Sejarah Teori Heliosentris

0
830
Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Cellarius_ptolemaic_system.jpg

Bumi tempat di mana kita tinggal ini adalah sebuah planet di antara planet-planet lainnya dari tata surya yang mengelilingi Matahari.

Pada zaman Sebelum Masehi (SM), awalnya ilmuwan mengira bahwa Bumi merupakan pusat dari alam semesta. Objek langit yang lain akan mengitari Bumi sebagai pusat dalam orbit yang berbentuk lingkaran. Akan tetapi, model ini ternyata memiliki kelemahan yaitu apabila Bumi merupakan pusat dari alam semesta dan jika objek lain mengitari pada sumbu berbentuk lingkaran, kenapa bisa suatu planet memiliki background bintang yang berbeda-beda pada waktu (tanggal) yang sama.

Pertanyaan ini kemudian dibuktikan oleh ilmuwan astronomi dan matematika yaitu Hipparchus (c. 190 – 120 BC), dengan menunjukan adanya dua kelemahan. Kelemahan pertama adalah perbedaan lama waktu musim di Bumi. Apabila matahari bergerak secara beraturan dengan orbit berbentuk lingkaran, lama waktu dari keempat musim di Bumi harusnya sama, namun kenyataannya berbeda. Kenyataan tersebut dikarenakan oleh kemiringan orbit bumi sebesar 23,5 derajat, dan ilmuwan-ilmuwan astronomi tidak dapat menjelaskannya pada saat itu.

Hal ini juga dibuktikan oleh perbedaan lama waktu siang dan malam pada lokasi tertentu di Bumi. Pada saat musim dingin, Matahari bergerak lebih cepat daripada saat musim panas di belahan Bumi utara. Kelemahan kedua adalah pernyataan yang memprediksikan adanya gerakan berlawanan arah jarum jam atau istilahnya adalah retrograde dari planet-planet yang periodenya teratur. Kenyataannya adalah, gerak retrograde dari planet-planet tersebut tidak terjadi dalam periode yang tetap, atau yang sekarang dikenal sebagai apparent retrograde motion atau gerak retrograde semu. Detail mengenai gerakan semu ini akan saya jelaskan di artikel berikutnya.

Perkembangan dalam Astronomi Klasik selanjutnya dilakukan oleh Claudius Ptolomeus. Melalui bukunya yang berjudul Almagest yang ditulis sekitar tahun 150 SM, Claudius Ptolomeus menyempurnakan teori mengenai Bumi sebagai pusat alam semesta menjadi Bumi sebagai pusat tata surya. Dengan adanya teori baru ini, Ptolomeus tidak hanya bisa menjelaskan mengenai pengamatan yang sudah terjadi, namun bisa meramalkan posisi benda langit di masa depan. Hal ini bisa dilakukan karena Ptolomeus menemukan bahwa bidang pergerakan planet-planet di tata surya tidak berada pada bidang yang sama dengan bidang pergerakan Matahari.

Namun diperlukan waktu lebih dari 1500 tahun hingga seorang ilmuwan astronomi dapat mengemukakan teori bahwa Matahari sebagai pusat dari tata surya. Teori ini ditemukan oleh astronom Polandia yaitu Nicolaus Copernicus melalui buku yang dia tulis dengan judul De revolutionibus orbium coelestium (On the Revolutions of the Celestial Spheres). Melalui buku tersebut yang ditulisnya pada tahun 1543, Copernicus berpendapat bahwa semua planet termasuk planet Bumi mengitari Matahari.

Copernicus menulis bahwa alam semesta terdiri dari delapan spheres, atau batas lintasan. Lintasan di sini dihitung dari lintasan terluar yang disebut sebagai lintasan satu, yang mana Copernicus menyatakan bahwa di luar dari lintasan satu merupakan objek langit tidak bergerak, bintang yang tidak bergerak, dengan pusat dari sistem bintang yang juga tidak bergerak. Kemudian lintasan dua merupakan orbit dari planet Saturnus, hingga lintasan ketujuh merupakan lintasan orbit planet Merkurius, dan hingga berakhir di lintasan kedelapan yaitu Matahari itu sendiri. Teori dari Copernicus inilah yang sekarang kita kenal sebagai Teori Heliosentris.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here