Gerakan Sosial sebagai Agent of Change

Gerakan Sosial
Ilustrasi: istockphoto

Perubahan sosial merupakan hal yang dinamis dan terus terjadi dalam masyarakat. Perubahan sosial dapat terjadi secara alamiah atau karena adanya campur tangan manusia. Salah satu campur tangan manusia dalam proses perubahan sosial adalah melalui gerakan sosial.

Gerakan sosial adalah suatu bentuk kolektif dari orang-orang yang terorganisir untuk mencapai tujuan tertentu.

Sebuah gerakan sosial, apapun latar belakang historis terbentuknya, pada hakekatnya menekankan pada satu tujuan utama gerakan yaitu sebuah perubahan. Tidak menjadi masalah apakah perubahan yang diinginkan bersifat infrastruktur atau suprastruktur.

Peran utama dari gerakan sosial adalah sebagai penyeimbang kekuasaan. Dalam konteks ini, gerakan sosial berfungsi sebagai wakil bagi mereka yang mungkin kurang memiliki representasi yang memadai dalam struktur formal pemerintahan.

Gerakan sosial sering kali muncul ketika suara masyarakat tidak diakui atau diabaikan oleh kebijakan pemerintah.

Sebagai contoh, pada abad ke-20, gerakan hak sipil di Amerika Serikat muncul sebagai tanggapan terhadap diskriminasi rasial dan bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak sipil yang setara bagi semua warga negara. Gerakan ini mendorong perubahan yang signifikan dalam hukum dan kebijakan yang memengaruhi kehidupan sehari-hari banyak orang.

Gerakan sosial berperan penting sebagai aktor perubahan sosial. Gerakan sosial dapat mendorong terjadinya perubahan sosial dengan cara-cara berikut:

  1. Menyebarkan kesadaran akan adanya masalah sosial. Gerakan sosial dapat membuat masyarakat sadar akan adanya masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Kesadaran ini dapat mendorong masyarakat untuk menuntut perubahan.
  2. Menyebarkan ide-ide baru. Gerakan sosial dapat menyebarkan ide-ide baru yang dapat mendorong terjadinya perubahan sosial. Ide-ide baru ini dapat berupa ide-ide tentang politik, ekonomi, atau budaya.
  3. Membuat tekanan pada pihak-pihak yang berwenang. Gerakan sosial dapat membuat tekanan pada pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan perubahan. Tekanan ini dapat berupa aksi demonstrasi, boikot, atau mogok kerja.

Selain itu, gerakan sosial juga berfungsi sebagai agen perubahan norma dan nilai dalam masyarakat. Mereka membantu menggiring perubahan sikap dan pandangan masyarakat terhadap isu-isu tertentu.

Sebagai contoh, gerakan lingkungan seperti Greenpeace telah berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan mendukung kebijakan yang berkelanjutan. Dengan mengubah norma dan nilai, gerakan sosial menciptakan dasar untuk perubahan struktural yang lebih besar dalam masyarakat.

Gerakan sosial bisa diidentifikasi berdasarkan sasaran, cakupan, dan pendekatan yang mereka pilih. Pertama, klasifikasi gerakan sosial dapat dilakukan berdasarkan tujuan khusus yang mereka kejar, seperti gerakan hak asasi manusia, gerakan lingkungan, atau gerakan anti-korupsi.

Setiap jenis gerakan ini memiliki fokus yang terdefinisi dengan baik dan menuntut perubahan dalam domain tertentu. Kedua, gerakan sosial dapat beroperasi pada tingkat lokal, nasional, atau bahkan internasional.

Gerakan sosial lokal mungkin berusaha menyelesaikan masalah spesifik di komunitas tertentu, sementara gerakan nasional atau internasional dapat memiliki dampak yang lebih luas, membahas isu-isu yang melibatkan lebih dari satu negara.

Ketiga, metode yang digunakan oleh gerakan sosial juga sangat bervariasi. Beberapa gerakan mungkin memilih pendekatan tanpa kekerasan, seperti kampanye penyuluhan dan advokasi, sementara yang lain mungkin mengadopsi taktik demonstrasi atau perlawanan aktif.

Keragaman metode mencerminkan kekayaan strategi yang dapat diterapkan oleh gerakan sosial sesuai dengan konteks dan tujuan yang dihadapi.          

Dalam sejarah Indonesia, gerakan sosial telah memainkan peran penting dalam mendorong terjadinya perubahan sosial.

Misalnya, gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh kaum terpelajar dan pemuda pada awal abad ke-20 telah berhasil mendorong terjadinya perubahan politik berupa kemerdekaan Indonesia. Gerakan mahasiswa yang terjadi pada tahun 1998 juga telah berhasil mendorong terjadinya perubahan politik berupa reformasi.

Berikut adalah beberapa contoh gerakan sosial yang berperan sebagai aktor perubahan sosial di Indonesia:

  • Gerakan nasionalisme (1908-1945);
  • Gerakan kemerdekaan (1945-1949);
  • Gerakan mahasiswa (1998);
  • Gerakan reformasi agraria (1998-sekarang);
  • Gerakan perempuan (1960-sekarang);
  • Gerakan lingkungan hidup (1980-sekarang).

Walaupun gerakan sosial dapat memberikan dampak positif dengan membawa perubahan, mereka juga menghadapi sejumlah hambatan dan tantangan. Salah satu hambatan utamanya adalah resistensi dari pihak yang memiliki kepentingan pada keadaan yang berlaku saat ini.

Pihak elit politik, ekonomi, atau sosial mungkin tidak bersedia merubah kebijakan atau praktik yang memberi mereka keuntungan. Untuk mengatasi resistensi ini, gerakan sosial perlu memperoleh dukungan yang luas dari masyarakat dan menciptakan momentum untuk perubahan.

Terkadang, gerakan sosial juga dapat mengalami fragmentasi internal karena perbedaan pendapat mengenai tujuan, metode, atau strategi, yang dapat melemahkan gerakan dan mengurangi dampaknya. Oleh karena itu, membangun kesatuan dan mengelola konflik internal menjadi tantangan yang harus diatasi oleh setiap gerakan sosial.

Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi informasi, kehadiran teknologi memiliki peran yang sangat signifikan dalam memperkuat gerakan sosial. Sebagai contoh, media sosial memfasilitasi penyebaran pesan gerakan dengan cepat dan efisien, mencapai khalayak yang lebih luas, serta mengumpulkan dukungan massal.

Kampanye daring menjadi alat berdaya tinggi untuk mengkoordinasikan tindakan bersama dan menggerakkan partisipasi masyarakat dalam perubahan. Meskipun demikian, peran teknologi juga berpotensi berbalik arah.

Penyebaran informasi yang tidak akurat atau disinformasi dapat dengan mudah terjadi, mengancam integritas gerakan sosial. Oleh karena itu, gerakan tersebut perlu memahami dampak teknologi secara menyeluruh dan mengelolanya dengan bijak agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Gerakan sosial memegang peran krusial sebagai aktor perubahan sosial. Mereka membawa suara kepada mereka yang tidak didengar, menyeimbangkan kekuasaan, dan membentuk norma serta nilai dalam masyarakat.

Dengan berbagai jenis, ruang lingkup, dan metode, gerakan sosial menjadi kekuatan yang dapat mendorong transformasi positif dalam masyarakat.

Meskipun dihadapkan pada tantangan dan hambatan, penggunaan teknologi dan kebijakan yang cerdas dapat menguatkan gerakan sosial dan memastikan dampak yang lebih besar dalam mewujudkan perubahan sosial yang diinginkan.

Dengan berkolaborasi, bersatu, dan beradaptasi dengan perubahan zaman, gerakan sosial dapat terus menjadi motor perubahan positif yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat secara keseluruhan.

Penulis: 

Muhammad Dzaky Riandi
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *