Dampak Keberadaan Jungholz bagi Austria dan Jerman Menurut Teori Identitas Nasional

Jungholz bagi Austria dan Jerman
Sumber foto: amproehl

Pendahuluan

Jungholz merupakan hasil dari Feodal Jerman, yang terletak pada lembah pegunungan Alpen yang dulunya merupakan lahan pertanian Jerman tetapi dijual pada pemilik baru yang kemudian menjadi bagian dari negara Austria pada tahun 1342.

Di mana lokasinya dikelilingi Jerman dan diterima sebagai fakta. Jungholz merupakan desa distrik Reutte di negara bagian Tyrol, Austria yang hanya dapat diakses melalui Jerman.

Minimya jalur penghubung seperti jalan raya ke tempat lain milik Austria menyebabkan Jungholz dimasuki ke dalam wilayah pabean Jerman sebelum Austria masuk dengan Uni Eropa pada tahun 1995.

Dalam perjanjian tahun 1844, Jerman dan Austria sepakat bahwa Jungholz akan tetap menjadi bagian dari Tyrol Austria, tetapi distrik Bavaria di Jerman di timur dan Oberallgau di barat akan memisahkannya dari wilayah Austria lainnya.

Itu sebabnya, saat ini, Jungholz adalah daerah kantong berbentuk berlian yang hanya menyentuh seluruh wilayah Austria di satu titik saja. Titik di mana Jungholz menyentuh seluruh Austria adalah puncak gunung Sorgschrofen.

Meskipun feodalisme melemah di Eropa abad pertengahan dan perbatasan modern Jerman dan Austria memperketat cengkeraman mereka di sekitar tepian Jungholz.

Pada tanggal 3 Mei 1868, sebuah perjanjian negara antara Austria dan Bavaria memasukkan wilayah pedesaan terpencil ke dalam wilayah ekonomi Jerman.

Artinya, tidak seperti wilayah Austria lainnya, Jungholz berdagang secara bebas dengan tetangga dekatnya selama hampir 90 tahun sebelumnya. Komunitas Ekonomi Eropa dibentuk dan satu abad sebelum Uni Eropa terbentuk.

Perlunya identitas nasional untuk memperkuat kesatuan negara dan rasa nasionalis yang harus dimiliki warga yang berada di Jungholz, Austria. dengan kata lain untuk menghindari perpecahan wilayah.

Pembahasan

A. Jungholz Berada di Wilayah Jerman

Jungholz merupakan sebuah kota yang memiliki keindahan alam yang dihiasi dengan Lembah Tannheimer Tal yang terhubung ke seluruh wilayah Austria. Jungholz juga sering disebut sebagai sebuah peninggalan kebudayaan yang berumur sekitar 650 tahun.

Jerman dan Austria sepakat bahwa Jungholz akan tetap menjadi bagian penting dari Tyrol Austria, yang disepakati dalam perjanjian tahun 1844, tetapi akan ada pemisahan antara distrik Bavaria di Jerman bagian timur dan Oberallgau di bagian barat dari wilayah Austria dan lainnya.

Oleh karena itu, Junghloz saat ini disebut sebagai daerah yang memiliki kantong berlian yang hanya dapat menyentuh seluruh wilayah Austria di satu titik saja. Kota Baarle-Nassau di Belanda merupakan satu-satunya wilayah di dunia yang dapat terhubung ke negaranya hanya dengan satu titik.

Titik yang menjadi jalan di wilayah Austria tersebut yaitu puncak gunung Sorgschrofen yang dinamai sebagai “titik segi empat”, tempat bertemunya antara distrik Bavaria dan Oberallgau di Jerman, serta Jungholz dan distrik Reutte di Austria.

Tetapi, untuk berada dititik tersebut hanya ada satu jalan yaitu melalui Jerman. Jungholz memiliki sebuah garis patahan yang mengukir tempat Jungholz dalam Sejarah, dan dapat ditemukan dalam arsip desa di bagian bawah kursi gantung utama.

Di tempat ini masyarakat luar dapat mengetahui bagaimana awal mula bagaimana tanah tersebut pertama kali berpindah tangan pada tanggal 24 Juni 1342, dari seorang petani dari Wertach di Jerman yaitu Hermann Häselin, hingga Heinz Lochpyler, seorang petugas pajak Austria dari dekat Tannheim.

B. Dampak Jungholz terhadap Jerman

Akibatnya, kota ini memiliki kode pos Jerman dan Austria, dan merupakan zona bebas bea cukai yang menjadi pusat keuangan yang berkembang pesat, karena status perbatasannya yang aneh menjadikannya sebagai celah dalam peraturan perbankan Jerman.

Bank-bank di sana mengelola miliaran Euro untuk warga Jerman yang menghindari pajak bunga yang lebih tinggi di negara mereka. Kota resor ski pada wilayah tersebut, dikabarkan menjadi salah satu tempat terkaya pada wilayah Eropa dalam hal keuangan.

Jungholz disebut sebagai wilayah yang tidak memiliki jalur sendiri sebagai penghubung seperti jalan raya ke tempat lain milik Austria menyebabkan Jungholz dimasukin kedalam wilayah pabean Jerman sebelum Austria masuk dengan Uni Eropa pada tahun 1995.

Dan menggunakan tanda Deutsche dari pada Schilling milik Austria sebagi mata uang sampai tahun 2002, saat euro mengambil alih. Dan kode pos dapat menggunakan kode Jerman atau Austria.

Dengan melihat hal tersebut pemerintah Jerman dan juga pemerintah Austria membuat suatu perjanjian yang mengatur teritorial mereka di mana kedua negara tersebut setuju untuk menandatangi perjanjian tersebut dengan memikirkan nasib masyarakat mereka.

Dalam seri perjanjian dan perjanjian internasional terdaftar atau diajukan dan dicatat pada Sekretariat Perserikatan Bangsa-Bangsa Jilid 1243 No. 20213 Federal Republik Jerman dan Austria mengenai persetujuan asuransi pengangguran yang ditandatangani di Vienna 19 Juli 1978 berdasar pada masyarakat Austria yang berada di wilyah Jungholz yang pada dasarnya berada di tengah Jerman.

Perjanjian tersebut disetujui bukan dengan tanpa sebab dan tidak sembarang ditandatangani. Melihat persetujuan yang memiliki beberapa komposisi mulai dari teritori, nasional, legislasi, otoritas publik yang berkompeten, perbatasan dan asuransi wilayah.

Di mana wilayah Jungholz menjadi wilayah yang masuk pada pasal tambahan yaitu Pasal 6 “Untuk tujuan penerapan skema asuransi pengangguran Austria di kotamadya Jungholz (distrik politik Reutte) dan Mittelberg (distrik politik Bregenz), otoritas Austria yang berwenang dapat memberlakukan ketentuan lebih lanjut melalui peraturan.”

C. Ancaman Jungholz bagi Austria

Dikhawatirkan adanya konflik dengan negara tetangga karena posisi Jungholz sendiri yang berada diwilayah perbatasan dengan Jerman.

Akses satu-satunya menuju Jungholz sendiri yang hanya dapat melalui Jerman mengakibatkan warga Jungholz lebih banyak melakukan aktivitas sehari-harinya dan berinteraksi di wilayah Jerman.

Jungholz merupakan wilayah yang memiliki dua kode pos yaitu Jerman dan Austria, sehingga wilayah ini menjadi zona bebas bea cukai. Selain itu, wilayah ini juga menjadi ibu kota perbankan luar negeri yang memberikan dampak keuntungan bagi investor dari Jerman.

Hal tersebut, menjadi ancaman bagi Autria dan dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik karena motif ekonomi.

Jungholz memiliki letak geografis yang aneh namun secara peta Jungholz masih menjadi bagian Austria. Meskipun masih menjadi bagian Austria, Jungholz mengakses kehidupannya lebih banyak ke Jerman seperti sekolah, mencari sumber makanan dan rumah sakit.

Seperti pada musim pandemic covid warga Jungholz mengisolasikan diri dan mencari obat alternative di Jerman hal ini menjadi ancaman bagi Jerman karena berdampak pada kepadatan penduduk yang bukan warga negarnya karena Jungholz tetap memiliki kode pos Austria dan memiliki paspor Austria hal ini menentukan bahwa Jungholz adalah warga Austria yang terkesan mengungsi ke Jerman karena lebih banyak memiliki akses ke Jerman.

Namun dalam hal ekonomi Jungholz tidak menjadi sebuah anacaman bagi Jerman tetapi malah menjadi peluang besar untuk peningkatan perekonomian Jerman karena Jungholz menjadi salah satu investor bagi Jerman dan Jungholz merupan salah satu wilayah yang memiliki perbankan dunia yang tinggi.

D. Analisis Teori

Dalam kasus ini, kami mengguakan teori identitas nasional yang menjelaskan bagaimana sebuah negara-negara dalam geopolitiknya tidak akan memiliki sebuah konflik teritorial dengan negara tetangga kecuali jika terdapat motif ekonomi dan politik.

Dalam teori ini juga menjelaskan persebaran penduduk yang melebihi lintas batas negara dapat menjadikan sumber utama konflik tersebut terjadi.

Dalam kasus ini, Jungholz yang merupakan sebuah wilayah yang masuk ke dalam kawasan Austria, namun akses untuk masuk ke Junholz hanya ada satu jalan yaitu melalui Jerman.

Persebaran penduduk yang terjadi di wilayah ini warga negara Austria yang tersebar melintasi batas negara, dimana kehidupan nya lebih banyak dilakukan di Jerman dikarenakan letak geografisnya yang aneh.

Namun, jika kita melihat dan mundur ke waktu sebelum Perang Dunia 1, Jungholz masih termasuk ke dalam wilayah Jerman yang merupakan hasil dari feudal Jerman. Akan tetapi, pasca Perang Dunia 1 Jerman menjual wilayah Jungholz dikarenakan adanya permasalahan ekonomi dan politik pada saat itu.

Austria dan Jerman sudah mencapai kesepakatan dalam perjanjian di tahun 1884 bahwa Jungholz menjadi bagian dari Tyrol Austria. Dengan letak geografis nya yang aneh menyebabkan wilayah ini memiliki kode pos Jerman dan Austria yang menjadikan wilayah tersebut bebas dari bea cukai.

Kehidupan masyarakat di Jungholz mengalami kerumitan dalam kehidupannya, bukan hanya karena letak geografis nya yang aneh tetapi juga bagaimana mereka dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Sebagian besar masyarakatnya dilahirkan dan besar di Jerman, mendapatkan pendidikan di Jerman, akses kesehatan dari Jerman, kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman berasal dari Jerman, tetapi mereka mendapatkan paspor sebagai warga Austria.

Hal tersebut lah yang menjadikan pertanyaan bahwa etnis tersebut berasal dari mana. Di Jerman, mereka tidak dianggap sebagai warga negara Jerman dan di Austria karena jarak dan letak geografisnya yang aneh mereka dibilang bukan warga negara Austria.

Sehingga wilayah ini menjadi pusat keuangan yang berkembang pesat dan memiliki kepadatan bank tertinggi di dunia karena bebas dari bea cukai dan Jungholz melakukan perdagangan bebas dengan Jerman selama hampir 90 tahun sebelumnya.

Hal tersebut lah yang menjadikan wilayah ini menjadi ibu kota perbankan luar negeri yang memberikan dampak keuntungan pajak bagi investor dari Jerman. Tahun 2008 sebagai puncak perbankan Junngholz di Desa Volksbank, Sparkasse dan Raiffesisenbank yang memiliki simpanan lebih dari €4 milliar.

Sejak saat itu, mendorong UE untuk menuntut tingkat transparansi yang lebih ketat dan adanya pengawasan yang lebih ketat untuk menghindari pajak lintas batas negara pada tahun 2014.

Hal tersebut, sebagai akhir dari Jungholz sebagai ibu kota luar negeri perbankan, milliaran investor mulai meninggalkan Jungholz dan eksodus perbankan yang terjadi secara besar-besaran mulai terjadi.

Sudah tidak ada investor, wilayah-wilayah pariwisata mulai kosong tidak ada turis dan perbankan yang mulai beralih fungsi.

Penulis: 
1. Muhammad Rizki Maulana
2. Zafira Rizkyana
3. Nur Ariawati
4. Adesty Karunia Fatma
5. Sherly Rizky Octavia
6. Charissa Adisty
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Teknologi Yogyakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *