Resiko Di Balik Pakaian Baru

0
374
Sumber: biem.co

 

Ada larangan agar pakaian baru jangan langsung dipakai. Apa yang salah dengan pakaian baru, kok dilarang memakainya? Ya, pakaian baru jangan dipakai jika belum dicuci terlebih dahulu. Jika kamu terbiasa langsung memakai pakaian baru dengan alasan tampilannya baru tidak terlihat kusut, atau terdesak oleh situasi sehingga kamu harus langsung memakainya tanpa mencucinya terlebih dahulu, maka kamu patut membaca artikel ini untuk menyelamatkan dirimu.

Sumber: Harian SIB

Ketahuilah, bahwa pakaian baru yang kamu beli mengandung banyak kuman penyakit. Dari mana asalnya kuman itu? Kuman tersebut ada sejak material produk itu dibuat di pabrik. Material pakaian dalam bentuk gulungan-gulungan kain tidak dijamin kebersihannya. Bagaimana perlakuannya selama di pabrik? Bagaimana pengolahannya selama di garmen? Berapa lama tersimpan dalam gudang dan bagaimana teknik penyimpanannya? Bagaimana pula pakaian itu diperlakukan selama di toko? Kamu pasti tidak tahu berapa lama pakaian itu tersimpan dalam etalase atau tergantung di toko menanti tangan-tangan pembeli untuk memilikinya. Sebelum sampai ke tangan pembeli, kamu juga tidak tahu sudah berapa tangan yang mencoba meraihnya dan mencobanya berulang kali. Bahkan kamu juga tidak pernah tahu, bagaimana kondisi kesehatan orang-orang yang telah mencobanya, sebab bukan tidak mungkin pakaian yang dicoba akan melekat langsung dengan kulit calon pembeli. Bagaimana jika pembeli sedang mengidap penyakit infeksi kulit atau penyakit menular lainnya?

Dan yang harus pula diketahui bahwa selama berjalannya waktu hingga pakaian itu ada di tanganmu, rentang waktu memberi peluang tumbuhnya mikroba seperti bakteri, jamur, kutu dan juga virus. Bakteri dan jamur yang menempel pada serat kain akan terus berkembang biak. Virus flu juga dapat menempel di permukaan pakaianmu dan sama seperti jamur, dia akan cepat menyebar dan berkembang biak.

Bakteri yang menempel pada kain berpotensi tumbuh dan berkembang biak menjadi penyakit berbahaya. Sebanyak hampir 50% manusia adalah pembawa bakteri Staphylococcus aureus pada kulit, hidung dan tenggorokannya. Bakteri ini bisa menempel pada pakaian yang kotor dan dapat menyebar ke pakaian yang lain. Bakteri berbahaya ini bisa menyebabkan infeksi kulit selain bisa meracuni makanan.

Sumber: dreamstime.com

Pakaian baru yang berwarna juga bisa menyebabkan keluhan di kulitmu. Tahukah kamu bahwa pewarna pada bajumu yang mengandung bahan kimia dapat menyebabkan iritasi pada kulit yang sensitif, iritasi pada matamu, paru-paru hingga alergi pada paru-paru. Berbahaya, bukan?

Produsen tekstil biasanya menggunakan bahan urea dan formaldehida untuk meningkatkan warna dan tekstur kain. Ada pula pewarnaan kain yang menggunakan pewarna azo-anilin. Pewarna ini memiliki sifat mutagenik dan karsinogenik yang bisa menyebabkan masalah pada kulit, terutama pada anak kecil yang mempunyai alergi pada bahan itu. Reaksinya bisa alergi ringan hingga alergi berat. Kulitmu akan terasa kering, terbakar dan gatal-gatal. Bahan kimia Chromium IV juga suka dipakai dan sering ditemukan pada bahan wol.

Tidak hanya pada proses pewarnaan, pada proses pengemasan dan pengiriman sebagian produsen mengandalkan bahan kimia sebagai pengawet pakaian guna mencegah jamur dan kerutan pada kain selama masa penyimpanan. Pengawet yang biasa digunakan adalah formaldehida resin. Formaldehida sering digunakan untuk mencegah timbulnya jamur pada pakaian baru selama melewati masa simpan dalam kondisi panas dan lembap. Bahan formaldehida berbau sangat tajam dan dapat bertahan pada serat pakaian sampai pakaian dicuci dengan sabun cuci pakaian.

Namun dalam satu kali pencucian tak akan menghilangkan semua formaldehida, tapi akan menurunkan resin secara signifikan. Karena itu sebaiknya pakaian baru dicuci berulang kali agar pengaruh bahan kimia pada serat kain benar-benar hilang. Pengawet kimia pada kain menimbulkan ruam jika kulitmu sensitif, iritasi pada mata, paru-paru hingga alergi pada paru-paru. Cukup berbahaya, bukan?

Dermatolog bersertifikat Lindsey Bordone, M.D., dari Columbia University Medical Center mengingatkan, bahwa tungau kudis yang berukuran mikroskopis dapat menginfeksi kulit dan bisa berpotensi menularkan melalui pakaian. Namun menurut Will Kirby, M.D., dermatolog di Hermosa Beach, California, kemungkinan terinfeksi dari pakaian resikonya rendah.

Meski demikian, mencuci pakaian baru sebelum dipakai, tentu akan mengurangi resiko terinfeksi atau iritasi sekecil apapun kemungkinannya. Apalagi, jika pakaian baru tersebut sejenis pakaian dalam yang langsung melekat pada kulit badan kita, contohnya celana dalam, bra, kaos dalam dan juga baju renang.

Sumber: suara.comMemperlakukan Pakaian Baru

Ada cara khusus yang harus dilakukan terhadap pakaibaru sebelum kamu memakainya, yaitu merendam pakaian baru dalam air bersih dengan sabun cuci pakaian anti bakteri minimal satu jam lamanya. Kemudian bilas pakaian menggunakan air yang panas, lalu jemur dan disetrika pada suhu yang sesuai dengan jenis material pakaian.

Memiliki pakaian baru tentu harapannya akan merubah penampilan kamu menjadi lebih cantik dan gagah dilihat. Dengan mencuci pakaian barumu lebih dahulu memang akan membuatmu menjadi sedikit lebih repot, namun akan lebih baik daripada pakaian barumu meninggalkan malapetaka berkepanjangan di tubuhmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here