bagaimana keberlanjutan proses reunifikasi tersebut. Faktor dari perbedaan kepemimpinan kepresidenan Moldova juga mempengaruhi kecenderungan suatu kebijakan yang dibuat, dapat cenderung memihak Rumania dan dapat menolak adanya reunifikasi tersebut. Lalu adanya kelompok statalist sebagai penentang adanya kebijakan reunifikasi menjadikan faktor bagi kedua negara tersebut untuk mempertimbangkan keberlanjutan proses reunifikasi. Sehingga walaupun letak geografis kedua negara tersebut yang saling berdeketan seiring dengan reunifikasi, reunifikasi kedua negara tersebut tidak sepenuhnya berjalan. Karena dalam reunifikasi juga perlu mempertimbangan beberapa faktor seperti perluasan wilayah, transfer sumber daya alam dari kedua negara, pembangunan infrastruktur dan lainnya.

Penulis: 
1. Lailatul Ummi Hanika Sari
2. Vetra Raisha
3. Sadrach Abel Damanik
4. Aina Puspita Ningrum
5. Jauza Erannie

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Teknologi Yogyakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *