Menggugat Pengakuan Maladaptive Daydreaming dalam Manual Psikiatri

maladaptive daydreaming itu apa
Menggugat Pengakuan Maladaptive Daydreaming dalam Manual Psikiatri. Sumber: MMI.

Pernahkah Anda merasa seolah-olah tersedot begitu dalam ke dalam lubang kelinci imajinasi hingga dunia nyata terasa seperti panggung yang asing? Fenomena ini bukan sekadar lamunan siang bolong biasa, melainkan kondisi pelik yang dikenal sebagai maladaptive daydreaming (MD).

Dalam jagat psikologi klinis, MD mulai mencuri perhatian karena efeknya yang nyata dalam merusak ritme hidup seseorang. Sayangnya, hingga detik ini, MD masih absen dari buku panduan resmi seperti DSM atau ICD yang menjadi standar diagnosis global.

Esai ini berargumen bahwa MD harus segera diakui sebagai gangguan disosiatif karena memiliki gejala klinis yang unik, dampak fungsi hidup yang berat, serta tidak bisa begitu saja ‘dititipkan’ pada diagnosis gangguan lain yang sudah ada.

Bayangkan sebuah aktivitas mental yang awalnya terasa manis, namun perlahan berubah menjadi sebuah penjara yang mengurung kebebasan sosial Anda. Secara konseptual, MD adalah pelarian imajiner yang sangat intens sehingga mampu menggantikan interaksi manusia yang sesungguhnya.

Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Somer untuk menggambarkan fantasi kompulsif yang menghambat pencapaian akademik, karier, hingga hubungan personal. Berbeda dengan lamunan kreatif yang memberi energi, MD justru bersifat candu atau adiktif dan sering kali mustahil untuk dihentikan begitu saja oleh penderitanya.

Ketika seseorang lebih memilih menetap di dunia khayalan daripada menghadapi realitas, di situlah letak penyimpangan fungsi psikologis yang memerlukan intervensi serius.

Dampak yang ditimbulkan oleh ‘kecanduan berkhayal’ ini ternyata jauh melampaui sekadar hilangnya fokus atau produktivitas sesaat. Berbagai studi terbaru menunjukkan bahwa MD memiliki kaitan erat dengan gangguan mental lain seperti depresi berat, kecemasan, hingga perilaku obsesif.

Rasa kesepian yang kronis dan harga diri yang rendah sering kali menjadi akar sekaligus buah dari kebiasaan berkhayal yang tak terkendali ini. Temuan-temuan tersebut membuktikan bahwa MD bukanlah sekadar fenomena ringan, melainkan bagian dari spektrum psikopatologi yang kompleks.

Dengan pola komorbiditas yang begitu nyata, sangat masuk akal jika MD diberikan legitimasi hukum sebagai gangguan klinis yang mandiri.

Salah satu alasan terkuat mengapa MD harus dikategorikan sebagai gangguan disosiatif adalah adanya keterputusan kesadaran yang sangat tajam dengan lingkungan sekitar. Para pelaku MD sering kali merasa seolah-olah mereka sedang menjalani dua kehidupan yang berjalan secara paralel namun saling bertabrakan.

Mereka bisa kehilangan kontak dengan persepsi realitas saat sedang asyik merajut skenario di dalam kepala mereka sendiri. Hal ini mencerminkan karakteristik utama disosiasi, yaitu hilangnya integrasi antara kesadaran, identitas, dan tindakan fisik secara utuh.

Baca Juga: Proses Mental atau Gejala Jiwa dalam Psikologi Pendidikan

Aktivitas fisik yang menyertai, seperti mondar-mandir atau berbicara sendiri, semakin mempertegas bahwa pikiran mereka telah ‘pergi’ meninggalkan raga di dunia nyata.

Mengelompokkan MD ke dalam kotak diagnosis yang sudah ada seperti ADHD atau OCD sering kali terasa seperti memaksakan kepingan puzzle yang salah. Meskipun ada kemiripan dalam hal kurangnya konsentrasi atau dorongan berulang, MD memiliki esensi yang sangat berbeda dengan gangguan-gangguan tersebut.

Sebagai contoh, penderita OCD melakukan ritual untuk meredakan kecemasan, sementara pelaku MD justru mendapat kepuasan instan dari fantasi mereka. MD juga bukan merupakan bagian dari skizofrenia karena pelakunya masih sadar sepenuhnya bahwa dunia khayalan itu tidak nyata.

Ketidaksamaan inilah yang menunjukkan bahwa MD adalah entitas unik yang memerlukan klasifikasi tersendiri agar tidak terjadi salah diagnosis.

Tanpa adanya pengakuan formal di atas kertas, jutaan orang yang terjebak dalam MD akan terus berjuang sendirian tanpa bantuan medis yang memadai. Banyak individu yang mencari bantuan profesional justru mendapatkan saran yang tidak nyambung karena terapis mereka belum mengenal istilah MD.

Kurangnya klasifikasi resmi menghambat efektivitas terapi karena tidak ada protokol khusus yang menargetkan akar masalah khayalan kompulsif ini.

Baca Juga: Psikologi Tokoh Zira dalam Novel 172 Days Aku Ikhlas tapi Aku Rindu

Padahal, alat ukur seperti skala MDS-16 sudah terbukti efektif dalam memetakan tingkat keparahan kondisi seseorang jika digunakan secara luas. Pengakuan resmi akan membuka pintu bagi riset yang lebih dalam dan pengembangan terapi berbasis bukti yang jauh lebih akurat.

Pada akhirnya, desakan untuk mengakui maladaptive daydreaming sebagai gangguan resmi bukan hanya soal urusan akademis, melainkan tentang rasa kemanusiaan bagi mereka yang menderita dalam diam.

MD telah terbukti secara ilmiah mampu melumpuhkan kualitas hidup seseorang dan memiliki ciri klinis yang konsisten di berbagai belahan dunia. Selama gangguan ini belum tertulis dalam manual psikiatri, para penderitanya akan terus terabaikan dan dianggap hanya sekadar ‘pemimpi’ yang kurang disiplin.

Langkah paling bijak tentu saja ialah tidak lantas sepenuhnya menyalahkan ketidakmampuan penderita, melainkan memberikan narasi medis yang tepat. Dengan cara ini, mereka yang tersesat dalam dunia fantasinya bisa kembali menemukan jalan pulang menuju kehidupan yang nyata dan fungsional.


Penulis: Annisa Is’adiah Arifin
Mahasiswa Kedokteran Universitas Yarsi


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi:

Soffer-Dudek, N., Somer, E., Spiegel, D., Chefetz, R., O’Neil, J., Dorahy, M. J., Cardeña, E., Mamah, D., Schimmenti, A., & Musetti, A. (2025). Maladaptive daydreaming should be included as a dissociative disorder in psychiatric manuals: Position paper. The British Journal of Psychiatry, 226(4). https://doi.org/10.1192/bjp.2025.26

Somer, E., Herscu, O., Samara, M., & Abu-Rayya, H. M. (2025). Maladaptive daydreaming and psychopathology: A meta-analysis. International Journal of Psychology, 60(2), e70027. https://doi.org/10.1002/ijop.70027

Sitoresmi, F. R., & Andriani, F. (2024). Adaptasi Maladaptive Daydreaming Scale (MDS-16) versi Indonesia. Departemen Psikologi Klinis & Kesehatan Mental, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. https://repository.unair.ac.id/135259/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *