Urgensi Melawan Gelombang Polio

Vaksin Virus Polio
Ilustrasi: istockphoto

Jika menilik pada awal abad ke-20, penyakit polio adalah penyakit yang paling ditakuti di dunia, karena cepat menyebar dan merenggut nyawa ratusan ribu anak setiap tahunnya. Penyakit ini diakibatkan oleh virus polio yang menyerang sistem saraf pusat, terutama otak dan sumsum tulang belakang yang mengendalikan gerakan tubuh.

Virus ini juga menghambat keberlangsungan otot dan pusat, sehingga dapat menyebabkan kelumpuhan permanen bahkan kematian akibat gagalnya sistem otot dan pusat. Jika seorang terkena polio maka tidak akan bisa untuk disembuhkan, namun bisa dicegah dengan vaksinasi.  

Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2020 menyatakan bahwa negara Indonesia berada di posisi peringkat ketiga di dunia. Bayi yang belum mendapatkan imunisasi dengan jumlah bayi 1,7 juta yang membuat cakupan imunisasi global tetap di 86%, sehingga tidak menunjukkan perubahan yang signifikan di beberapa tahun terakhir.

Virus polio sering kali menyerang balita atau anak berusia di bawah 5 tahun, terutama apabila belum melakukan vaksinasi polio. Namun, bukan tidak mungkin polio juga dapat dialami oleh orang dewasa.

Pada awal tahun 2024, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI mendapatkan laporan ditemukannya tiga kasus lumpuh akut Acute flaccid paralysis (AFP) yang disebabkan oleh Virus Polio Tipe Dua.

Kasus pertama, disebabkan oleh virus polio karena riwayat imunisasi polionya tidak lengkap. Kasus kedua, disebabkan karena status imunisasinya lengkap, namun mengalami malnutrisi. Sedangkan kasus ketiga, dialami anak dengan riwayat imunisasi polio tetes 4 kali dan polio suntik (IPV) 1 kali berdasarkan pengakuan orang tua.

Namun hasil pemeriksaan Laboratorium Rujukan Polio Nasional BBLK Surabaya dan hasil sekuensing dari Laboratorium Bio Farma Bandung pada 4 Januari 2024 menunjukan positif Virus Polio Tipe 2.

Masa inkubasi virus polio berlangsung 3-6 hari, dengan kemungkinan kelumpuhan terjadi dalam rentang waktu 7-21 hari. Bahkan, sebagian besar penderita (90%) tidak menunjukkan gejala atau hanya memiliki gejala ringan yang sulit terdeteksi.

Namun, gejala awal seperti demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan leher, dan nyeri pada tungkai bisa muncul pada kondisi lain. Penularan virus terjadi melalui mulut, terutama melalui air atau makanan yang terkontaminasi oleh feses orang terinfeksi. Virus berkembangbiak di usus dan diekskresikan melalui feses, menjadi ancaman bagi yang lainnya.

Ironisnya, keberadaan polio di negara kita sangat berdampak pada kualitas generasi emas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Anak-anak yang terkena polio akan mengalami kesulitan mengakses pendidikan layak akibat keterbatasan fisik.

Biaya perawatan jangka panjang dan rehabilitasi bagi individu juga menjadi beban besar bagi keluarga dan sistem kesehatan. Sementara itu, potensi produktivitas yang terhambat juga dapat mengurangi kontribusi generasi emas dalam pertumbuhan ekonomi.

Menurut data terbaru dari UNICEF, penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan vaksin polio dan imunisasi lengkap lainnya untuk mencegah penyebaran penyakit ini.

Selain itu, laporan dari CIA World Factbook menunjukkan bahwa populasi Indonesia diperkirakan akan meningkat hingga 320 juta pada tahun 2045, sehingga dampak polio dapat menjadi lebih besar jika tidak ditangani dengan serius.

Dalam melawan gelombang polio, pemerintah telah melaksanakan program eradikasi polio melalui Outbreak Response Immunization (ORI), memberikan imunisasi massal pada kelompok rentan.

Kegiatan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kabupaten Sleman dilaksanakan dalam dua putaran, dimulai pada 15 Januari 2024, dan putaran kedua pada 19 Februari 2024.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menetapkan KLB polio dengan 11 kasus anak hingga 17 Januari 2024. Sembilan anak tanpa gejala klinis, sementara dua anak lainnya memerlukan penanganan intensif. Hingga 18 Januari 2024, lebih dari 8 juta sasaran telah menerima imunisasi polio, mencapai cakupan 80,7% di Jawa Timur, 73,2% di Jawa Tengah, dan 59,5% di Sleman DIY.

Sub PIN yang dilakukan pemerintah menggunakan vaksin novel oral polio vaccine type 2 (nOPV2). Vaksin ini diberikan dengan cara diteteskan ke mulut, sangat ringan dan aman. Tindakan ini menjadi langkah penting dalam mengatasi ancaman serius penyakit polio yang kembali muncul.

Dalam situasi pandemi yang cepat menyebar, siklus pengembangan vaksin standar tidak cukup cepat untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Namun, dengan teknologi pengembangan vaksin yang baru, siklus pengembangan dapat dipersingkat sehingga memungkinkan pengembangan, pengujian, dan produksi vaksin yang lebih efektif dan efisien. Hal ini memungkinkan berbagai jenis vaksin dapat dikembangkan dengan lebih mudah dan cepat. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Fredmoore Orosco dalam jurnalnya berpendapat bahwa vaksin berbasis nanopartikel adalah pengembangan vaksin terbaru agar dapat meningkatkan imun untuk tidak mudah terserang penyakit menular melalui berbagai mekanisme, termasuk aktivasi imunitas bawaan, seluler, dan humoral.

Nanovaksin berinteraksi dengan sel-sel imun melalui pengenalan pola molekul terkait patogen (PAMP) pada permukaan nanovaksin. Proses ini mengaktifkan kekebalan bawaan.

Untuk mencapai pengiriman antigen vaksin yang efisien, nanopartikel dapat diformulasikan dengan berbagai metode, seperti adsorpsi fisik, konjugasi kimia, enkapsulasi, atau pencampuran antigen fisik dengan partikel nano.

Enkapsulasi antigen di dalam nanopartikel mencegah degradasi, memastikan pelepasan yang terkendali dan berkelanjutan di tempat target, sehingga tidak memerlukan dosis penguat. Selain itu, nanopartikel juga dapat meningkatkan pengiriman antigen dan meningkatkan jumlah peptida antigenik yang dikirim ke sel-sel presentasi antigen (APC).

Dengan demikian, vaksin berbasis nanopartikel dapat meningkatkan respon imun primer dan sekunder, membantu tubuh melawan penyakit menular secara lebih efektif.

Selain itu, pengembangan vaksin berbasis nanopartikel juga memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya pada berbagai kelompok usia dan kondisi kesehatan.

Diperlukan juga penelitian lebih lanjut untuk memahami interaksi nanopartikel dengan sistem kekebalan tubuh dan potensi dampak jangka panjangnya. Oleh karena itu, sementara vaksin berbasis nanopartikel menawarkan potensi yang menarik dalam meningkatkan imunitas.

Vaksin berbasis nanopartikel memiliki potensi dampak yang signifikan bagi generasi emas dan perekonomian Indonesia. Dengan memberikan perlindungan lebih baik terhadap penyakit menular, vaksin ini dapat membantu meningkatkan kesehatan generasi emas, yang merupakan kelompok usia produktif.

Selain itu, vaksin berbasis nanopartikel juga dapat membantu mengurangi beban penyakit menular pada perekonomian Indonesia.

Dengan mengurangi jumlah kasus penyakit menular, vaksin ini dapat membantu mengurangi biaya perawatan kesehatan dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Hal ini dapat berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi negara.

Penulis: Nur Alfiah Lailan (14220220001)
Mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Muslim Indonesia

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

DAFTAR PUSTAKA

Agungnoe. (2024). Guru Besar UGM: Waspada KLB, Cegah Polio Dengan Vaksinasi. Dapat diakses melalui https://ugm.ac.id/id/berita/guru-besar-ugm-waspada-klb-cegah-polio-dengan-vaksinasi/

Lestari, S., Hikmat, R., Kurniasih, U., Wahyuni, N. T., & Amaliah, L. (2023). Optimalisasi Pencegahan Polio Pada Bayi Melalui Program Imunisasi Polio Di Desa Megu Cilik Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon. Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia, 2(6), 6-16.

Makatita, H., Soumokil, Y., & Tukiman, S. (2024). Hubungan Peran Kader Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Bayi Usia 9–12 Bulan Di Posyandu Desa Wakasihu. Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi, 2 (1), 94-106.

Mansur, A. R., & Farlina, M. (2023). Polio: Sejarah, Diagnosis, Pengobatan, dan Vaksin.

Orosco, F. (2024). Recent advances in peptide-based nanovaccines for re-emerging and emerging infectious diseases. J. Adv. Biotechnol. Exp. Ther, 7, 106.

Poliomyelitis (Penyakit Virus Polio). (n.d.). dapat diakses melalui https://infeksiemerging.kemkes.go.id/penyakit-virus/poliomyelitis-penyakit-virus-polio

Rokom. (2024). Hari Keempat Sub PIN Polio Tembus 76,9 Persen. Diakses di https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20240118/4144810/hari-keempat-sub-pin-polio-tembus-769-persen/#:~:text=total%208.491.178%20sas

THE SITUATION OF CHILDREN AND YOUNG PEOPLE IN INDONESIAN CITIES. (n.d.). diakses melalui https://www.unicef.org/indonesia/media/12166/file/The%20Situation%20Analysis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *