Proses Mental atau Gejala Jiwa dalam Psikologi Pendidikan

Psikologi Pendidikan
Ilustrasi Psikologi Pendidikan (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Psikologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari proses mental dan perilaku manusia. Perilaku manusia akan mudah dipahami apabila kita juga dapat memahami proses mental yang mendasari perilaku siswa tersebut. Proses mental sering disebut dengan gejala jiwa [1].

Gejala jiwa pada manusia tampak pada perilakunya. Hal ini sangat mendasar dan sangat mempengaruhi berbagai perilaku manusia. Di dalam lingkungan pendidikan, gejala jiwa tidak hanya diperuntukkan untuk siswa saja, namun juga bagi seorang pendidik atau guru.

Untuk mengetahui proses mental atau gejala jiwa pada manusia, terutama di dunia pendidikan dapat berupa:

1. Pengamatan

Pengamatan merupakan usaha manusia untuk mengenal dunia nyata dengan cara melihat, mendengar, membau, meraba, atau mengecapnya.

Cara mereka mengenal objek disebut mengamati, sedangkan melihat, mendengar,dll merupakan modalitas pengamatan. Terdapat aspek pengaturan yaitu pengaturan menurut sudut pandang ruang, waktu, gestalt, dan arti.

2. Tanggapan

Tanggapan didefinisikan sebagai bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan terhadap suatu objek [2].

Jadi, setelah melakukan pengamatan, proses selanjutnya adalah bayangan penggiring, bayangan eidetic, kemudian tanggapan.

Bayangan penggiring merupakan bayangan yang muncul setelah kita melihat suatu warna [3] (sekilas). Bayangan eidetik merupakan bayangan yang terang dan jelas.

3. Fantasi

Fantasi merupakan kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan baru, dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Tanggapan yang baru (fantasi) tidak harus sama dengan benda-benda yang ada.

4. Perhatian

Perhatian didefinisikan sebagai pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditunjukkan kepada sesuatu atau sekumpulan objek [4].

Suatu hal yang menarik perhatian dapat dipandang dari dua segi, yaitu segi objek (luar dari konteks) dan segi subjek (di dalam konteks itu sendiri, misalnya: kebutuhan, kegemaran, sejarah hidup, dan lain-lainnya).

5. Ingatan

Ingatan didefinisikan sebagai kemampuan untuk memasukkan, menyimpan, dan mengingat kembali pesan-pesan [5].

Tahapannya yaitu: memasukkan dalam ingatan, mempertahankan dalam ingatan, dan memperoleh ingatan dapat dimasukkan dengan cara tidak sengaja dan atau sengaja.

6. Berpikir

Berpikir dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang menghasilkan representasi mental yang baru, melalui transformasi informasi yang melibatkan interaksi secara kompleks, antara proses-proses mental, seperti: penilaian, abstraksi, penalaran, imajinasi, dan pemecahan masalah [6].

7. Inteligensi

Inteligensi merupakan daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya [7].

Intelegensi adalah kemampuan yang mengendalikan aktivitas-aktivitas dengan ciri-ciri sukar, kompleks, abstrak, tepat, bertujuan, bernilai sosial dan menampakkan adanya keaslian serta kemampuan untuk mempertahankan kegiatan-kegiatan seperti itu dalam kondisi yang memerlukan energi dan berlawanan dengan kekuatan emosional [8].

Pernyataan di atas merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mengetahui gejala jiwa pada manusia. Dengan kata lain, hal ini merupakan proses mental. Terdapat beberapa permasalahan mental pada manusia, salah satunya ialah masalah mental emosional.

Masalah mental emosional merupakan suatu keadaan yang dialami oleh individu ditandai dengan perubahan nasional dan apabila berkelanjutan akan berkembang menjadi keadaan biologis.

World health organization (WHO,2018) menyatakan prevalensi orang dengan gangguan mental emosional di dunia dalam rentan usia 10-19 tahun, kondisi kesehatan mental mencangkup 16% dari beban penyakit dan cedera global.

Dengan demikian, kesehatan mental harus dijaga dan dirawat semaksimal mungkin agar tidak terjadi gangguan mental. Apabila kesehatan mental terganggu, akibatnya akan membuat kehidupan menjadi kurang nyaman, seperti gampang stress, lelah, dan bosan.

Seseorang yang bisa disebut atau dikategorikan sehat secara mental apabila orang tersebut terhindar atau tidak megalami gejala-gejala gangguan jiwa atau neurosis dan penyakit psikosis.

Kesehatan mental sangat penting untuk menunjang produktivitas dan kualitas kesehatan fisik. Gangguan mental atau kejiwaan bisa dialami oleh siapa saja, tanpa memandang usia. Mulai dari anak-anak hingga usia dewasa.

Di dalam dunia pendidikan, kesehatan mental sangatlah penting. Perlu dijadikan perhatian khusus karena melihat banyaknya kasus-kasus yang terjadi di Indonesia, contohnya seperti kasus bunuh diri.

Hal tersebut perlu dijadikan PR untuk para orang tua agar lebih memberikan perhatian kepada anak-anaknya.

Upaya yang dapat dilakukan para orang tua, salah satunya dengan mencoba proses mental atau gejala jiwa kepada anaknya, untuk membentuk mental anak. Tidak hanya orang tua, tenaga pendidik juga dapat menerapkannya di lingkungan sekolah, dengan observasi ke peserta didik menggunakan proses mental ini.

Penulis: Rashifa Farah Murniawati
Mahasiswa Pendidikan Guru Sekokah Dasar, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi

[1] Tim FKIP UMS

[2] Monks,dkk.(2006)

[3] Desmita.(2011)

[4] Monk. (2006)

[5] Papalia, Old dan Feldman. (2009)

[6] Papalia, Old dan Feldman. (2009)

[7] Long, martyn. (2011)

[8] GD Stoddard (dalam Crow & Crow). (1984)

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *