Pendengar Yang Baik

0
508
Foto koleksi: R@photo.doc

 

Ada sebuah pernyataan dari sebuah sumber tanpa nama yang mengatakan, ”Komunikasi dimulai saat aku mengerti pesan yang Kamu sampaikan.”

Menjadi seorang pendengar adalah kegiatan yang tidak semua orang bisa melakukannya. Untuk menjadi pendengar kuncinya adalah sabar dan perhatian. Tapi dua sifat manusia itu tidak dimiliki oleh setiap orang. Jika kunci itu sudah menjadi andalanmu ketika menjadi pendengar, dan selebihnya kamu juga bisa memberi ketenangan, menanggapi dengan baik lawan bicara, berbagi pendapat hingga mampu menawarkan solusi, maka cukup layak untukmu disebut seorang pendengar yang baik.

Sumber ilustrasi: kantorpemuda.com

Banyak juga orang yang terlihat seolah-olah sebagai pendengar yang baik. Sering terjadi lawan bicara menyampaikan suatu hal yang mungkin sudah berulang-ulang disampaikannya, atau dia tidak mampu meringkas cerita tentang hal yang ingin disampaikannya. Keadaan demikian cenderung membuatmu sebagai pendengar menjadi bosan. Kamu mulai mencari cara untuk menyudahi dan membiarkan pikiranmu mengembara, meski arah matamu terlihat memperhatikan lawan bicaramu.

Pada menit-menit di tengah pembicaraan yang tak dapat kamu sangka, kemampuan dan daya minatmu untuk mendengar bisa hilang. Kamu bisa saja menyadari itu, dan bisa juga tidak. Ada kalanya lawan bicaramu yang menyadari lebih dulu, karena melihat pandangan matamu yang kosong meski menatapmu atau kamu terlihat sibuk dengan kegiatan yang lain. Pada saat itu kamu sudah menjadi sosok yang menanamkan rasa kecewa pada diri lawan bicaramu. Apalagi jika hal yang diungkapkan adalah perihal duka yang rumit serta menguras emosi. Lengkaplah rasa bagi lawan bicaramu, kulitnya melepuh terbakar api masih pula dadanya terasa sesak terhirup asapnya.

sumber: loop.co.id

 

Segala hal bisa menjadi bahan untuk dibicarakan. Jika kamu bersedia mendengarkan apa saja yang diungkap lawan bicaramu hingga setelahnya kamu tidak terjebak oleh emosi yang tercipta, maka kamu termasuk seorang pendengar yang baik.

Menjadi pendengar tidak selalu dituntut untuk memberi tanggapan, saran atau solusi, terlebih jika tidak diminta. Ada kalanya lawan bicara hanya ingin kamu berada di dekatnya, mendengarkan dan memperlihatkan rasa simpati yang dalam, meskipun dalam pandanganmu dia belum meraih target yang diharapkannya, belum mencapai titik terang atas perkaranya. Tapi diammu dan perhatianmu padanya adalah kepuasan tersendiri bagi lawan bicaramu.

Sumber foto: GEN sindo
Mother and Daughter Talking

Menjadi pendengar yang baik dengan menempatkan diri pada posisi yang netral, mendengar dengan seksama, mencermati hal yang diungkapkan dan tidak menghakimi sebelum mendengarkan semua informasi yang disampaikan. Kamu pun tidak harus setuju ataupun berpihak pada siapapun. Maka tidak perlu menjadi seperti wartawan atau seperti pahlawan, disaat kamu hanya dibutuhkan menjadi pendengar yang baik. Alih-alih rasa keingintahuanmu dan jiwa penolongmu malah membuatnya tidak nyaman dan merasa rendah di hadapanmu.

Sumber ilustrasi: Danbooru

Menjadi seorang pendengar yang baik juga perlu berhati-hati saat ingin memperlihatkan rasa simpati yang dalam. Tidak selalu orang akan suka caramu memperlihatkan simpati, misalnya dengan sentuhan tanganmu, rangkulan tanganmu, juga pelukanmu. Bahkan gaya humormu yang bermaksud menetralkan suasana atau menentramkan jiwanya bisa dianggap lain dan berlebihan.

Keberadaanmu sebagai seorang pendengar yang baik adalah dengan berpartisipasi dan konsentrasi pada hal yang diungkapkan lawan bicara, tidak merumuskan jawaban sendiri dan berhenti mendengarkan atau menghentikan lawan bicaramu yang sedang berbicara. Seorang pendengar yang baik mampu mengontrol emosinya sendiri, bisa membaca situasi dan bijaksana menempatkan diri.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here