Kontemplasi Satu Tubuh

0
489
Foto koleksi: R@photo.doc

 

(1)
Wajah-wajah yang menatapku
adalah wajahku yang berganti rupa
tawamu itu tawaku
sedihmu pun sedihku
tapi amarahmu
adalah sabarku

(2)
Warna mataku yang coklat
adalah benturan budaya yang tak berdaya
angin, air, api dan tanah, di sekitarnya
aku tumbuh, menatap jelatanya dunia
warna-warna bertumpukan
serupa hidup yang berhimpitan
tapi hitam dan putih
tak akan pernah menjadi coklat

(3)
Punggungku yang kian membungkuk
adalah jarak antara kearifan, penghormatan dan kedunguan
tapi di situ tempatmu
: sembunyi

(4)
Ketika tanganku nyeri kaku
adalah belenggu sepanjang hidup
hanya angin yang mampu bergayut
dan kepedihan tanpa daya atas sejarah
yang tak dapat kutulis

(5)
Perut ini pertanda kehidupan
adalah tempat menampung segala rejeki
menyimpan buah keringat dan cinta
yang kelak jadi penentu
dan saksi atas apa yang telah kunikmati

(6)
Manakala kakiku tak segesit dulu
adalah buah penyesalan
yang tersangkut di pecahan bulan
pada malam
ketika Tuhan menegurku
: bacalah !



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here