Kunang-Kunang Jangan Pergi

0
76
byEustakiaEsti

 

Malam Menjelang Gelap Datang

Selendang kabut mulai menyelimuti gunung, bukit, pepohonan, persawahan, sungai, danau dan rumah-rumah yang dilaluinya. Kelelawar menyebar melintasi udara malam yang mulai dilingkupi kegelapan. Tak tampak seorangpun di jalanan, di ladang, di sawah, di bawah saung yang berdiri kokoh di bawah pohon rindang. Anak-anak kecil yang sore tadi asyik bermain layang-layang dan beryanyi riang di atas punggung kerbau, mulai pulang dan beristirahat. Sunyi datang. Sunyi menggantikan pekik terang hari. Samar mulai terdengar suara kodok dan jangkrik menggantikan suara siang.

Aku berdiri di kejauhan. Memandang dan merasakan udara yang mulai mendingin, perlahan-lahan menyelimuti desa. Angin mulai berhembus berirama. Mula-mula berdesir lembut menggoyang pucuk-pucuk padi di sawah dan ilalang di padang rumput. Namun berangsur-angsur mulailah angin merajalela, berhembus kencang, menggoyang dahan pohon, dedaunan beringin dan buah papaya di atas pohon.

“Malam sudah datang.” Kataku dalam hati, sambil memicingkan mata, menajamkan telinga untuk memastikan semua itu. Aku mulai beringsut-ingsut melangkah, bernaung di bawah bayang-bayangku sendiri dan di bawah lampu jalanan yang hanya ada  beberapa buah. Tekadku sudah bulat malam ini. Aku harus melaksanakan rencana yang telah kususun sekian lama.

Tak ada satupun penduduk desa terlihat berjalan dalam kegelapan malam ini. Mungkin mereka sudah terlalu lelah dengan hari-hari sibuk siang tadi. Mereka memilih menikmati malam dengan secangkir kopi panas, ketan goreng dan kursi goyang dalam hangatnya ruang rumah mereka. Hanya sesekali kulihat burung-burung terlihat berhamburan terkena sorotan sentolopku. Mungkin mereka lupa malam telah tiba, hingga terlambat mencari tempat peraduan malam.

Aku menyusuri jalan setapak berbatu-batu menanjak yang ada di hadapanku. Semakin jauh aku meninggalkan desa. Semakin tak tersisa nyala lampu jalanan di sisi kanan jalan. Sedangkan rumah-rumah penduduk sudah mulai berjarak berjauhan satu sama lain.  Gelap menyelimutiku. Hanya sentolop kecil satu-satunya penerangku. Sentolop ini kupinjam dari teman baruku siang tadi.

“Sedikit lagi !” kataku menyemangati diriku sendiri. Nafasku mulai tersenggal-senggal, sehingga aku memperlambat kecepatan langkahku. Mencoba mengatur nafas, menghapus peluh yang membanjir, sekalipun udara sangat dingin. Asma membuatku tak bisa bernafas dengan normal ketika berjalan di permukaan menanjak seperti ini. Namun tekadku untuk memiliki kenangan akan tempat ini, lebih kuat di banding desakan asma yang menghimpit dadaku, memotong nafasku menjadi pendek-pendek.

Akhirnya samar-samar kulihat di ujung jalan, langit dan bintang-bintangnya mulai memperlihatkan diri. Pepohonan rindang yang berbaris di kanan-kiriku mulai terhenti di ujung jalan menanjak ini. Sampailah aku di tanah persawahan yang luas, yang di atasnya terlihat langit dan bintang-bintang menyatu dengan pematang sawah. “Indah sekali !” kataku kencang dalam pikiran namun suara hanya lirih keluar dari mulutku. Tuhan teramat baik.

Kunang-Kunang & Bintang-Bintang

Kususuri pematang sawah bercahayakan bintang dan sentolop kecilku. Sengaja aku tidak membawa ponsel, karena ingin menikmati malam terakhir yang tenang di tempat ini. Samar-samar kulihat di tengah sawah menara itu. Beberapa hari yang lalu aku melihatnya saat melintasi daerah ini, saat berbonceng melaju dengan sepeda onthel milik teman baruku di desa ini.

Menara yang kulihat ini membuat pikiranku melanglang buana, berimajinasi tak terbendung. Dan kemudian, aku bertekad sebelum pulang harus berada di sini, di waktu malam. Inilah waktunya. Disinilah aku sekarang. Aku tersenyum sambil memandang menara kecil namun kokoh yang terbuat dari rangka besi dipadu kayu pada bagian puncak bangunan dan atapnya. Sejenak aku teringat Arboretum di Universitas Padjajaran, Jatinangor, Bandung. Di tempat itu ada menara pengamat seperti ini. Dan juga kuingat menara yang sama di Wasur National Park, Merauke, Papua.

Kupandangi menara itu dari bawah. Di atas kulihat bintang malam menghiasi atapnya dengan indah. Aku bertekad, akan melihat keindahan yang lebih dari atas sana. Jika dulu di Arboretum Universitas Padjajaran dan Wasur International Park aku tak berani menaikinya, karena aku takut ketinggian, maka saat ini aku harus bisa, demi pemandangan yang pasti luar biasa di atas sana. Kurapatkan jaketku, kukantongi sentolopku. Dan aku atur nafasku, berhitung mundur, tiga hingga satu. “Hupppp!” Aku mulai menaiki anak tangganya perlahan-lahan, tanpa berani menengok kebawah.

Aku menahan nafas melihat pemandangan di sekelilingku dari atas menara pengamat. Sawah terbentang luas. Nampak tenang dan damai dalam kegelapan malam. Bintang-bintang memberi cahaya secukupnya. Pemandangan yang remang-remang justru membuat semua seperti terlihat misterius dan indah. Angin menerpaku kencang di atas menara, membuatku sedikit gamang, dan segera meraih tiang menara di sebelah kananku.

Dan, tiba-tiba nampaklah sesuatu yang luar biasa di bawah sana. Ada di antara rumpun padi yang rimbun dan bergoyang-goyang. “Kunang-kunang” desisku tak percaya. Ratusankah?, atau ribuankah jumlahnya?, aku tak tahu. Kawanan itu tiba-tiba muncul bergerombol di bawah sana. Seperti segenggam katai yang tiba-tiba di lemparkan dari langit, lalu melayang, merebak, memenuhi sela-sela rumpun padi. “Wooowww” aku kagum dan tak sadar menahan nafas . melihat tanpa berkedip. Aku tersihir, lupa takutku, lupa sedang berada di sebuah ketinggian di tengah sawah malam-malam buta. Kini kutahu segala hal dapat kita capai dengan usaha keras, tanpa ketakutan. Hanya perlu tekad. Keindahan ini adalah salah satunya.

Warna-warni mereka terlihat jelas, antara kuning, merah terang, hijau dan orange. Berkedip-kedip dengan sangat indahnya seperti lampu tumbler yang dipasang di pohon Natal ketika Desember tiba. Aku bahagia malam ini. Aku bahagia karena kunang-kunang telah menebarkan cinta dalam cahayanya kepadaku. Kunang-kunang membawaku terbang ke masa kecilku yang bahagia, nun jauh di kampung halamanku. Aku ingin bersegera pulang.  Lirih ku menyapa mereka “ Kunang-kunang janganlah pergi .”

 

Malang, Mei 2021

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here