1. Perencanaan Supervisi Akademik
Perencanaan supervisi akademik di MTs Mardhotillah mencerminkan adanya komitmen kelembagaan terhadap pengelolaan pendidikan yang tertata dan berorientasi pada tujuan.
Penyusunan jadwal resmi serta penetapan sasaran supervisi menunjukkan bahwa kepala madrasah telah melaksanakan fungsi manajerialnya secara sistematis dan terorganisir.
Dalam kajian manajemen pendidikan, perencanaan yang terstruktur merupakan prasyarat utama agar supervisi tidak sekadar menjadi aktivitas rutin administratif, melainkan benar-benar berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran.
Dokumentasi melalui surat keputusan dan jadwal pelaksanaan dapat dipahami sebagai wujud tanggung jawab institusi dalam menjaga akuntabilitas dan profesionalitas kerja.
Akan tetapi, apabila dikaitkan dengan visi “Madrasah Berkarakter Ulul Albab”, perencanaan supervisi semestinya melampaui aspek administratif seperti kelengkapan perangkat pembelajaran.
Visi tersebut mengandung muatan filosofis yang menekankan keseimbangan antara dimensi intelektual, spiritual, dan moral.
Oleh sebab itu, rancangan supervisi perlu memasukkan tolok ukur yang mampu menilai sejauh mana guru mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, pembinaan akhlak, serta penguatan karakter dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Tanpa orientasi tersebut, supervisi berisiko tereduksi menjadi mekanisme pengawasan administratif yang kurang menyentuh substansi pembentukan karakter peserta didik.
Di samping itu, terdapat sejumlah aspek yang perlu dikaji secara kritis. Pelaksanaan supervisi yang bersifat tahunan cenderung menunjukkan pendekatan formal dan belum sepenuhnya responsif terhadap kebutuhan riil guru.
Idealnya, perencanaan disusun berdasarkan analisis kebutuhan sehingga program pembinaan lebih relevan dengan persoalan yang dihadapi di kelas.
Selain itu, ketiadaan indikator keberhasilan yang terukur, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, menyulitkan evaluasi efektivitas supervisi terhadap peningkatan profesionalisme guru dan mutu pembelajaran.
Pendekatan yang masih dominan dari atas ke bawah juga berpotensi membatasi ruang refleksi dan partisipasi guru dalam proses perencanaan.
Padahal, supervisi yang efektif memerlukan dialog dan kolaborasi agar tercipta komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Dengan demikian, meskipun perencanaan supervisi akademik di MTs Mardhotillah telah menunjukkan tata kelola yang cukup baik secara administratif, penguatan pada aspek partisipatif, berbasis kebutuhan, dan didukung indikator yang jelas akan membuatnya lebih kontekstual serta selaras dengan cita-cita madrasah dalam membentuk insan berkarakter Ulul Albab.
Baca Juga: Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter pada Pendidikan Dasar
2. Pelaksanaan Supervisi Akademik
Pelaksanaan supervisi akademik yang dilakukan melalui kunjungan kelas, baik secara perseorangan maupun bersama-sama, serta dilengkapi dengan kegiatan observasi sebelum dan setelah proses pembelajaran, memperlihatkan adanya langkah terencana dalam menjaga mutu kegiatan belajar mengajar.
Secara teoretis, pola tersebut sejalan dengan pendekatan supervisi modern yang menempatkan fungsi pendampingan profesional lebih utama dibanding sekadar kontrol administratif.
Dalam kerangka ini, supervisi dipahami sebagai sarana pengembangan kapasitas guru melalui proses refleksi, dialog, dan pemberian umpan balik yang membangun, bukan sebagai upaya mencari kesalahan.
Pada praktiknya di MTs Mardhotillah, supervisi yang membuka ruang komunikasi dua arah antara kepala madrasah dan guru menunjukkan kecenderungan pendekatan yang komunikatif dan kolaboratif.
Guru diberi kesempatan untuk mengemukakan pengalaman, hambatan, maupun kebutuhan yang dihadapi selama pembelajaran berlangsung.
Interaksi yang bersifat terbuka seperti ini berkontribusi pada terciptanya suasana profesional yang lebih sehat, karena keberhasilan supervisi sangat dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang saling menghargai.
Ketika supervisi dilandasi rasa percaya dan pengakuan atas profesionalitas guru, proses perbaikan pembelajaran cenderung berlangsung lebih efektif dan berkelanjutan.
Meski demikian, dinamika pelaksanaan supervisi tidak terlepas dari aspek psikologis.
Kehadiran supervisor di dalam kelas dapat menimbulkan ketegangan tertentu, terutama jika supervisi masih dimaknai sebagai instrumen evaluasi formal yang berimplikasi pada penilaian kinerja.
Apabila tidak dikelola dengan pendekatan yang empatik dan komunikatif, supervisi berisiko dipersepsikan sebagai bentuk pengawasan yang menekan, bukan sebagai pembinaan.
Oleh sebab itu, kompetensi komunikasi dan kepekaan emosional pimpinan madrasah menjadi elemen penting dalam menjaga esensi supervisi sebagai proses pengembangan profesional.
Selain itu, beberapa hal masih memerlukan penguatan. Frekuensi dan pemerataan supervisi belum tergambar secara jelas, sehingga belum dapat dipastikan bahwa seluruh guru memperoleh pembinaan secara proporsional.
Dokumentasi hasil supervisi juga tampak belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital yang dapat mendukung pencatatan dan analisis data secara lebih sistematis.
Di samping itu, penilaian pelaksanaan supervisi masih lebih berorientasi pada kinerja guru, sementara tingkat partisipasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran belum menjadi tolok ukur utama.
Secara keseluruhan, meskipun pelaksanaan supervisi akademik di MTs Mardhotillah telah menunjukkan arah yang konstruktif dan dialogis, penguatan dalam aspek pemerataan, digitalisasi dokumentasi, serta fokus pada dampak pembelajaran terhadap siswa akan semakin meningkatkan efektivitasnya dalam mendorong mutu pendidikan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Cara Menjadi Siswa yang Berprestasi: Panduan Praktis untuk Sukses Akademik
3. Evaluasi dan Tindak Lanjut Supervisi
Tahapan evaluasi dalam supervisi akademik di MTs Mardhotillah yang diwujudkan melalui kegiatan berbagi pengalaman, dialog interaktif, serta pembinaan lanjutan seperti seminar, memperlihatkan adanya upaya serius untuk menempatkan supervisi sebagai proses yang berkesinambungan.
Model ini menjadi nilai lebih karena pelaksanaan supervisi tidak berhenti pada observasi pembelajaran saja.
Dalam realitas di sejumlah lembaga pendidikan, supervisi kerap selesai pada tahap pemberian catatan hasil pengamatan tanpa diikuti langkah perbaikan yang terarah.
Oleh sebab itu, keberadaan forum refleksi dan tindak lanjut pembinaan di MTs Mardhotillah menunjukkan komitmen institusi dalam memanfaatkan supervisi sebagai sarana penguatan kapasitas profesional guru.
Pendekatan pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan mengindikasikan bahwa supervisi dipahami sebagai bagian dari proses peningkatan mutu yang berlangsung terus-menerus, bukan sekadar evaluasi sesaat.
Melalui forum diskusi dan kegiatan ilmiah, guru memperoleh kesempatan untuk memperdalam kompetensi pedagogis, saling bertukar pengalaman, serta menelaah kembali berbagai tantangan yang muncul dalam praktik pembelajaran.
Dampak positifnya dapat tercermin pada meningkatnya kualitas profesional guru, baik dari segi kematangan pengalaman mengajar, konsistensi komitmen, maupun kreativitas dalam mengembangkan strategi pembelajaran.
Dengan demikian, evaluasi yang diikuti pembinaan berpotensi membangun budaya belajar di kalangan pendidik.
Meskipun demikian, keberhasilan tahap evaluasi sangat ditentukan oleh kesinambungan program tindak lanjut.
Jika pembinaan dilakukan secara insidental tanpa arah yang jelas, maka pengaruhnya cenderung kurang optimal.
Evaluasi yang efektif seharusnya tidak hanya menghasilkan refleksi, tetapi juga melahirkan rencana aksi yang konkret, sasaran yang terukur, serta mekanisme pemantauan yang terjadwal.
Beberapa hal juga masih memerlukan penguatan. Belum adanya data kuantitatif yang memperlihatkan perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan setelah supervisi menjadi kendala dalam menilai dampak nyata program tersebut.
Selain itu, evaluasi yang masih dominan deskriptif dan belum berbasis indikator kinerja utama membuat pengukuran keberhasilan kurang sistematis.
Di samping itu, belum tampak program pendampingan khusus bagi guru yang secara konsisten menunjukkan performa rendah, padahal mentoring individual dapat menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kompetensi secara lebih terarah.
Secara umum, evaluasi supervisi di MTs Mardhotillah telah bergerak ke arah yang konstruktif dan pembinaan yang berorientasi pada pengembangan.
Namun, penguatan melalui sistem pengukuran berbasis data, indikator kinerja yang jelas, serta pendampingan terstruktur akan semakin menegaskan peran supervisi sebagai instrumen penting dalam peningkatan mutu pendidikan.
Baca Juga: Mewujudkan Kembali Nilai-Nilai Karakter di Sekolah Dasar
4. Dampak Supervisi terhadap Profesionalisme Guru
Secara umum, pelaksanaan supervisi akademik di MTs Mardhotillah menunjukkan dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan profesionalisme guru.
Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya kedisiplinan dalam menyusun perangkat pembelajaran, kesiapan materi sebelum mengajar, serta keseriusan dalam menjalankan proses pembelajaran di kelas.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa supervisi tidak hanya dijalankan sebagai rutinitas administratif, tetapi berpengaruh pada pembentukan etos kerja dan tanggung jawab profesional pendidik.
Dalam kerangka manajemen pendidikan, supervisi memang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai instrumen pengendalian mutu sekaligus sarana pembinaan untuk menjaga konsistensi standar pembelajaran.
Di sisi lain, capaian tersebut juga berkaitan erat dengan karakter lingkungan madrasah yang religius.
Nuansa keagamaan yang kuat di lingkungan sekolah berkontribusi dalam membangun integritas dan kesadaran moral guru.
Nilai-nilai spiritual yang hidup dalam kultur lembaga mendorong guru untuk menjalankan tugas secara amanah dan penuh tanggung jawab.
Dengan demikian, supervisi tidak dipahami semata-mata sebagai tekanan struktural dari pimpinan, melainkan sebagai bagian dari komitmen moral dan etika profesi.
Sinergi antara sistem supervisi yang terstruktur dan kultur religius yang mengakar menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas kinerja guru.
Meski demikian, ukuran profesionalisme tidak dapat dibatasi pada aspek kepatuhan administratif atau keteraturan mengikuti jadwal supervisi.
Profesionalisme yang hakiki justru tampak pada kemampuan guru menciptakan pembelajaran yang inovatif, menyesuaikan metode dengan karakteristik peserta didik, serta menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna.
Jika profesionalisme hanya dilihat dari kelengkapan dokumen dan ketertiban prosedural, maka maknanya menjadi sempit dan kurang menyentuh substansi pedagogis.
Beberapa hal masih perlu diperkuat. Peningkatan yang terjadi cenderung lebih terlihat pada aspek administrasi dibanding pembaruan strategi pembelajaran yang kreatif.
Selain itu, belum semua guru memaksimalkan penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar, padahal penguasaan teknologi merupakan kebutuhan mendasar dalam pendidikan kontemporer.
Supervisi juga belum sepenuhnya mendorong berkembangnya penelitian tindakan kelas sebagai tradisi akademik di madrasah.
Padahal, melalui PTK, guru dapat melakukan refleksi ilmiah dan perbaikan pembelajaran secara sistematis dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, meskipun supervisi di MTs Mardhotillah telah memberikan kontribusi positif terhadap profesionalisme guru, penguatan pada aspek inovasi pedagogis, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan budaya riset akan semakin memperdalam makna profesionalisme yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh.
Baca Juga: Cara Mahasiswa Universitas Quality Menjadi Guru yang Akan Dirindukan Peserta Didik
5. Dampak Supervisi terhadap Kualitas Pembelajaran
Perbaikan mutu pembelajaran di MTs Mardhotillah tampak dari sejumlah indikator yang dapat diamati secara langsung, antara lain meningkatnya kualitas interaksi antara guru dan peserta didik, kesiapan guru dalam menyampaikan materi, serta terciptanya iklim kelas yang lebih tertata dan mendukung proses belajar.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa supervisi akademik tidak berhenti pada tataran perencanaan atau pemenuhan administrasi semata, melainkan berimplikasi pada praktik nyata di ruang kelas.
Supervisi yang dilaksanakan secara terarah mendorong guru untuk mempersiapkan pembelajaran dengan lebih matang, sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung secara sistematis dan komunikatif.
Walaupun demikian, evaluasi terhadap kualitas pembelajaran tidak selayaknya hanya bersandar pada penilaian internal lembaga atau hasil pengamatan supervisor.
Hakikat kualitas pembelajaran mencakup berbagai dimensi yang berkaitan erat dengan pengalaman belajar peserta didik.
Oleh sebab itu, ukuran seperti tingkat kepuasan siswa, keterlibatan aktif dalam proses diskusi, capaian akademik dalam jangka panjang, serta kemampuan berpikir kritis perlu dijadikan bagian integral dari proses evaluasi.
Tanpa melibatkan sudut pandang siswa sebagai pihak yang mengalami langsung proses pembelajaran, penilaian mutu berpotensi menjadi kurang utuh dan tidak menyentuh keseluruhan aspek yang relevan.
Apabila supervisi hanya berorientasi pada kepatuhan terhadap standar prosedural—misalnya kelengkapan dokumen, kesesuaian langkah pembelajaran, dan disiplin pelaksanaan—maka peningkatan yang terlihat bisa bersifat administratif semata.
Secara formal pembelajaran mungkin tampak berjalan sesuai aturan, tetapi belum tentu berdampak signifikan terhadap perkembangan kompetensi siswa.
Kualitas pembelajaran yang sesungguhnya tercermin dari kemampuan siswa membangun pemahaman secara mandiri, mengasah daya kritis, serta mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi nyata.
Masih terdapat beberapa hal yang memerlukan perhatian. Belum tersedianya instrumen survei kepuasan siswa yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi salah satu keterbatasan dalam mengukur persepsi mereka.
Selain itu, evaluasi mutu pembelajaran belum didukung oleh data longitudinal yang memungkinkan analisis perkembangan hasil belajar secara komprehensif dari waktu ke waktu.
Supervisi juga belum sepenuhnya mengintegrasikan pendekatan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.
Dengan demikian, meskipun supervisi di MTs Mardhotillah telah berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan pada evaluasi berbasis data, pelibatan suara siswa, dan penerapan paradigma pembelajaran modern akan semakin memastikan bahwa peningkatan mutu yang dicapai bersifat mendalam dan berkesinambungan.
Penulis:
1. Muhammad Usman
2. Nafiroh Farhatutsani
3. Paharudin
4. Ahmad Zaidan Sahrony
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Dosen Pengampu: Dr. Sarwedah, S.Si., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi













