Reformasi AI berbasis Karakter: Evaluasi Holistik untuk Generasi Anti-Bullying

Generasi Anti Bullying
Ilustrasi Generasi Muda (Sumber: Penulis)

Bullying di madrasah bukan lagi sekadar konflik anak-anak, melainkan ancaman serius terhadap pembentukan akhlak Islami Generasi Alpha. Data Kemenag 2025 mencatat 40% siswa MTs mengalami pelecehan verbal, sementara evaluasi PAI konvensional yang terpaku pada hafalan fiqih dan akidah gagal mendeteksi degradasi karakter ini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa PAI yang hanya menilai aspek kognitif tidak cukup untuk membentuk siswa yang berakhlak mulia, karena kekerasan verbal dan sikap merendahkan sesama justru bertentangan dengan nilai rahmah, adil, dan musyawarah yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan sunnah.

Reformasi mendesak PAI harus bergeser dari penilaian kognitif ke evaluasi holistik berbasis rubrik perilaku, terintegrasi program anti-bullying berbasis moderasi beragama. Evaluasi holistik ini tidak hanya mengukur penguasaan materi, tetapi juga sikap toleransi, empati, dan respons terhadap konflik dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mengintegrasikan asesmen karakter ke dalam pembelajaran PAI, madrasah dapat menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung pembentukan generasi yang tidak hanya pintar secara agama, tetapi juga berakhlak moderat dan anti-kekerasan.

 

Reformasi PAI berbasis Karakter

Pendidikan Agama Islam saat ini menghadapi tantangan degradasi moral di kalangan remaja, di mana bullying menjadi epidemi yang merusak akhlak moderat.

Reformasi PAI berbasis karakter menempatkan evaluasi tidak hanya pada hafalan fiqh, tapi pengukuran holistik melalui observasi perilaku, portofolio etika, dan triangulasi data siswa untuk membentuk sikap empati Islami.

Pendekatan ini selaras dengan Kurikulum Merdeka, mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an seperti rahmah dan musyawarah ke dalam asesmen sehari-hari, sehingga PAI tidak lagi sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan watak yang berakhlak mulia dan moderat.

Dalam praktiknya, evaluasi karakter PAI harus mengukur dimensi afektif dan psikomotorik secara sistematis, misalnya melalui rubrik sikap toleransi, kerja sama, dan respons terhadap konflik. Guru PAI perlu dibekali instrumen sederhana seperti jurnal refleksi siswa, catatan perilaku, dan proyek sosial yang menuntut kolaborasi dan kepedulian.

Dengan demikian, PAI bertransformasi dari pelajaran yang hanya menilai benar-salah menjadi ruang pembentukan generasi yang anti-bullying, berempati, dan mampu menjaga keharmonisan sosial berbasis nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Baca juga: Transformasi Pendidikan menuju Generasi Unggul

 

Evaluasi Holistik Anti-Bullying

Evaluasi holistik PAI menggabungkan rubrik karakter (misalnya, skala toleransi, empati, dan pengendalian emosi) dengan simulasi kasus bullying di madrasah, memungkinkan guru mendeteksi pola agresi dini secara sistematis. Dalam praktiknya, siswa tidak hanya dinilai dari jawaban tertulis, tetapi juga dari respons mereka terhadap skenario konflik, diskusi kelompok, dan proyek sosial yang menuntut kerja sama dan kepedulian.

Pendekatan ini menjadikan PAI sebagai ruang pembentukan akhlak yang nyata, bukan sekadar hafalan teori, sehingga siswa belajar mengenali tindakan bullying sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai Islam seperti larangan menghina, memfitnah, dan merendahkan sesama.

Program seperti “LM Peduli” di MTs Labanan Makmur membuktikan efektivitasnya melalui indikator perilaku pasca-intervensi, di mana siswa belajar mengubah konflik menjadi dialog berbasis akhlak.

Melalui pendampingan, konseling sebaya, dan kegiatan reflektif, siswa pelaku dan korban bullying diajak memahami dampak psikologis dan moral dari tindakannya, serta diajarkan cara menyelesaikan masalah dengan cara yang adil dan penuh kasih sayang.

Hasilnya, terjadi penurunan signifikan dalam kasus bullying dan peningkatan sikap saling menghargai, menunjukkan bahwa PAI yang terintegrasi dengan program anti-bullying mampu membentuk lingkungan madrasah yang lebih aman dan inklusif.

Dengan demikian, generasi anti-bullying muncul sebagai agen moderasi beragama, siap menghadapi dunia digital yang penuh hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi. Mereka tidak hanya menguasai materi PAI, tetapi juga memiliki kematangan emosional dan kepekaan sosial untuk menolak kekerasan, baik secara fisik maupun verbal.

Evaluasi holistik ini menjadi fondasi penting bagi PAI masa depan yang tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar, tetapi juga manusia yang berakhlak mulia, moderat, dan menjadi pelopor perdamaian di lingkungan madrasah maupun masyarakat luas.

 

Tantangan dan Solusi Masa Depan

Guru PAI sering terjebak pada asesmen kognitif semata, seperti ulangan harian, PTS, dan PAS yang hanya mengukur hafalan fiqih, akidah, dan sejarah Islam, sementara aspek karakter jangka panjang jarang terukur secara sistematis.

Keterbatasan waktu, beban administrasi, serta kurangnya instrumen yang praktis membuat guru kesulitan mendokumentasikan perkembangan sikap toleransi, empati, dan respons terhadap konflik secara konsisten. Akibatnya, evaluasi PAI masih dominan berbasis tes, padahal tujuan utama PAI adalah membentuk insan yang berakhlak mulia, bukan sekadar menguasai materi.

Solusi utama adalah mengadopsi platform digital sederhana yang dapat digunakan untuk tracking perilaku siswa secara berkelanjutan, seperti aplikasi atau sistem berbasis web yang memungkinkan guru mencatat observasi sikap, refleksi siswa, dan hasil proyek sosial.

Platform ini bisa dikembangkan secara lokal oleh madrasah atau lembaga pendidikan Islam, dengan fitur rubrik karakter yang terintegrasi dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, seperti kejujuran, keadilan, dan kerja sama. Dengan demikian, data perkembangan karakter siswa dapat terkumpul secara terstruktur dan digunakan sebagai dasar evaluasi holistik yang lebih objektif dan adil.

Agar platform ini efektif, guru PAI perlu dilatih melalui workshop berbasis proyek yang fokus pada pengembangan instrumen asesmen karakter, penggunaan teknologi sederhana, serta strategi integrasi nilai anti-bullying dalam pembelajaran.

Workshop ini sebaiknya kolaboratif, melibatkan guru PAI, konselor, dan tenaga kependidikan, sehingga evaluasi karakter menjadi tanggung jawab bersama, bukan beban individu. Dengan pelatihan yang kontekstual dan berkelanjutan, guru akan lebih percaya diri dalam menerapkan pendekatan holistik, bahkan di madrasah dengan keterbatasan infrastruktur.

Reformasi ini bukan opsional, tapi keharusan untuk mewujudkan siswa PAI yang tak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga peduli, berempati, dan anti-kekerasan. Di era digital yang penuh tantangan moral, PAI harus menjadi garda terdepan dalam membentuk generasi yang mampu menolak bullying, hoaks, dan ujaran kebencian dengan akhlak Islami yang moderat.

Dengan evaluasi holistik berbasis karakter, PAI tidak hanya relevan hingga 2030, tetapi juga menjadi kekuatan transformatif dalam menciptakan madrasah dan masyarakat yang lebih damai, adil, dan penuh kasih sayang.

Reformasi PAI berbasis karakter bukan sekadar perubahan metode evaluasi, melainkan transformasi paradigma dari PAI yang hanya mengajar menjadi PAI yang membentuk insan berakhlak mulia dan moderat. Dengan evaluasi holistik yang mengukur empati, toleransi, dan respons anti-bullying, PAI mampu menjawab tantangan moral generasi Alpha di era digital, sekaligus mewujudkan visi pendidikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Oleh karena itu, evaluasi berbasis karakter harus menjadi komitmen bersama: guru, madrasah, dan pemangku kebijakan, agar PAI tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar, tetapi juga manusia yang peduli, adil, dan menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat.

 


Penulis: Arifin Siregar (202420290110142)
Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Table of Contents

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *