Mentari Tak Selamanya Sembunyi

4
519

Namaku Ganesh. Aku tumbuh dalam keluarga yang berantakan. Bapakku pemabuk yang tak pernah jelas pekerjaannya. Dia tak pernah memberi nafkah kepada kami, keluarganya. Yang paling buruk, jika mabuk, dia sering memaki ibuku dengan kata-kata kasar, bahkan tak jarang melakukan KDRT[1], baik kepada ibuku maupun kepadaku.

Suatu hari saat aku di SMA, orang tuaku bertengkar hebat di kamar. Aku tak tahu apa masalahnya. Itu tak penting. Mereka toh selalu bertengkar tentang apa saja. Aku mendengar teriakan bapakku, dan suara barang dibanting. Dengan gemetar, kubuka pintu kamar. Kulihat bapakku membanting barang-barang di depan ibuku yang sedang menangis.

“Mau apa? Keluar kamu!” bentak bapakku. Bau alkohol murahan tercium dari mulutnya.

“Bapak jangan kasar sama ibu!” teriakku dengan gemetar karena rasa marah bercampur takut.

“Anak kurang ajar!” bentaknya. Bapakku menghampiriku dan melayangkan tamparan ke kepalaku dan aku menangkis dengan refleks. Rupanya tangkisanku menyakiti lengannya. Dia tertegun, tak menyangka anaknya saat itu berani melawan.

Bapakku memandang aku dengan gusar. Aku balas menatapnya, tak kalah gusar. Dia kemudian pergi dengan membanting pintu, seperti yang selalu dilakukannya sejak dulu, pergi dan pulang sesuka hatinya. Hanya saja, kali itu dia tak kembali lagi.

Itulah gambaran keluargaku. Berantakan dan miskin. Kami tinggal di lingkungan miskin yang kumuh, bau got dan selalu banjir setiap musim hujan. Bukan rahasia lagi, ada anak-anak muda di lingkunganku yang menjadi pelaku kejahatan.

Setelah tamat SMA mau melanjutkan ke mana, adalah pertanyaan yang selalu kudengar saat aku kelas 3 SMA. Aku hanya bisa mengangkat bahu karena memang tidak berani membayangkan akan pernah kuliah.

Ketika di kelas 3 SMA itu, aku mulai akrab dengan teman dari kelas yang lain, Tiara namanya. Kupanggil dia Rara. Seorang gadis cantik yang baik hati dan berasal dari keluarga yang “beres”, tidak seperti keluargaku.

Suatu hari aku nyatakan perasaan sukaku kepadanya. Dia menjawab dengan senyum dan menggenggam jemariku. Itulah hari paling bahagia dalam hidupku.

Jujur, entah apa yang dilihat Rara dalam diriku, anak miskin yang selalu diperingatkan petugas karena telat bayar uang sekolah, yang tinggal di gang kumuh, yang dibesarkan seorang ibu tunggal. Tapi hari-hari itu kami seakan tak peduli. Kami jalani hari-hari kami dengan ceria, seperti kata-kata dalam lagu yang kami suka,

[2]Biar tahu, biar rasa, maka tersenyumlah, kasih…

Tetap langkah, jangan hentikan, cinta ini milik kita…

Aku tahu Rara tulus sayang padaku, meski aku hanya bisa mengajaknya makan nasi goreng di depan minimarket, dilanjutkan dengan beli dan makan coklat di dalam minimarket itu. Kebersamaan kami terasa indah saat kami merasa hanya ada kami berdua di dunia, walau kenyataanya, bukan hanya ada kami di dunia. Tentunya ada orang-orang lain.

Suatu hari aku bertamu ke rumah Rara, dan bertemu orangtuanya untuk pertama kali.

“Selamat malam Om, Tante” sapaku dengan sopan.

“Ganesh tadi naik apa ke sini?” tanya ibunya Rara.

“Naik angkot, Tante.” Kulihat raut wajah orangtua Rara berubah saat mendengar jawabanku. Rara berusaha tetap ceria dan mengalihkan pembicaraan. Saat itu aku mulai merasakan hubunganku dengan Rara tak seindah hari-hari dimana kami hanya berdua.

Saatnya kami lulus SMA. Rara melanjutkan kuliah, aku tidak. Aku terus mencari pekerjaan. Rara dengan baik hati selalu menyemangatiku, meski aku selalu merasa minder kepadanya. “Nanti juga kamu pasti bisa kuliah, Nesh”, katanya. Aku hanya tersenyum getir.

Lalu terjadilah peristiwa hari itu. Bagas, tetanggaku, mendadak memintaku memboncengkannya dengan motornya.

“Nesh, anterin gue, lo yang bawa motor gue! Gue ada kerjaan dikit. Ntar honornya gue bagi sama lo,” kata Bagas. Dan berangkatlah kami.

“Lo tunggu di sini, gue bentar aja, motor jangan dimatiin!” katanya lagi sesampainya kami di tujuan.

Aku menolong Bagas tanpa curiga, berharap dia membagi “honor”nya, tanpa pernah berpikir sedikitpun bahwa “kerjaan dikit” nya adalah transaksinya berjualan narkoba. Dia butuh supir yang bisa segera membawanya kabur jika ada hal yang mencurigakan. Itulah sebabnya dia memintaku terus menyalakan mesin motor saat menunggu.

Hari itu rupanya hari naas bagi Bagas. Polisi menjebaknya dengan berpura-pura menjadi pembeli. Dan hari itu adalah hari di mana hidupku menjadi sangat berubah. Bagas ditangkap polisi karena menjadi pengedar. Aku ditangkap karena berkomplot dengan pengedar. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku.

Akibat dari itu, Bagas dihukum lama sebagai pengedar. Aku dihukum lebih sebentar. Bagaimanapun, yang lebih sebentar itu tetaplah amat sangat memukul perasaan ibuku. Anak yang sangat diharapkannya tiba-tiba menjadi terpidana. Aku tak pernah bisa melupakan kejadian saat polisi datang menangkapku dan memborgol tanganku di depan mata ibuku.

“Pak, jangan bawa anak saya! Dia gak tahu apa-apa. Saya gak punya siapa-siapa lagi, Pak”, ratap ibu memohon pada petugas.

Airmata ibu mengalir deras, begitu juga aku. Rasa aku begitu tak berharga di matanya. Ibu yang seumur hidupnya menderita karena suami yang kejam dan tak bertanggung jawab, dan sekarang tambah menderita karena anaknya menjadi narapidana. Aku tak pernah bisa memaafkan diriku atas apa yang harus ditanggung oleh ibuku.

Aku teringat kata-kata Freddie Mercury, vokalis Queen band ternama yang kukagumi.

[3]Mama, ooh

Didn’t mean to make you cry

If I’m not back again this time tomorrow

Carry on, carry on

As if nothing really matters[4]

Rara? Jelas tidak kalah terpukul hatinya. Namun dia tetap setia kepadaku. Dia berkali-kali menengokku dalam penjara. Setiap kali datang menengokku, dia selalu membawakan coklat kesukaan kami berdua. Coklat minimarket kami.

Gimana kamu, Nesh?”

“Ya gitu, deh. Di sini gak ada coklat enak kayak gini,” jawabku berusaha terlihat ceria. Rara tersenyum, namun aku tahu dia menahan kesedihannya.

Aku terus memikirkan Rara. Masa depan seperti apa yang bisa kuberikan untuknya. Tidak adil baginya untuk terus berharap pada hubungan yang tidak jelas ini, pikirku dalam kegalauan.

Suatu hari, Rara kembali datang berkunjung.

“Ra…”

“Iya, Nesh?”

“Kamu jangan ke sini lagi, deh!” kataku tercekat, menahan tangis.

“Kenapa, Nesh?” tanyanya, tanpa bisa menahan tangis.

“Aku gak mau ketemu kamu lagi!”  seruku, pura-pura galak, pura-pura tegar.

Dan akupun berlalu, kembali ke kamar sel. Airmataku mengalir deras. Aku tahu airmata Rara pasti lebih deras.

Rara masih beberapa kali mencoba mencariku setelah itu. Aku tak pernah mau menemuinya. Tidak ada gunanya bertemu. Tidak ada masa depan apa-apa di antara kami. Kenyataan hidup, perbedaan di antara kami jauh lebih besar daripada cinta kami. Lihatlah tembok-tembok dan jeruji-jeruji ini! Apalah artinya cinta, jika kenyataan hidup hanyalah seperti ini?

Batinku berkecamuk.

Kenyataannya aku tidak setegar itu. Suatu hari, ibuku datang berkunjung. Dia memperlihatkan padaku sebuah amplop berisi undangan pernikahan Rara.

“Oh bagus, deh!” kataku. Aku kembali pura-pura merasa tegar dan cuek, lalu aku kembali menangis. Tapi tangisanku lebih dari biasanya. Tangisan seorang laki-laki yang patah hati. Tangisan seorang laki-laki yang meratapi kenyataan hidup yang demikian kelam. Itulah hari paling sedih dalam hidupku.

Ibu menjemputku di hari terakhir hukumanku. Dia tersenyum. Kupandangi dia di dalam angkot dalam perjalanan pulang. Semakin banyak kerutan wajahnya, dan semakin bungkuk bahunya. Perempuan yang malang, yang dibuat menderita oleh para lelaki dalam hidupnya. Aku harus membahagiakan dia! Demikian sumpahku dalam batin.

Aku bisa mendapatkan pekerjaan berkat pertolongan Tuhan, atau tepatnya kerja memberi pelayanan di sebuah panti rehabilitasi narkoba. Di sana apa saja aku lakukan, membersihkan yang kotor, mendampingi penghuni panti dan menjaga keamanan.

Aku melihat diriku dalam diri para penghuni panti. Narkoba membuat anak-anak itu dan keluarganya sangat menderita. Narkoba juga yang menjeratku masuk penjara. Di sanalah duniaku, yang terlambat kutemukan, yang membuatku merasa punya arti. Di tempat itulah aku bertekad aku harus menebus tahun-tahun hidupku yang hilang.

Dengan lebih bersungguh-sungguh aku mendekatkan diri pada Tuhan. Hari demi hari, kurasakan ada serupa teguran yang datang berulang kali di dalam bahtinku, agar aku  pergi mencari seseoran karena ada suatu urusan lama yang belum dan harus aku selesaikan dengan dia.

Dia terlihat kurus dan ringkih ketika aku berhasil menemukannya. Tahun-tahun hidupnya tergurat jelas dalam kerut wajahnya. Kecanduan minuman, penyakit, kemiskinan dan tabiatnya yang kurang baik, membuatnya ditinggalkan oleh orang-orang! yang pernah bersamanya.

“Bapak!” sapaku.

“Ganesh!”

Kami tak pernah dekat sejak dulu. Aku jelas merasa sangat pahit kepadanya. Bapak? Apa artinya bapak jika hanya bisa membuat perempuan bunting lalu melahirkan anaknya? Apakah sudah pantas disebut bapak? Apa bedanya dengan si Freddie, kucingku, yang anaknya entah di mana saja?  Aku berpikir dalam kebencian kepadanya, hampir sepanjang hidupku.

Hari itu semua kepahitan ingin kusudahi. Tapi aku tak berencana lama di sana. Kutinggalkan sedikit uang untuknya, lalu aku pamit. Saat itulah tanpa kuduga bapakku memelukku dan menangis, dua hal yang tak pernah kubayangkan akan bisa dilakukannya. Tangis kami berdua pecah tanpa mampu kami tahan.

Beberapa waktu kemudian, saat penyakit bapak semakin parah, aku berhasil membujuk ibu untuk bersedia ikut mengunjunginya. Bapak menangis memohon maaf kepada ibu. Air mata ibu tumpah, air mataku tumpah. Meskipun kutahu tidak mudah baginya, ibu memaksakan diri memeluk bapak saat kami berpisah. Itulah terakhir kali kami bertemu bapak. Pertemuan dalam damai, yang tak pernah kami alami ketika dulu masih bersama. Ada kelegaan yang luar biasa hari itu. Tidak lagi ada kepahitan dan dendam di antara kami.

Setelah beberapa waktu, tabunganku akhirnya cukup untuk membiayai kuliah. Aku menjadi mahasiswa tertua di angkatanku. Pagi hari aku melayani di panti, sorenya aku pergi kuliah. Aku mengambil jurusan pendidikan karena ingin menjadi guru yang lebih baik bagi anak-anak yang kulayani. Apa yang terjadi pada hidupku dulu, sebisa mungkin janganlah terjadi pada anak-anak itu di masa depan, doaku.

Tahun-tahun berlalu. Hari itu, di aula sederhana tempatku diwisuda, begitu bahagianya hatiku melihat ibuku berdandan rapi dan cantik. Dia terus tersenyum. Sudah lama sekali tak pernah kulihat dia sebahagia dan sebangga itu. Terima kasih, Tuhan, untuk menolongku membahagiakan ibuku. Sesuatu yang dulu kupikir tak akan pernah kucapai, hari itu menjadi kenyataan.

Hari itu, kuingat orang-orang dan peristiwa yang pernah mampir dan berlalu dalam hidupku. Bapakku yang sudah tiada saat itu, ratapan ibuku saat melihat anaknya diborgol dan diseret polisi,….dan Rara. Ya, Rara. Entah di mana dia hari itu. Semoga hidupnya selalu bahagia, lebih bahagia daripada apa yang bisa kujanjikan kepadanya dulu.

“Rara, aku sudah lulus kuliah, nyusul kamu,” bisikku dalam hati. “Aku harap kamu bangga padaku, Ra….”

Cerita patah hatiku adalah nostalgia yang tak selalu manis, bahkan pernah terasa sangat pahit, namun aku percaya, bahwa hidup dan waktu selalu punya caranya sendiri untuk menyembuhkan.

Mentari tak selamanya sembunyi…

 

Tangerang, dini hari 13 November 2020.

[1] Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

[2] “Buku Ini Aku Pinjam” – Iwan Fals

[3] “Bohemian Rhapsody” – Queen.

[4] Ibu, aku tak ingin membuatmu menangis,

Jika aku tak kembali besok, lanjutkanlah hidup,

Seolah tidak ada yang benar-benar terjadi…

4 KOMENTAR

  1. Keren sekali tulisannya Mas Peter, menyentuh sampai ke lubuk hati yang terdalam. Ga terasa air mata ikut mengalir, larut dgn ceritanya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here