Omong-Omong Bahasa Daerah

0
729
Foto dokumen R@photo.doc

Sulit membayangkan Indonesia tanpa bahasa Indonesia. Memang, Negara Kedaulatan Republik Indonesia disatukan terutama oleh bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia berdasarkan bahasa Melayu Sumatera yang telah digunakan sebagai bahasa perantara resmi (formal dan beraturan) oleh pemerintahan Hindia-Belanda sebelum kemerdekaan. Sementara Bahasa Melayu Pasar telah berabad-abad digunakan oleh para pedagang dan musafir di wilayah Nusantara. Karena digunakan oleh berbagai jenis suku, bahasa Melayu Pasar ini kurang beraturan dan bercampur dengan bahasa daerah masing-masing maupun bahasa luar. Di Indonesia terdapat 701 bahasa daerah lokal yang masih hidup, dan 18 bahasa daerah lainnya dibawa oleh pendatang seperti Cina dan Arab. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya berkomunikasi tanpa bahasa yang sama di Nusantara ini. Kebanyakan bahasa daerah berhubungan erat dengan suku, misalnya orang Bima di barat pulau Sumbawa berbahasa Bima. Jumlah suku etnis di Indonesia ada 1000 lebih, sementara beberapa bahasa daerah digunakan lebih dari satu suku. Jadi betapa luar biasa dengan satu bahasa bisa menyatukan satu negara yang paling beraneka ragam di bumi ini.

Di zaman kemerdekaan masih banyak sekali orang yang belum bisa bahasa Melayu Indonesia pun. Sampai sekarang masih ada beberapa persen orang yang berusia lanjut yang tidak berbahasa Indonesia. Saat ini bahasa Indonesia dianggap berhasil, karena sampai ke pelosok-pelosok mana pun di Indonesia kita bisa gunakan bahasa Indonesia, tetapi keberhasilan ini juga menyelipkan kerugian yang tidak terpikirkan, yaitu kemampuan bahasa daerah hampir di mana-mana berkurang. Malah ada beberapa bahasa yang telah punah. Puluhan bahasa daerah lainnya berada pada level terancam punah, sehingga pernah seorang pakar ilmu linguistik (Muhlhauser) mengatakan bahasa Indonesia adalah ’bahasa pembunuh’. Kepunahan bahasa terjadi karena bahasa daerah tidak digunakan di instansi pemerintahan dan pendidikan, dan anggapan terhadap bahasa Indonesia atau logat pusat lebih keren, atau pikir orang tua menggunakan bahasa Indonesia di rumah supaya anaknya bisa lebih pintar di sekolah. Tidak kurang efektif dalam proses kepunahan ini adalah pengalihan bahasa, mulai dengan bahasa Indonesia dicampur ke bahasa daerahnya, sampai suatu hari seseorang tidak bisa mengucap satu kalimat panjang dalam bahasa daerah. Kondisi tersebut bukan penulis mengada-ada, saya pernah mengalaminya secara langsung waktu merekam cerita rakyat dan narasi lainnya dalam satu bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur. Sebagian dari mereka ada yang berpikir mampu bercerita dalam bahasa daerahnya, tetapi ternyata tidak. Nah, dari kenyataan yang demikian itu bisa dibayangkan bagaimana jadinya bahasa daerah di masa depan nanti?

Barangkali ada yang bertanya, memang kenapa kalau bahasa daerah punah? Apakah tidak hanya merepotkan? Bukankah kita bisa bahasa Indonesia semua, kan? Nah, di situlah, anda barangkali telah mengalami rasanya mau ekspresikan sebuah rasa dalam bahasa lain dari bahasa ibu atau bahasa Indonesia, dan hasilnya tidak tepat, lost in translation, kalaupun lancar kedua bahasanya. Sekarang bayangkan satu bahasa itu mewakili satu pandangan dunia sendiri, dan kalau satu bahasa punah akan hilang satu pandangan dunia yang unik itu dengan banyak ilmunya yang tersirat di dalamnya, misalnya tradisi lisan dengan ceritanya, ritualnya, pengobatannya, peribahasanya dan lain-lain. Dengan kata lain, satu bahasa itu juga gudang ilmu.

foto by Stefan Danerek

Dengan menguasai lebih dari satu Bahasa, boleh kita menduga jadi lebih pintar memahami orang lain, karena kita bisa berpikir seperti orang lain. Yakinlah setiap budaya punya bahasa yang berisi dan mengungkap banyak ilmu. Kalau anda lancar bahasa daerah, anda memiliki ilmu yang istimewa juga, yang tidak dimiliki setiap orang lain, apalagi kalau bahasa daerah anda hanya ada sedikit penutur, semakin sedikit tidak kurang kerennya, malah tambah istimewa.

Selain jadi ilmu tersendiri sebagai bagian dari kepintaran, beberapa laporan penelitian juga menyebutkan bahwa bilingualisme atau kemampuan berbahasa lebih dari satu, dan terutama dari bahasa ibu daerah, menguatkan daya pikir kita, serta membuat kita merasa nyaman dengan identitas kita. Satu bonus lagi kalau pintar satu atau beberapa bahasa daerah dari keluarga besar bahasa Austronesia yang dominan di Indonesia, atau semakin banyak bahasa daerah yang kita kuasai, maka akan jadi lebih gampang memahami bahasa yang baru dengan etymologi, ilmu yang melacak kemiripan di antara bahasa-bahasa Austronesia. Misalnya mai dalam bahasa Lio (Flores) berarti ’garam’, dan mai dalam bahasa Palu’e, yang berkerabat dengan bahasa Lio, berarti ’asin’. Jelas hubungan bahasanya.

Di luar semua ini, belajar dan mendalami satu bahasa, apapun bahasanya, itu asyik. Dan anda bisa membagi ilmu itu dengan orang lain, tak peduli bahasa Sunda, Batak, Bali atau satu bahasa dengan hanya 10 orang penutur. Semuanya butuh kesadaran dan tanggung -jawab supaya bahasa daerah tidak hilang dari bumi. Bagaimana cara belajar atau mendalami bahasa daerahmu? Boleh mulai dengan tidak mencampur bahasa, saat berbahasa Indonesia, gunakan bahasa Indonesia saja, saat berbahasa daerah, hanya bahasa daerah saja yang dipakai. Siapa tahu di kemudian hari barangkali anda tertarik ikut program kuliah ilmu linguistik bahasa daerah atau kajian tradisi lisan yang diberikan di sejumlah universitas di Indonesia.

 

Pustaka: Ethnologue (www.ethnologue.com)

Stefan Danerek (Ph.D., Swedia), bekerja meneliti bahasa dan tradisi lisan serta penerjemahan sastra. Beberapa karya sastra Indonesia telah diterjemahkan ke bahasa Swedia. Karyanya yang baru terbit adalah kamus bahasa daerah, Kamus bahasa Palu’e-Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here