Remaja  

Sikap Bullying pada Remaja

bullying pada remaja
Ilustrasi bullying. (Source: shorturl.at)

Kasus bullying akhir-akhir ini sangat banyak terjadi dilingkungan masyarakat. Terlebih lagi pada masa remaja atau dilingkungan sekolah. Arti kata bullying adalah perilaku berangasan seseorang yang dilakukan secara terus menerus sehingga dapat menyakiti, merendahkan serta mendominasi korban secara mental/psikis dan fisik. Dampak dari bullying menyebabkan korban menjadi terkena masalah kesehatan/mental, memiliki rasa kedendaman terhadap pelaku, penurunan prestasi, rasa ingin mengakhiri hidup, pikiran seseorang menjadi terganggu, dan merasa terkucilkan oleh orang-orang sekitar.

Terdapat kasus pembullyan di salah satu sekolah daerah Tanggerang Selatan. Pada daerah tersebut adanya perkumpulan siswa yang melakukan bullying pada temannya sehingga membuat korban tersebut masuk ke Rumah Sakit.

Kasus bullying ini sangat menyebar sehingga masyarakat sudah mengetahui asal pembullyan yang terjadi. Hal ini pun membuat pihak sekolah merasa terugikan atas terjadinya pembullyan ini, maka beberapa pelaku dinyatakan telah diberikan sanksi yaitu drop out dari sekolah tersebut. Karena itulah cara satu-satunya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah.

Tidak kasus ini saja, banyak sekali kasus-kasus pembullyan yang terdapat di lingkungan sekolah atau masa remaja sebab pada masa remaja adanya perubahan sikap atau perilaku yang berasal dari lingkungan sekitar itu sendiri. Jika lingkungan sekitar bersifat bebas maka perilaku seseorang akan berpengaruh dan mengikutinya.

Jenis-jenis Bullying

Terdapat beberapa jenis-jenis bullying, yakni;

1. Bullying Secara Verbal

Jenis bullying yang dilakukan secara lisan, contoh dari jenis bullying ini sendiri seperti mengejek, mencemooh, meremehkan dan menghina orang lain. Jenis bullying ini tidak meninggalkan luka secara fisik tetapi luka tersebut dapat terkena mental dan psikis seseorang.

Akibatnya jika bullying jenis verbal dilakukan oleh seseorang kepada korban secara terus-menerus maka korban tersebut akan merasa kurangnya bahkan menurunkan sikap percaya dirinya, korban mengalami depresi, munculnya sikap gangguan kecemasan dan berpotensi menyebabkan pada korban untuk self harm atau menyakiti dirinya sendiri karena korban tidak dapat mengontrol emosi di dalam dirinya sebab ia akan merasa dirinya terpojokkan dan tidak dapat mengekspresikan dirinya secara bebas.

2. Bullying Secara Fisik

Jenis bullying ini jika seseorang melakukan perundungan lalu meninggalkan jejak luka pada tubuh korban ataupun memar. Contoh dari bullying secara fisik seperti menendang, mencubit, mencakar, memukul, menampar, mendorong dan lainnya. Akibat dari bullying jenis ini yaitu seseorang akan mengalami memar atau luka sehingga dapat munculnya masalah kesehatan tertentu. Maka, jenis bullying ini dapat dikenali oleh masyarakat.

3. Bullying Secara Sosial

Bullying jenis ini dilakukan secara sosial dan biasanya sulit untuk dideteksi.  Tujuan dilakukan bullying ini agar dapat merusak reputasi seseorang dalam lingkungan sosial. Bullying jenis ini terjadi dikarenakan sikap pelaku adanya rasa iri dan dengki terhadap korban. Maka dari itu, pelaku dapat membuat pandangan orang lain kepada korban menjadi rusak, jadi nama baik korban akan menjadi jelek di mata orang sekitar. Contohnya seperti adanya tatapan sinis yang ditujukan untuk mengintimidasi secara halus dan pelaku menyebarkan kebohongan atau gosip tentang korban.

4. Cyberbulling

Bullying jenis ini adalah perilaku agresif seseorang yang ditujukan pada korban melalui teknologi digital. Biasanya terjadi pada media sosial, game online dan platform lain yang menyediakan tempat untuk dapat berinteraksi. Jenis bullying ini dilakukan secara virtual atau online, tidak dilakukan secara tatap muka atau secara langsung. Contoh dari jenis bullying ini sendiri yakni:

  • Mengirim komentar yang negative kepada seseorang.
  • Menyebarkan kebohongan atau aib seseorang pada media sosial.
  • Mengunggah klip pribadi seseorang dengan tujuan mempermalukan seseorang.
  • Mengirim teks, email, gambar, bahkan video yang mengejek, mengancam, adanya kata kasar, berbau seksual dan agresif.

Ciri-ciri Remaja yang Mengalami Bullying

Ciri-ciri remaja yang mungkin sedang mengalami bullying dapat bervariasi tergantung pada individu dan situasinya. Namun, beberapa tanda umum yang bisa menjadi indikasi bahwa seorang remaja sedang dibully yakni:

1. Perubahan perilaku

Mungkin menjadi lebih tertutup dan enggan untuk berbicara tentang apa yang sedang terjadi dalam hidup mereka. Mereka mungkin menutupi perasaan atau pengalaman mereka, bahkan kepada orang-orang terdekat seperti keluarga atau teman-teman dekat. Lebih mudah marah atau sensitif terhadap komentar atau perilaku orang lain. Mereka mungkin merasa terancam atau terluka dengan cepat, bahkan oleh hal-hal kecil yang sebelumnya tidak mempengaruhi mereka.

2. Kerusakan fisik

Mungkin memiliki luka, memar, bekas luka yang tidak biasa pada tubuh mereka. Mereka biasanya tidak bisa menjelaskan bagaimana mereka mendapatkan luka tersebut jika ditanyakan oleh orang tua dan sering kali mereka akan mencoba untuk menyembunyikan luka-luka tersebut.

3. Kehilangan minat pada sekolah atau aktivitas lain

Remaja yang mengalami bullying mungkin menunjukkan penurunan dalam prestasi akademik mereka. Nilai-nilai mereka mungkin turun secara drastis, terutama jika bullying tersebut memengaruhi fokus dan konsentrasi mereka dalam belajar. Juga remaja yang mengalami bullying mungkin menunjukkan penurunan dalam prestasi akademik mereka. Nilai-nilai mereka mungkin turun secara drastis, terutama jika bullying tersebut memengaruhi fokus dan konsentrasi mereka dalam belajar.

4. Perubahan dalam hubungan sosial

Mengalami kesulitan dalam menjalin atau mempertahankan hubungan dengan teman-teman mereka. Seorang remaja yang dibully juga sering menghindari situasi-situasi sosial yang melibatkan banyak orang.

5. Kehilangan atau kerusakan barang-barang pribadi

Remaja yang dibully juga mungkin mengalami kerusakan pada pakaian atau barang-barang pribadi lainnya. Pakaian mereka mungkin dikotori, dirobek, atau dihancurkan oleh pembully sebagai bentuk intimidasi atau perlakuan kasar. Pembully juga mungkin merusak atau mencuri barang elektronik milik remaja, seperti ponsel, laptop, atau tablet

6. Penggunaan gadget yang berlebihan

Mereka mungkin melari kan kepada dunia online untuk melupakan kehidupan mereka di dunia nyata. Perilaku ini sering kali terjadi dan meyebabkan banyak penyakit pada para remaja karena kelebihan sinar radiasi dari gadget.

Cara Pencegahan Bullying

1. Program edukasi mengenai anti bullying

Program ini dapat mendidik para siswa/i tentang bullying, macam-macam bullying dan juga apa yang dapat mereka lakukan jika mereka terkena bullying. Para siswa/i juga dapat mengetahui tindakan apa yang termasuk bullying sehingga mereka dapat mencegah kejadian  bullying.

2. Perhatian dari guru

Membuat para guru lebih perhatian terhadap para siswa/i. Di dalam ruang kelas, terdapat kejadian bahwa terdapat para murid yang dibully seperti temannya yang di jauhi, di ejek, dan juga diperlakukan secara kasar sehingga guru harus lebih perhatian tentang apa yang terjadi di kelas.

3. Berbicara dengan pembully

Korban bullying dapat membicarakan dengan baik-baik dengan pembully tentang apa yang membuat ia melakukan bullying dan apa yang dapat dilakukan untuk menghentikan bullying. Banyak kasus bullying yang berhasil terlewati hanya karena korban berbicara dengan pembully.

4. Memberikan sosialisasi tentang toleransi 

Dari sikap dan tindakan yang kita lakukan untuk menghargai keberagaman latar belakang, pandangan, dan keyakinan antar siswa. Toleransi harus dilakukan siswa/i agar hubungan para siswa/i berjalan dengan sebagaimananya.

Jika mereka sudah adanya sikap intoleran, maka terus-menerus mereka akan melakukan hal tersebut. Sehingga pada masa generasi selanjutnya akan mengikuti sikap intoleran kepada orang lain dan berakhir adanya bullying, karena mereka merasa bahwa sikap intoleran adalah hal yang benar dari sikap toleransi. Maka untuk menghindari hal tersebut, dari sekarang para siswa/i diharuskan untuk adanya sosisalisasi mengenai toleransi. 

5. Tumbuhnya Rasa Percaya Diri 

Untuk menghentikan perilaku bully, penting untuk membangun rasa percaya diri pada korban sehingga mereka tidak terlihat minder atau takut kepada pelaku pembully.

Pelaku pembully akan malas menindas orang yang berani dan percaya diri. Pelaku lebih mudah melakukan bullying kepada orang-orang yang sering menyendiri dan tidak adanya rasa percaya diri.

Korban tidak perlu merasa takut jika kita tidak mempunyai kesalahan karena rasa takut itu akan muncul jika korban memiliki kesalahan sehingga ia  dapat merasa takut dan malu. 

6. Harus tetap waspada 

Pentingnya untuk waspada terhadap perilaku bullying disekolah adalah ketika kita melihat teman yang sedang dibully segera melaporkan korban yang sedang mendapatkan perilaku bullying kepada guru. Sebagai saksi, harus melakukan tindakan seperti ini karena agar bullying cepat untuk di atasi oleh sekolah.

7. Menciptakan Ruang Kelas yang aman  

Di mana setiap siswa merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan adil. Ini melibatkan pembentukan hubungan yang positif antara siswa dan guru, penegakan aturan yang jelas dan konsisten, serta promosi kolaborasi dan empati di antara siswa.

Sesama murid, harus saling mendukung satu dengan yang lainnya dan membangun hubungan yang harmonis agar tidak adanya circle dalam kelas. Karena dengan adanya circle atau geng ini dapat memulai rasa ingin membully orang lain, sebab adanya dukungan bahkan dorongan dari teman gengnya untuk melakukan bullying.  

8. Melibatkan orang tua dalam penanggulangan perilaku pembully  

Hal ini dapat dilakukan melalui komunikasi terbuka dan berkala antara sekolah dan orang tua, pelatihan kepada orang tua tentang cara mendukung anak mereka, serta melibatkan mereka dalam pengembangan dan penegakan kebijakan sekolah terkait perilaku pembullyan. Melalui kolaborasi ini, dapat diciptakan lingkungan yang mendukung dan aman bagi semua siswa. Status sebagai orangtua tidaklah mudah, sebagai orangtua harus mendidik anaknya dari kecil hingga mereka dewasa untuk memperhatikan perkembangan anaknya dari sisi karakteristik maupun diluar karakteristik. 

9. Memberikan dukungan korban bullying

Memberikan dukungan kepada korban bullying melibatkan mendengarkan mereka dengan empati, memberikan dukungan emosional, dan memastikan bahwa mereka merasa didukung. Ini juga melibatkan memberikan sumber daya dan bantuan untuk mengatasi dampak psikologis dan sosial dari bullying, serta memfasilitasi intervensi yang sesuai untuk melindungi korban dan mencegah kejadian bullying di masa depan.

Dukungan dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan mental juga sangat penting dalam membantu korban mengatasi pengalaman bullying. Dengan adanya dukungan, maka korban akan merasa bahwa dirinya nyaman dan dapat beradaptasi dengan lingkungannya kembali. 

Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk mengakhiri pembullyan karena bullying tidak hanya merusak segi fisik sesorang tetapi juga dapat merusak segi emosional, mental, dan kepercayaan diri seseorang.

Kita harus berdiri bersama untuk melawan bullying karena setiap orang berhak merasa aman dan dihormati di lingkungan masing-masing.

Mari kita memberi dukungan kepada individu-individu yang korban bullying dan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian. Bersama-sama kita dapat menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan lingkungan dimana tidak ada aksi pembullyan.

Kita harus membangun lingkungan sekitar kita menjadi solid dan damai agar tidak akan terjadinya bullying kembali, seperti tidak membeda-bedakan teman, mendukung satu sama lain, saling membantu, bertoleransi dengan teman jika ada yang memiliki perbedaan kepercayaan, menghargai pendapat teman, dan lainnya.  

Penulis:  

  • Kayla Jaskilca 
  • Keisha Annabel 
  • Rishil Dharmesh Patel 
  • Jonathan 

Siswa Jurusan IPS SMA TRI RATNA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *