Lunturnya Budaya Tata Krama di Era Milenial

Tata Krama
Tata Krama.

Tata karma penting untuk diajarkan kepada setiap generasi, sebab berkaitan dengan sikap dan perilaku saat berinteraksi dengan orang lain. Tata krama sendiri adalah sebuah perilaku baik, yang mana perilaku itu berhubungan dengan karakter seseorang.

Tata krama terdiri dari kata “tata” dan “krama”,  tata berarti aturan dan krama yang berarti baik, sehingga tata krama itu suatu aturan yang baik. Namun ada juga pengertian tata krama lainya yaitu suatu sikap yang digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua.

Kehidupan sekarang banyak generasi milenial yang lupa akan budaya tata krama dalam bermasyarakat baik di real life ataupun virtual life. Menurunnya tatanan tata krama dalam bermasyarakat sangat terasa efeknya.

Banyak orang-orang di generasi ini tidak lagi menggunakan budaya tata krama, dan mereka lebih memilih memakai budaya lain untuk berinteraksi.

Padahal sebagai masyarakat yang kaya akan budaya harus bisa melestarikan sebuah budaya yang dimiliki, salah satunya budaya tata krama yang mana lama kelamaan hanya menjadi sebuah cerita.

Lunturnya budaya tata krama di Indonesia sangat terasa, hal ini diakibatkan oleh masuknya pengaruh-pengaruh bangsa asing seperti gaya bahasa, gaya hidup, gaya perilaku, dan gaya penampilan, sehingga para generasi milenial menirukan gaya mereka yang sangat tidak sesuai dengan tata krama bangsa Indonesia.

Gaya hidup itu membawa dampak buruk dalam kehidupan. Para generasi milenial tidak peduli dampak apa yang akan mereka alami nantinya, mereka lebih memilih hidup bebas dengan mengedepankan keinginan dan kesukaan tanpa memandang apakah itu baik atau buruk.

Narkoba, hidup bebas, kecanduan game, berpakaian yang tidak senonoh, dan seks bebas merupakan contoh dari dampaknya.

Contoh yang paling dominan digunakan adalah gaya bahasa, banyak dari mereka menggunakan tutur kata yang tidak sepantasnya, dan itu sudah menjadi kebiasaan bagi generasi muda.

Bahasa atau tutur kata yang digunakan sangat tidak patut dan mereka dengan bangganya mengatakan hal buruk tersebut berulang kali bahkan sudah melekat dalam bahasa mereka sehari-hari. Hal ini merupakan dampak nyata dari gaya hidup bebas tanpa tata krama.

Lunturnya budaya tata krama di Indonesia sangat membawa dampak buruk bagi generasi saat ini. Kita kehilangan gaya hidup dan gaya berbicara yang baik, Jika seperti ini generasi kita akan tinggal namanya saja.

Karena saat ini para penerus bangsa sudah tidak lagi mau menjunjung nilai budaya tata krama, yang mana sejak dahulu kala dijadikan sebagai kebiasaan (tradisi). Kebanyakkan dari mereka menganggapnya hal yang kuno atau kampungan kalau memakai budaya yang dulunya menjadi ciri khas bangsa. 

Jika hal ini dibiarkan bangsa Indonesia akan mudah terpecah belah sehingga budaya-budaya asing gampang masuk dan mempengaruhi para generasi selanjutnya.

Hal sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu remaja memelihara tata krama di antaranya memberi contoh secara langsung melalui perilaku.

Misalnya di saat kita memerlukan bantuan kepada anak kecil, ucapkanlah kata “tolong” dan sudahi dengan mengucapkan “terima kasih” meskipun kepada anak kecil yang usia dan statusnya jauh di bawah kita.

Hal ini akan membuat mereka merasa dihargai sehingga nantinya ia akan belajar bagaimana caranya menghargai orang lain.

Bila kita tahu ketika seorang anak kecil ingin memberikan sebuah pendapat, maka dengarkanlah ketika mereka memberikan pendapatnya. Hargai secara positif argumen dan pendapatnya, meskipun ada hal yang masih belum tepat.

Mereka akan belajar bahwa apapun pendapat orang lain harus dihargai meskipun bertentangan dengan pandangan kita dan mereka juga akan berfikir bahwa sangat penting untuk tetap menghargai dan bersikap sopan terhadap orang lain.

Berikan juga pemahaman mengapa kita harus bersikap dan berperilaku demikian, sehingga mereka dapat memahami alasan mengapa kita harus menjaga nilai-nilai kesopanan.

Sehingga nantinya mereka akan berfikir bahwa tata krama haruslah dilakukan terhadap siapa saja tanpa memandang apakah usianya lebih tua atau lebih muda, statusnya apakah lebih tinggi atau rendah, dimanapun kita berada dan dalam situasi apapun.

Berikanlah kesempatan bagi anak untuk mempelajari nilai-nilai kesopanan yang bermanfaat dalam membantu mereka tumbuh untuk bermasyarakat di lingkungan sosial.

Contoh ini akan menjadi kesempatan bagi generasi untuk dapat belajar secara langsung dalam menghargai pendapat saudara, teman, serta orang lain yang mungkin akan ditemuinya di masa mendatang.

Pada dasarnya tata krama perlu dilakukan terhadap siapapun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Tidak hanya terhadap orangtua, anggota keluarga, guru, di rumah, di sekolah atau hanya dengan orang-orang yang dikenal kita bersikap sopan santun, namun  tata krama juga harus dilakukan di lingkungan sosial.

Ketika kita bermasyarakat dan berbaur di lingkungan sosial kita perlu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan nilai-nilai yang melekat di lingkungan tersebut.

Selama kita berada di Indonesia maka kita perlu menyesuaikan diri dengan bersikap santun sesuai dengan apa yang  menjadi nilai-nilai bermasyarakat di Indonesia.

Dengan mengikuti budaya, sudah sepatutnya kita menjaga nilai kesopanan dengan aturan dan batasan yang sudah melekat dalam lingkungan sosial masyarakat Indonesia.

Kita juga harus melihat apakah diri kita sudah lebih baik dari orang-orang atau belum, sehingga kita tidak sungkan untuk memberi contoh kepada orang lain. Berikut cara ketika diri kita merasa kurang dalam bertata krama:

  1. Taat kepada Tuhan;
  2. Intropeksi diri;
  3. Meningkatkan rasa percaya diri;
  4. Tetap tenang jangan terbawa emosi;
  5. Meminta bantuan orang lain;
  6. Tetap elegan atau cuek aja;
  7. Memperbaiki diri perlahan;
  8. Mengurangi sediki demi sedikit kebiasaan buruk;
  9. Abaikan saja jika dihina orang;
  10. Meminta bimbingan orang yang lebih baik dari kita.

Mulailah dari diri kita sendiri dengan memberi contoh yang baik sebagai sarana belajar bagi anak-anak dan khususnya para remaja untuk bersikap sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena kalau bukan dari kita yang mulai siapa lagi?

Penulis:

Yassirly Amry
Mahasiswa Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *