Virus Internet Semakin Merebak di Era Digital 5.0

internet

Lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak langsung dalam segala aspek kehidupan manusia. Perkembangan yang mendunia menarik minat massa untuk selalu memakainya.

Hal ini menyebabkan banyak warga milenial yang menjadi bergantung dan cenderung menggunakannya hampir setiap saat. Tak heran bahwa iptek menjadi sindrom yang menyita kehidupan manusia.

Perkembangan informasi yang signifikan menampilkan wajah ganda terhadap masyarakat. Di satu sisi, perkembangan informasi memberi warna yang positif bagi penggunanya, misalnya sangat membantu dalam mengakses informasi yang serba cepat dan mudah.

Selain itu, perkembangan informasi memperluas wahana pengetahuan masyarakat tentang dunia internasional.

Masyarakat semakin dimudahkan dengan adanya komunikasi jarak jauh melalui media sosial seperti WA, Facebook, Instagram, Telegram, Twitter dan lain sebagainnya.

Warga milenial juga dapat mengembangkan potensi dan keterampilan melalui konten kreator, kursus, seniman dan mengembangkan kreativitas dalam berkarya.

Di sisi lain, perkembangan informasi menjadi pemicu terjadinya perpecahan dalam hubungannya dengan relasi sosial di dalam masyarakat. Penggunaan informasi yang salah menjadi sebuah diskursus bagi era kehidupan manusia sekarang ini.

Hal ini berdampak terhadap keberlangsungan hidup masyarakat yang bertolak belakang dari norma dan etika kehidupan. Lancarnya aliran informasi ini juga mengaduk-aduk emosi massa.

Masyarakat menjadi terpengaruh oleh adanya penyebaran berita hoax atau fake news secara terus-menerus terkait dengan situasi global. Internet juga menimbulkan kepanikan dan ketakutan karena adanya aksi teror terhadap masyarakat.

Sebagian besar masyarakat  menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak semestinya, untuk berinteraksi dengan orang yang tidak di kenal, mengakses konten pornografi, cyberbullying dan cybervictim, dan sebagiannya bermain game online dan kepentingan lainnya.

Lebih parahnya lagi, internet dijadikan sebagai media untuk mengadu-domba masyarakat melalui propaganda, provokatif, penyangkalan terhadap fakta maupun penghinaan terhadap keanekaragaman suku, budaya, ras, golongan dan agama. Alhasil, keberagaman tidak lagi menjadi pemersatu melainkan pemecah.

Kasus yang sering beredar di era ini yaitu banyaknya kaum muda yang putus sekolah, menikah dibawah umur, Sex bebas, penyebaran konten pornografi, pembunuhan, penipuan, dan aksi teror. Bukan tidak mungkin bahwa internet menjadi salah satu penyebab munculnya kasus-kasus tersebut.

Pasalnya, banyak anak sekolah yang lebih fokus untuk bermain game daripada belajar. Anak sekolah menjadi malas belajar dan hanya tahu meng-copy-paste jawaban dari internet.

Banyak pula anak-anak remaja yang mengakses  konten pornografi. Adapula pihak-pihak yang menjalankan aksi penipuan untuk mendapatkan uang dari sang korban. Muncul pula berbagai obrolan grup yang bertolakbelakang dari norma-norma yang berlaku.

Di sisi lain, tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang yang melakukan kejahatan adalah kaum terpelajar seperti dalam isu-isu aktual terkait mafia judi online dan sebagainya. Tercatat sebanyak 612 kasus judi online sepanjang tahun 2022 yang melibatkan banyak pejabat dan petinggi negara.

Hal ini tentunya merusak citra pendidikan di Indonesia. Di mana pendidikan hanya fokus untuk mentransferkan pengetahuan/wawasan saja tanpa membentuk kepribadian yang berakhlak dan berbudi pekerti.

Fenomena ini mestinya disadari dengan sungguh sebagai akibat buruk dari penggunaan internet secara salah. Berada pada era digitalisasi mengharuskan setiap insan untuk lebih selektif dalam menggunakan internet.

Hal ini sejalan dengan mempertanggungjawabkan corak kehidupan dalam kaitannya dengan kedamaian dunia dan sesama serta kesesuaian dengan norma yang berlaku.

Internet sebagai buah dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dalam penggunaannya. Dalam hal ini, setiap insan harus membuktikan kebenaran dan memfilter setiap situs maupun konten yang diaksesnya.

Pada umumnya, dampak negatif internet sering dialami oleh para remaja. Kaum remaja adalah penentu masa depan bangsa dan negara.

Menurut data terbaru kominko, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan saat ini.

Faktanya, kaum muda selalu tertarik untuk belajar hal-hal baru, namun terkadang mereka tidak menyadari resiko yang dapat ditimbulkan.

Maka dari itu, perlu adanya penanggulangan terhadap kasus-kasus penyalahgunaan internet. Dalam hal ini, dibutuhkan peran aktif dari setiap orang tua. Perlu adanya sikap kontrol orang tua terhadap penggunaan internet dari setiap anak.

Orang tua sebaiknya menyaring setiap situs yang  diakses oleh remaja baik melalui komputer maupun ponsel terhadap empat hal berbahaya seperti konten pornografi, konten perjudian, penipuan dan konten kekerasan.

Setiap orang tua mestinya membangun relasi yang baik dengan anak serta membangun sikap terbuka satu sama lain dengan tetap mengawasi dan memperingatkan kepada anak untuk tidak mengakses situs yang mencakup empat hal tersebut.

Atau cara lain yaitu orang tua harus mempelajari gejala-gejala yang umumnya timbul pada anak ketika terpengaruh hal-hal buruk dari internet dan sesegera mungkin meminta anak untuk bersikap terbuka tentang apa yang dialaminya agar tidak menimbulkan dampak yang lebih buuk.

Dalam hal ini, orang tua menjelaskan dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari penyalahgunaan internet. Secara tidak langsung, anak akan lebih berhati-hati dalam menggunakan internet.

Penulis: Jozef Wojtyla Baho
Siswa Jurusan IPA SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *