Naruto Dan Kita

1
900

 

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,
aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
( 2 Tim. 4:7 )

Story Instagram

Pagi ini aku terusik dengan story Instagram milik anak bontotku tentang Naruto. Di foto itu terpampang foto Naruto tua yang meninggal (hanya virtual tentu saja), dengan tulisan kutipan ayat Kitab Suci dari 2 Timotius 4 : 7. Entah anakku mendapat gambar itu dari mana. Sejenak aku tertegun, pikiranku melayang ke lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika sulungku masih kecil dan aku sering menemaninya menonton film Naruto. Bahkan ikat kepala dan bajunya pun dimilikinya. Kenangan itu akhirnya yang menggerakkan jariku pada hape untuk bertanya kepada si bontot .
“Sungguhan Naruto mati?” aku mencoba menanyakan story itu kepada anak bungsuku.
“Iya!” jawab anakku singkat.
“Hah?” aku tak percaya.
RIP.“ kataku kemudian.
“Wkwkwk…cuma anime, maaa,” anakku mengingatkan dan menghiburku.
“Iya mama ngerti,” kataku sambil post emoticon tertawa.
“Entar ada serial lanjutannya si Boruto, anaknya Naruto,” anakku menjelaskan lagi.
“Padahal sedih juga Naruto mati, wkwkwkw…,” anakku menulis “sedih” tapi dengan tertawa, miris.
“Yaaah…kenapa dimatiin sih sama pengarangnya? Sudah kehabisan ide, apa?” kataku menimpali jawaban anakku.
“Biar serial anaknya lebih menarik pembaca ma,” demikian jawab anakku
“Mama baru tahu Naruto sudah punya anak, hahaha…,” kataku tertawa menyadari kebodohanku yang sudah lama tidak lagi mengikuti serial Naruto, sejak anak-anak telah beranjak dewasa.

Belajar Dari Naruto

Hari ini aku belajar dari Uzumaki Naruto, seorang ninja, yang berjuang untuk menjadi Hokage (ninja terkuat untuk memimpin, dapat berarti juga Bayangan api) di desa Konoha. Dia adalah tokoh fiktif dari serial anime dan manga Naruto, karangan Masashi Kishimoto.

Anime Jepang ini menyimpan banyak nilai moral yang dapat dijadikan motivasi dan renungan hidup. Di dalamnya sarat cerita tentang perjuangan, persahabatan dan kisah cinta. Banyak kutipan kata Naruto menjadi motivasi banyak penggemarnya. Salah satunya adalah, “Aku tidak khawatir akan jadi apa aku di masa depan nanti, apa aku berhasil atau gagal. Tapi yang pasti apa yang aku lakukan sekarang akan membentukku di masa depan nanti”.

Ucapan itu kurang lebih memberi makna, bahwa masa depan kita tergantung dari setiap langkah kecil kita pada masa sekarang, jangan berfokus pada ketakutan akan kegagalan atau ketidakpastian masa depan. Semua memerlukan proses, yang penting fokus pada usaha untuk melakukannya saat ini.

Aku kemudian membuka Kitab Suci, tepat di ayat 2 Tim. 4:7. Meyakinkan bahwa ayat yang dipakai di gambar story anakku adalah benar. Lengkap, kemudian kubaca mengenai Penuhilah panggilan pelayananmu 2 Tim. 4: 1-8.

Aku tertegun, merenungi apa yang tertulis di setiap ayat-ayatnya. Kata-kata yang dituliskan Paulus kepada Timotius. Intinya adalah apa yang disebut MEMENUHI PANGGGILAN PELAYANAN.

Perjalanan anime dan manga Naruto tak lepas dari perjuangan seorang Masashi Kishimoto, penulisnya. Saya percaya segala kata-kata kutipan yang dapat dijadikan motivasi bagi penggemarnya adalah suatu pengalaman penulis sendiri. Perjalanan hidupnya mampu menciptakan karakter Naruto hingga terkenal seperti saat ini, yang prosesnya pasti tidak mudah. Pun keputusan untuk menghentikannya saat ini. Mematikan karakter Naruto setelah kurang lebih 15 tahun dibaca dan telah banyak penggemar serta menjadi tokoh anime yang memotivasi mereka. Namun kematian Naruto sebagai pejuang pun sesungguhnya tidak berakhir. Dia menciptakan penggantinya, Boruto, sebagai penerus perjuangan ayahnya. Perjuangan masih diteruskan, cerita masih berlanjut, namun berubah fokus pejuangnya.

Merenungkan Kisah Yesus

Lalu aku merenungkan kepada kehidupan dan perjalanan Yesus sendiri sejak 2000 tahun yang lalu. Yesus lebih dari seorang Naruto. Yesus diciptakan Allah Bapa dengan skenario yang detil, indah, penuh perjuangan, yang kemudian dapat dibaca, direnungkan dan jadi motivasi di segala masa. Semua tertulis di buku Kitab Suci. Sama seperti Masashi Kishimoto yang telah menciptakan Boruto sebelum Naruto mati, maka Bapa pasti juga telah menyiapkan penerus Yesus di dalam dunia, sebelum Yesus mati di kayu salib.
Banyak penggemar Naruto yang sedih karena Naruto mati. Banyak murid Yesus yang sedih dan kehilangan arah namun tetap berjuang ketika Yesus mati. Banyak penggemar Naruto yang terkenang setiap kata-kata motivasi di serial ini. Begitu juga setiap kata-kata Yesus yang tertulis di KItab Suci hingga saat ini menjadi panduan bagi kita semua kaum Kristiani.
Aku tidak menyamakan Yesus dengan Naruto. Yesus lebih dari Naruto, karena cerita perjuangan dalam pelayanan Yesus adalah kenyataan bukan sekedar kisah anime. Yesus bukan sekedar pejuang khayalan dalam anime. Yesus mengisi hidup kita tidak hanya 15 tahun, namun lebih dari 2000 tahun. Dengan cerita serialNya yang tertulis dalam Kitab Suci yang abadi. Bahkan cerita sejak Yesus belum dilahirkan di dunia telah ada di Kitab Perjanjian Lama. Perjuangan Yesus diteruskan oleh banyak penerus, tidak hanya satu, tidak ada kata berakhir. Ayat di atas dari 2 Tim. 4:7, adalah ditulis oleh salah satu murid Yesus, St. Paulus untuk penerusnya lagi yaitu Timotius, yang diharapkan menjadi prajurit dalam peperangan (2 Tim. 2: 3-4). Hingga saat ini, secara terus menerus, penerus Yesus selalu ada.

Kita Adalah Pejuang Seperti Naruto

Cerita Naruto harus membuat kita terbuka dan merenung lebih dalam, tentang makna perjuangan tiada kata akhir. Karena ternyata kita juga salah satu penerus Yesus dalam hidup perjuangan di dunia ini, baik dalam hidup pribadi kita juga dalam pelayanan kita. Jika kita memanggil Bapa kepada Allah, maka kita juga anak-anaknya, kitalah saudara Yesus yang seharusnya meneladaninya, meneruskan kisah perjuangan pelayananNya di dunia ini.

Naruto mati meninggalkan kenangan bagi penggemarnya. Yesus mati tidak hanya meninggalkan kenangan dan kesedihan namun meninggalkan tugas perutusan bagi kita penerus perjuangannya.

Semoga kita mampu menjalankannya dengan kekuatan penuh seperti santo santa pendahulu kita (dan seperti Naruto). Kita adalah pejuang sesungguhnya, lebih dari Naruto. Kita sama-sama sedang berjuang di segala lapisan kehidupan kita, dalam profesi dan panggilan masing-masing. Sebagai Pelajar, guru, pekerja, bahkan Imam, biarawan dan biarawati, dan lain-lain. Kita harus mengemban perjuangan itu dengan sebaik-baiknya. Tuhan memberkati.

Malang, 23 Oktober 2020
Eustakia Esti
Renungan ini untuk anak-anakku, Dennis dan Dennisa yang pernah suka Naruto dan Danes yang sedih Naruto mati. Kita adalah pejuang lebih dari Naruto dan Boruto.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here