Mitos mengenai larangan menyapu rumah pada malam hari dianggap dapat “membuang rezeki” masih ditemukan dalam berbagai budaya di Indonesia. Artikel ini membahas asal-usul mitos tersebut, makna simbolisnya dalam konteks sosial-budaya, serta analisis ilmiah mengenai validitas kepercayaan tersebut.
Kajian menunjukkan bahwa mitos tersebut berakar pada kondisi sosial dan teknologi masa lampau, terutama terkait keamanan dan efektivitas penerangan, bukan pada aspek metafisik rezeki.
Dalam masyarakat tradisional Indonesia, mitos sering digunakan sebagai mekanisme pengendalian sosial. Salah satu mitos yang populer adalah larangan menyapu pada malam hari karena dipercaya dapat menghilangkan rezeki. Meski tidak memiliki dasar ilmiah, mitos ini masih bertahan hingga kini. Artikel ini bertujuan menjelaskan latar belakang dan rasionalitas budaya di balik kepercayaan tersebut.
Asal-Usul Mitos
Pada masa lalu, sebelum adanya listrik, penerangan rumah sangat terbatas dan hanya mengandalkan lampu minyak atau obor. Kondisi lingkungan yang gelap menyebabkan aktivitas menyapu malam hari berisiko tinggi, antara lain:
- Hilangnya benda berharga seperti jarum, cincin, atau uang logam yang tidak terlihat.
- Risiko kecelakaan kecil akibat pencahayaan yang kurang.
- Ketidakefektifan kegiatan bersih-bersih karena kotoran sulit terlihat. Karena peristiwa seperti kehilangan barang berskala kecil identik dengan “rezeki”, masyarakat dahulu mengaitkan tindakan menyapu malam dengan hilangnya keberuntungan.
Makna Sosial dan Simbolik
Secara antropologis, mitos ini berfungsi sebagai pengatur perilaku dalam keluarga dan masyarakat. Fungsi tersebut meliputi:
1. Disiplin Waktu dan Kebersihan
Menyapu pada pagi dan sore dianggap waktu ideal untuk menjaga rumah tetap bersih.
2. Perlindungan Anak dan Anggota Keluarga
Pada masa lalu, larangan ini mencegah anak keluar rumah malam hari karena alasan keamanan.
3. Penanaman Nilai Etos Kerja
orang tua menggunakan mitos ini untuk menanamkan kebiasaan agar seseorang tidak menunda pekerjaan sampai malam.
Perspektif Ilmiah
Tidak ada temuan ilmiah yang mendukung bahwa menyapu rumah pada malam hari berdampak pada hilangnya rezeki. Rezeki dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, perilaku kerja, dan kesempatan.
Dalam perspektif modern: Penerangan listrik membuat aktivitas menyapu malam hari aman dan efektif. Menyapu malam dapat menjadi pilihan logis bagi individu yang bekerja sepanjang hari. Kebersihan rumah tidak berhubungan dengan keberuntungan finansial secara gaib. Dengan demikian, mitos ini lebih merupakan produk konteks sejarah dan sosial, bukan kebenaran metafisik.
Pandangan Modern terhadap Mitos
Di era modern, sebagian masyarakat masih mempertahankan mitos ini sebagai bagian dari budaya keluarga. Namun, sebagian lain lebih memandangnya sebagai simbol etika hidup dan bukan larangan literal. Perubahan pandangan ini menunjukkan bagaimana masyarakat beradaptasi seiring perkembangan teknologi dan pola hidup.
Kesimpulan
Mitos menyapu rumah pada malam hari membuang rezeki merupakan warisan budaya yang muncul dari kondisi masyarakat tradisional. Larangan tersebut berfungsi sebagai aturan sosial yang membantu menjaga keamanan, ketertiban, dan kedisiplinan.
Dalam konteks modern, mitos ini tidak relevan secara ilmiah, tetapi tetap dapat dipahami sebagai bagian dari nilai budaya masyarakat Indonesia.
Penulis: Devi Nurhaliza
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi













