Coba buka kolom chat kalian pada salah satu teman di Instagram, lalu baca beberapa chat teratas.
Kemungkinan besar kalian akan menemukan kata-kata seperti “santuy”, “mager”, “baper”, “kepoin”, sampai singkatan seperti “pw”, “tbl”, atau “ygy”. Bagi sebagian orang, terutama generasi yang lebih tua, deretan kata ini sering dianggap sebagai tanda bahwa bahasa Indonesia sedang “dirusak” oleh anak muda. Namun, benarkah demikian?
Kalau ditelusuri lebih dalam, anggapan itu ternyata keliru. Bahasa gaul bukan merusak bahasa Indonesia, justru sebaliknya: menyelamatkannya dari kekakuan. Bahasa baku memang penting untuk situasi formal, tetapi bahasa juga membutuhkan ruang untuk menjadi lebih luwes, akrab, dan cepat, terutama di dunia digital yang serba instan. Di situlah bahasa gaul berperan.
Bahasa Gaul Terbentuk dengan Pola, Bukan Asal-asalan
Argumen ini bukan sekadar opini kosong. Dari hasil pengamatan saya terhadap 16 chat di Instagram yang mengandung kata gaul, ditemukan bahwa kata-kata tersebut terbentuk melalui pola yang dapat dijelaskan secara sistematis, bukan muncul secara acak. Setidaknya ada lima cara pembentukannya.
Pertama, ada yang hanya mengubah bunyi akhir kata, seperti “santai” menjadi “santuy”, agar terdengar lebih akrab dan santai.
Kedua, banyak kata dibentuk dengan menggabungkan suku kata awal dari dua kata menjadi satu, misalnya “mager” dari malas gerak, “baper” dari bawa perasaan, “gercep” dari gerak cepat, “bucin” dari budak cinta, “caper” dari cari perhatian, “japri” dari jalur pribadi, “halu” dari halusinasi, dan “cogan” dari cowok ganteng.
Ketiga, ada kata seperti “kepoin”, yang berasal dari kata serapan “kepo” lalu ditambah imbuhan -in sehingga berubah menjadi kata kerja.
Keempat, ada kata yang dibentuk dari singkatan huruf awal tiap kata lalu dibaca huruf per huruf, contohnya “pw” (posisi wenak), “tbl” (takut banget loh), dan “ygy” (ya guys ya).
Kelima, ada pula istilah yang melebur menjadi satu bentuk utuh, seperti “fomo” (fear of missing out) dan “ovt” (overthinking), yaitu istilah dari bahasa Inggris yang dipendekkan agar lebih mudah diucapkan dan diketik.
Kalau bahasa gaul benar-benar “merusak”, seharusnya kata-katanya muncul tanpa pola dan berubah-ubah tanpa aturan. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Anak muda atau Generasi Z secara konsisten menggunakan mekanisme pembentukan kata yang sama untuk istilah-istilah baru, walaupun mereka tidak pernah mempelajarinya secara formal di bangku sekolah. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran berbahasa yang berkembang secara alami, bukan kekacauan.
Bahasa Gaul Menyelamatkan Komunikasi dari Kekakuan
Alasan kedua mengapa bahasa gaul justru menyelamatkan, bukan merusak, terletak pada fungsinya.
Hampir semua kata gaul yang diamati digunakan untuk menyampaikan perasaan atau sikap secara cepat, entah itu rasa malas, kagum, gemas, maupun kaget. Di media sosial, orang perlu berkomunikasi dalam hitungan detik, tetapi tetap ingin menyampaikan perasaannya secara utuh. Bahasa baku, dengan segala aturan yang panjang dan formal, sering kali terasa terlalu kaku untuk kebutuhan tersebut.
Coba bayangkan jika di kolom chat Instagram seseorang harus menulis “aku sedang malas untuk bergerak” alih-alih “mager”, atau “aku merasa sangat tersentuh secara emosional” alih-alih “baper”. Komunikasi menjadi lebih lambat, terasa berjarak, dan kehilangan keakraban yang justru menjadi ciri khas interaksi di media sosial. Bahasa gaul hadir mengisi kebutuhan tersebut: ringkas, cepat, dan tetap mampu menyampaikan emosi.
Bahasa gaul juga berfungsi sebagai penanda kedekatan sosial. Menggunakan kata seperti “gercep” atau “japri” dalam kolom chat bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga menjadi cara menunjukkan bahwa penutur dan pembaca berada dalam lingkaran pergaulan yang sama. Ini merupakan fungsi bahasa yang telah lama dikenal dalam ilmu linguistik, yaitu bahwa bahasa tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun hubungan sosial antarpenutur.
Bukan Berarti Bahasa Baku Boleh Ditinggalkan
Tentu, argumen ini bukan berarti bahasa baku sudah tidak diperlukan lagi. Ada situasi yang tetap menuntut penggunaan bahasa Indonesia formal, seperti tugas kuliah, surat resmi, atau komunikasi lintas generasi yang membutuhkan kejelasan makna. Kekhawatiran sebagian pendidik terhadap penggunaan bahasa gaul yang berlebihan di ruang formal juga perlu diperhatikan.
Namun, kekhawatiran tersebut seharusnya diarahkan pada persoalan konteks, bukan pada keberadaan bahasa gaul itu sendiri. Yang perlu ditanamkan bukan larangan menggunakan bahasa gaul, melainkan kesadaran mengenai kapan bahasa tersebut tepat digunakan dan kapan tidak. Bahasa baku dan bahasa gaul sebenarnya dapat berjalan berdampingan karena masing-masing memiliki fungsi dan tempatnya sendiri.
Penutup: Bahasa yang Hidup Adalah Bahasa yang Berubah
Dari pola pembentukan yang sistematis dan fungsi komunikasinya yang jelas, bahasa gaul terbukti bukan ancaman bagi bahasa Indonesia. Justru sebaliknya, bahasa gaul menjaga bahasa Indonesia tetap relevan dan luwes di tengah kecepatan interaksi digital yang menuntut komunikasi lebih akrab, cepat, dan ekspresif. Bahasa yang tidak pernah berubah justru berisiko ditinggalkan penuturnya, sedangkan bahasa yang terus menyesuaikan diri, seperti yang dilakukan bahasa gaul saat ini, merupakan tanda bahwa bahasa tersebut masih hidup dan digunakan sepenuh hati oleh penuturnya.
Jadi, alih-alih menyalahkan bahasa gaul seperti “santuy”, “mager”, dan “ygy” sebagai perusak bahasa Indonesia, mungkin sudah saatnya kita melihatnya sebagai bagian dari perjalanan panjang bahasa Indonesia dalam menyesuaikan diri dengan zaman, sekaligus bukti bahwa generasi muda memiliki cara sendiri untuk mencintai dan merawat bahasanya.

Penulis: Lilis Dwi Nurhayati
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Moderen, Universitas Muhammadiyah Malang
Dosen Pengampu: Dr. Hari Windu Asrini, M.Si.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi













