Masihkah Indah Tulisan Tanganmu

0
559
Foto koleksi: R@photo.doc

Berapa usiamu sekarang? Di jaman kini yang serba instan, segala kegiatanmu hampir selalu mengandalkan peralatan yang kecanggihannya dari tahun ke tahun mengalami kemajuan. Komputer dan telepon genggam, contohnya, minggu ini alat elektronik tersebut bisa meringankan kegiatanmu yang menghabiskan waktu selama 1 jam bisa menjadi 30 menit untuk menyelesaikannya. Seminggu kemudian atau bahkan besok, alat dengan jenis yang sama bisa mengalami kemajuan selangkah lebih canggih dari sebelumnya, bahkan hanya membutuhkan sedetik sentuhanmu di permukaan alat tersebut, maka kamu sudah diantar ke ribuan mil jarak yang dituju tanpa harus menyita energi dan waktumu. Coba ingat-ingat, sejak pertama kali kamu memiliki alat tersebut, seiring bertambah kecanggihannya dari masa ke masa, sudah berapa kali kamu mengganti alat tersebut?

Mencoba mundur selangkah akan ingatan ke masa sebelum komputer dan telepon genggam menjadi barang istimewa, adalah masa mesin ketik menjadi satu-satunya barang berharga sebagai alat tulis. Meskipun mesin ketik sudah ada sebelum tahun 1870-an, namun di Indonesia hingga abad 19 tidak setiap rumah tersedia mesin ketik, tetapi mesin ketik menjadi barang yang harus ada di instansi pemerintah maupun swasta juga di rumah sakit, sekolah-sekolah dan sebagainya. Apakah sepanjang usiamu pernah mengandalkan mesin ketik untuk menulis? Apakah kamu merasa perlu memiliki alat tersebut dan mahir menggunakannya?

Sumber foto : kaskus.co.id
Sumber foto: kaskus.co.id

Ketika dulu mesin ketik menjadi alat istimewa yang diandalkan dalam dunia tulis menulis, tidak serta-merta orang  beralih dari kebiasaannya menulis secara manual atau tulis tangan. Orang masih menganggap mesin ketik itu barang formal, karena tulisan yang diketik biasanya untuk suatu keperluan yang bersifat formal dan dalam jumlah yang banyak, contohnya media cetak, buku, surat menyurat resmi, dan lain-lain. Ada yang menganggap mesin ketik tidak sepraktis menulis secara manual, karena selain harganya juga lumayan bernilai, masih diperlukan menyediakan bahan kertas untuk medianya, dan pita warna sebagai tintanya. Berbeda dengan tulisan tangan yang hanya membutuhkan media kertas dan pena. Ada pula yang menganggap tulisan tangan lebih memberi kesan pribadi. Dari bentuk tulisan tangan, karakter seseorang pun dapat diungkap bahkan bisa mencirikan profesi seseorang.

Pada awal memasuki jenjang pendidikan dasar di sekolah, siswa diajarkan bagaimana menulis tangan dengan baik dan benar. Guru sering memberi latihan menulis tangan dengan teknik yang benar sehingga tulisan bisa dibaca dengan mudah dan jelas. Sering pula guru menulis sendiri materi ilmu pelajaran untuk muridnya di papan tulis. Bahkan menulis dengan tangan sering dipilih sebagai salah satu bentuk hukuman yang diberikan guru pada siswanya.

Sumber foto: Dokumen SMP Kemala Bhayangkari Bandung
Sumber foto: Web SMP Kemala Bhayangkari Bandung

Setelah sudah dianggap mahir menulis semua huruf dan angka dengan benar, selanjutnya kemampuan menulis dengan tangan dikembangkan dengan harapan kelenturan tangannya dapat lebih kreatif dalam merangkai huruf demi huruf maupun angka demi angka menjadi deretan kata yang terlihat rapi juga indah. Banyak kita lihat dokumentasi bersejarah berupa surat dengan tulisan tangan para tokoh terkenal. Surat permohonan kerja juga harus ditulis tangan. Ada pula penjualan jasa penulisan indah untuk pembuatan sertifikat, piagam, surat akta, dan lain-lain. Surat-menyurat dengan tulisan tangan dan menulis diary jadi popular pada zaman itu. Lihat saja tulisan-tulisan tangan orang pada jaman sebelum mesin ketik jadi alat tulis yang diandalkan, tulisan mereka nampak rapi dan punya kekhasan tersendiri. Memang butuh kemauan dan ketelatenan dari diri seseorang agar memiliki tulisan tangan yang rapi juga indah. Sebab ada kalanya yang sudah sering menulis dan berlatih menulis dengan indah pun, masih saja tulisan tangannya terlihat tidak beraturan meski masih tetap bisa dibaca orang lain.

Sumber foto: review.bukalapak.com
Sumber foto: review.bukalapak.com

Zaman sekarang, mesin ketik bisa dibilang barang langka setelah komputer dan telepon genggam jadi barang yang umum dimiliki oleh setiap orang. Segala yang berkaitan dengan tulis menulis hampir diaplikasikan dengan alat tulis modern yang canggih tersebut. Surat-menyurat yang dulu dilakukan orang dengan menulis tangan kini sudah ditinggalkan. Orang tua juga anak muda kini telah dan lebih mengandalkan komputer, telepon genggam dan alat tulis elektronik lainnya untuk kebutuhan tulis-menulis.  Tulisan tangan yang penuh kesan bukan lagi hal yang utama untuk dihargai (kecuali tulisan tangan seorang tokoh ternama dan terkenal), tetapi orang di zaman sekarang lebih menghargai waktu. Para wartawan dan  sekretaris dulu biasa bekerja dengan teknik menulis stenografi ( teknik menulis ringkas dan cepat), namun sekarang mereka memilih mengandalkan tape recorder saat merekam pembicaraan. Bahkan, piagam, sertifikat, surat akta dan sebagainya yang disuguhkan dengan tulisan tangan yang indah kini berangsur-angsur ditinggalkan. Para guru pun sekarang ini sudah tidak selalu menulis di papan tulis saat mengajar, tapi mengandalkan media cetak dan alat elektronik canggih lainnya, misalnya proyektor. Surat permohonan kerja juga tidak lagi harus ditulis tangan. Zaman yang semakin maju ini hampir semua tulisan disajikan dengan huruf-huruf dan angka-angka yang lahir dari kecanggihan mesin tulis yang semakin modern semakin diminati, kecuali tulisan tangan dokter dan apoteker yang sampai kini masih bertahan digunakan.

Sumber foto: Bombastis.com

Sampai kapan tulisan tangan mampu bertahan di dunia tulis menulis? Jawabnya, terwakilkan dari jawabanmu atas pertanyaan berikut; Apakah sekarang kamu masih bisa menulis dengan tanganmu sendiri, dengan hasil tulisan yang tidak berkurang bagusnya dari tulisanmu terdahulu? Cobalah menulis beberapa kalimat dan bandingkan hasilnya dengan tulisanmu terdahulu, dan apa yang dirasakan saat menulis kalimat-kalimat tersebut?

Bersamaan dengan ini penulis sudah mempraktekan menulis tangan beberapa kalimat saja. Jari-jari tangan terasa kaku saat menggerakkan pena di atas kertas. Tidak ada kepuasan saat melihat hasilnya (tulisan yang tidak rapi dan kurang beraturan) dan membandingkannya dengan tulisan tangan penulis yang terdahulu (sebelum penulis mengandalkan mesin ketik dan alat tulis elektronik), hasilnya sungguh jauh berbeda. Masih penasaran, penulis pun mencoba menulis sehalaman buku, namun rasa hati yang tidak sabaran karena tidak mampu lagi menulis tangan selancar dulu dan bentuk tulisan yang dihasilkan tidak sebagus tulisan dulu (berantakan).

Sumber foto: R@photo.doc
Sumber foto: R@photo.doc

Melihat kenyataan yang ada, penulis membayangkan, satu orang saja jika tidak mampu lagi menulis tangan, bukan tidak mungkin tradisi tulisan tangan di bumi ini tanpa kita sadari akan punah tergerus zaman yang kian modern, zaman yang mana hampir segala yang berkaitan dengan tulis menulis mengandalkan alat tulis elektronik. Bayangkan pula jika generasi baru tidak diajarkan dan dibiasakan menulis tangan dengan baik dan benar, kelak mereka tidak akan tahu betapa berharga dan istimewanya sebuah tulisan yang lahir dari ujung pena yang digoreskan di atas kertas. dan bisa jadi mereka tidak pernah tahu betapa tulisan tangan itu indah dan bernilai sejarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here