Literasi Digital: Kunci Menghadapi Tantangan Belajar di Era Informasi

literasi digital
Ilustrasi Literasi Digital (Foto: Dok. MMI)

Perkembangan teknologi menggeser cara siswa mendapatkan informasi.

Namun, perkembangan ini tidak hanya membawa kemudahan saja melainkan tantangan baru pun ikut menyertai seperti halnya distraksi digital dan overload informasi palsu.

Artikel ini membahas pentingnya literasi digital bukan sekedar mampu mengoperasikan saja melainkan mampu berpikir kritis dalam menyaring informasi.

Menurut bapak Wisnu Hatami di podcast Voice of Ramadan: Bijak Bermedia Sosial Saat Berpuasa menjelaskan bahwa menjadi warga negara digital bukan sekadar bisa menggunakan gadget, tapi tahu konsekuensinya.

Melalui pendekatan literasi yang sesuai, diharapkan siswa mampu menjadikan perkembangan ini menjadi alat pendukung kreativitas dalam pembelajaran.

Pendahuluan

Sekarang ini, hampir semua kegiatan belajar mengajar bersentuhan dengan dunia digital.

Siswa tidak lagi belajar dari belajar dari buku cetak, tapi juga bisa dari video tutorial dari media sosial baik YouTube, Instagram, TikTok dan lain sebagainya.

Namun, kemudahan untuk mengaksesnya ini sudah merata. Tanpa literasi digital yang memadai teknologi justru malah menjadi penghambat karena kebanyakan distraksi.

Baca Juga: Antara Produktivitas Akademik dan Kesehatan Mental di Era Digital

Tantangan di Ruang Kelas Digital

Distraksi digital merupakan masalah utamanya. Notifikasi media sosial atau game tampak lebih menarik dibandingkan materi pembelajaran.

Selain itu membedakan informasi yang valid dan hoaks perlu ditingkatkan lagi.

Hadirnya literasi digital sebagai solusi agar siswa tidak menjadi konsumen pasif saja, melainkan juga pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab.

Strategi Penggunaan Literasi Digital

Membangun karakter siswa yang literat secara digital, perlu beberapa langkah diantaranya:

  • Berpikir Kritis: Melakukan pengecekan sumber data sebelum mempercayainya.
  • Keamanan Digital: Mendalami pentingnya menjaga data pribadi di internet.
  • Produksi konten kreatif: Mengajak siswa menggunakan aplikasi editor video atau design untuk menyelesaikan tugas sekolah yang inovatif, sehingga teknologi digunakan untuk berkarya bukan sekedar hiburan semata, seperti Canva dan CapCut.
  • Etika dan Tanggung jawab Digital: Kesopanan dalam berkomunikasi di ruang digital juga diperlukan. Bukan hanya soal teknis, tapi juga bagaimana kita berkomentar supaya tidak menyakiti hati orang lain.

Baca Juga: Budaya Membaca vs Abad Literasi

Kesimpulan

Literasi digital adalah pijakan utama kita dalam pendidikan modern. Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam mengarahkan dalam dunia maya secara bijak.

Ketika literasi dikuasai, teknologi akan menjadi batu loncatan menuju pengetahuan yang lebih luas bukan malah menjadi penghalang bagi prestasi akademik.  


Penulis: Ruwiyati
Mahasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), UINSSC


Dosen Pengampu: Wisnu Hatami, M.Pd.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

  1. Gilster, P. (1997). Digital Literacy. New York: Wiley Computer Publishing.
  2. Kemendikbud. (2017). Materi Pendukung Literasi Digital: Gerakan Literasi Nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *