Just Do It

34
1700

Prokrastinasi – Perusak Hidup

Saya tertegun saat melihat poster di atas, yang berkata kurang lebih begini:  “Prokrastinasi. Pilihan yang bikin hidupmu berantakan untuk alasan yang gak jelas.” “Ini gue banget”, pikir saya.

Ya, jujur saya harus mengaku bahwa saya adalah seorang prokrastinator atau seorang penunda akut. “Kalau bisa nanti atau besok, kenapa mesti dikerjain sekarang sih?” adalah filosofi saya dulu. Saya sadar, betapa prokrastinasi sudah membuat hidup saya “lebih menderita dan berantakan daripada seharusnya.”

Setelah bertahun-tahun menjadi seorang prokrastinator atau pecandu prokrastinasi, saya akhirnya bisa sedikit demi sedikit “sembuh dari kecanduan” prokrastinasi. Ijinkan saya berbagi sedikit pengalaman saya di sini ya teman-teman. Harapan saya semoga tulisan ini bermanfaat menghindarkan teman-teman dari “kecanduan” prokrastinasi, yang bisa membuat kita kehilangan banyak waktu dan kesempatan-kesempatan dalam hidup.

Kata prokrastinasi memang belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam bahasa Inggris katanya disebut procrastination dan oleh Google Translate hanya diterjemahkan sebagai “penundaan”. Dalam kata-kata saya, prokrastinasi berarti “kecanduan penundaan parah yang membuat hidup berantakan”.

Dalam psikologi, prokrastinasi berarti “tindakan mengganti tugas berkepentingan tinggi dengan tugas berkepentingan rendah, sehingga tugas penting pun tertunda.”

Saya banyak melakukan prokrastinasi, dan karenanya saya kehilangan banyak waktu dan kesempatan. Salah satunya, saya terlambat lulus dari perguruan tinggi, lebih lambat dan dengan nilai yang lebih rendah daripada teman-teman yang saya tahu tidaklah lebih pinter dari saya. Alangkah sayangnya, dan alangkah bodohnya. Bukan bodoh otaknya, tapi bodoh prokrastinasi-nya.

Banyak contoh-contoh lain lagi sebetulnya sih, seperti misalnya saya menunda dan membiarkan saat gigi masih bolong kecil, dan akhirnya terpaksa ke dokter gigi saat bolong sudah besar, saat sudah semakin sakit dan akhirnya semakin mahal bayar dokternya. Seperti kata lagu “lebih baik sakit gigi daripada bayar dokter gigi” (eh, salah ya?).

Begitu juga saat kendaraan ada gangguan kecil, saya memilih membiarkannya dan terus memakainya, sampai akhirnya jadi gangguan besar, dan ongkos bengkelnya juga besar.

Setelah banyak kerugian dan kesempatan yang hilang, padahal bukan karena saya tidak mampu, maka saya memutuskan untuk “bertobat dari kecanduan” terhadap prokrastinasi. Sebagaimana semua jenis kecanduan, seperti rokok, alkohol, judi, obat-obatan berbahaya (katanya lho), tidaklah mudah untuk menghentikan kecanduan yang satu ini.

Sesudah bertahun-tahun tanya-tanya sini sana, konsultasi sini sana, dan google sini sana, maka akhirnya saya ketemu cara-cara yang sebetulnya sederhana, namun sekali lagi perlu kesungguhan dan komitmen. Ini semua pengalaman murni. Saya mendapatkan ini semua setelah banyak trial and error coba-coba yang gagal. Beberapa cara yang paling efektif saya bagikan di bawah ini. Ini namanya berbagi lho ya, bukannya mau menggurui.

  1. Mulai Saja Dulu. Sekarang. Di sini.

Jauh sebelum situs jual beli online terkenal itu meluncurkan tagarnya yang sangat terkenal, saya sudah sadar bahwa hal yang paling sulit dilakukan oleh seorang prokrastinator adalah memulai. Namanya saja prokrastinator, penunda akut, ya pastinya malas memulai.

Perlu kemauan keras bagi saya untuk memulai. Kebanyakan hambatan berasal dari terlalu banyak memikirkan suatu tugas atau kewajiban sebagai suatu beban, yang hanya bisa dilaksanakan kalau segala sesuatunya sudah “tepat”. Sesudah jatuh bangun dan berulang-ulang kembali kepada kecanduan yang lama, maka saya menemukan “pencerahan” bahwa kalau kita berpikir sesuatu itu harus serba tepat, kita akan selalu malas memulai.

Salah satu yang membuat kita tidak mulai-mulai adalah kecenderungan untuk menunggu sampai segala sesuatunya tepat. Waktu yang tepat, tempat yang tepat, orang-orang yang tepat, punya alat yang tepat, punya jumlah modal yang tepat. Kalau ini kita lakukan, ya sampai kapanpun kita tidak akan mulai apa-apa, karena menunggu sampai segala sesuatu itu harus tepat itu sama seperti menunggu ke-sembilan planet dalam tata surya membentuk satu garis lurus, alias “tidak akan pernah.”

Yang harus kita miliki secara tepat adalah Sikap yang tepat: “Waktu yang tepat adalah Sekarang, Tempat yang tepat adalah Di sini, Orang yang tepat adalah Saya Sendiri. Alat yang tepat adalah apa yang kupunya sekarang. Pokoknya, mulai saja dulu deh.

  1. Prinsip Mencicil

Start small. Jika kita berpikir bahwa sesuatu itu ringan, maka dengan segera kita ingin memulai, supaya cepat selesai. Contoh sederhana: saat saya memulai latihan lari, kesulitan utama adalah bangun pagi dengan membayangkan jarak yang harus ditempuh. Solusi saya: memulai dari sedikit. Saya memulai dari lari 1 kilometer saja. Dalam beberapa menit saja saya sudah selesai. Saya tentunya masih mampu berlari lebih jauh, tapi saya batasi cukup segini hari ini. “Besok tambah larinya, tapi jangan banyak-banyak”, pikir saya.

Dengan memulai dari sedikit, saya memberi pesan  bagi pikiran saya bahwa “berlari itu mudah dan cepat selesai, kok.” Nah, besoknya saya tambah lari sedikit, besoknya lagi tambah sedikit lagi, dan seterusnya sampai itu menjadi sebuah habit. Setelah habit itu terbentuk, satu hambatan untuk memulai sudah runtuh. Hasilnya, saya bangun pagi dengan semakin mudah, dan lari saya semakin jauh dengan berjalannya waktu. Hasil penelitian para ahli, perlu 21 hari untuk membentuk sebuah habit. Sesudah hari ke-21, segalanya akan terasa jauh lebih mudah.

Hal itu saya terapkan pada banyak hal lain yang sudah ingin saya lakukan sejak lama, tapi selalu saya tunda. “Memulai dengan sedikit” dan menambahnya sedikit-sedikit sangat membantu saya meruntuhkan mental block untuk malas memulai. Kalau teman-teman mau memulai sesuatu langsung banyak sih boleh saja asal bisa konsisten. Nah, saya ini orangnya gak konsisten.

Tambah porsi apapun yang mau dilakukan atau dipelajari, dengan cara mencicil. Dengan cara mencicil, kita menghindari mental block yang terus berpikir, “aduh, banyak banget”,  “aduh, berat banget”, atau “aduh, susah banget”.

Contohnya, lebih ringan membaca sepuluh halaman setiap hari daripada membaca seratus halaman setiap sepuluh hari, dan tidak membaca apa-apa selama sepuluh hari berikutnya. Lebih ringan menyetrika sepuluh baju sehari daripada menyetrika tujuh puluh baju sekali seminggu (pada hari ketujuh itu, membayangkan menyetrika tujuh puluh baju saja sudah pasti aduhai rasanya). Selalu lebih ringan melakukan sesuatu dengan cara mencicil daripada menumpuk. Hasilnya juga pasti lebih baik. Ini saya berani bilang karena sudah mengalami sendiri.

Alm. Bruce Lee, master beladiri legendaris, pernah mengatakan: “Aku tidak pernah takut akan seseorang yang telah berlatih melakukan 10.000 tendangan sekali waktu, tapi aku takut terhadap seseorang yang berlatih melakukan satu tendangan 10.000 kali.” Ini beliau katakan karena beliau sadar, orang yang melakukan satu tindakan kecil berulang-ulang selama beberapa waktu akan jauh lebih menguasai apapun yang dilakukannya daripada orang yang melakukan sangat banyak tindakan tapi hanya pada satu kesempatan saja. Dalam hal ini beliau mengingatkan kita tentang prinsip mencicil.

  1. Just Do It

Just Do It” adalah satu slogan pemasaran yang paling populer yang dikenal  oleh berbagai generasi di seluruh dunia. Slogan yang sebetulnya sangat sederhana namun menjadi sangat terkenal sejak dipopulerkan oleh salah satu merek pakaian olahraga terkenal. Ada cerita menarik namun bernuansa “gelap” di balik slogan tersebut.

Slogan tersebut berasal dari seorang terpidana mati di Utah, AS, bernama Gary Gilmore di tahun 1977. Gilmore dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan seorang petugas pengisian bahan bakar dan manajer motel.

Saat akan dieksekusi, Gilmore ditanya apakah dia memiliki kata-kata terakhir untuk disampaikan. Lalu ia hanya menjawab, “Let’s do it” (Ayo lakukan), santai dan tanpa merasa ragu sama sekali menjelang eksekusi.

Saat N**e, perusahaan pakaian olah raga terkenal tersebut, sedang mencari inspirasi slogan pemasaran yang sederhana, mudah diingat dan efektif, ide kata-kata terakhir Gilmore tersebut tercetus, dengan sedikit modifikasi menjadi “Just do it” yang saat ini menjadi sangat terkenal.

Slogan tersebut menjadi populer dan diucapkan sebagai satu motivasi untuk “Pokoknya lakukan saja, jangan kebanyakan mikir dan kebanyakan alasan.” “Masa kalah semangat sama terpidana mati?”

Just Do It” (“Pokoknya Lakukan Saja Deh”)  juga menjadi  pemicu saya saat saya malas memulai, saat saya tergoda mencari alasan, saat ada kesulitan (dan dijamin pasti selalu akan ada), saat melihat orang lain yang sudah sukses duluan, saat saya merasa kok gak ada kemajuan apa-apa, atau juga pada saat merasa tidak ada yang menghargai usaha saya.

Gambar di atas tentang ukuran kaos lebar (untuk orang berukuran lebar) bertuliskan “Just Watch” dan kaos lebih kecil bertuliskan “Just Do It” menggambarkan bahwa dengan “Melakukan (Do) Sesuatu”, tentu hasilnya juga beda dengan hanya “Melihat atau Menonton (Watch)” (apalagi nonton nya sambil komentar nyinyir). Melakukan sesuatu sekecil apapun tentunya jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun, meskipun seringkali hasilnya tidak akan langsung terasa secara instan. Seperti yang sering kita dengar, “Hasil tidak akan mengkhianati usaha.” Tentunya bukan berarti orang-orang berbadan lebar itu artinya tidak ada usahanya, bukan ke situ arah pesan saya.

So, just do it sampai segala sesuatu yang teman-teman kerjakan benar-benar selesai, okay?

  1. Reward Yourself

Setelah teman-teman berhasil mengalahkan mental block kecanduan prokrastinasi, jangan lupa berikan reward atau hadiah untuk diri sendiri. Apa hadiahnya, kalian sendiri yang tau pastinya. Bisa es krim, bisa coklat, bisa nonton serial favorit di Netflix. Apa aja deh. Tapi konsisten ya, hadiahnya gak boleh dinikmati sebelum komitmen kewajiban hari itu selesai dilaksanakan, meskipun kalian sih bisa saja dengan mudah membuka kulkas itu untuk ambil es krim nya sendiri. Jujurlah pada diri sendiri ya teman-teman.

Percayalah, memberikan reward  atau hadiah bagi diri itu sangat memotivasi, dan hadiah yang didapat dengan susah payah itu pastinya lebih nikmat daripada hadiah yang didapat secara gampang.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kata-kata bijak dari seorang bernama Lau Tzu:  “Perjalanan ratusan mil dimulai dengan satu langkah.” Artinya, sesuatu yang besar harus dimulai dengan tindakan kecil pertama. Langkah pertama, kata pertama, halaman pertama, ketikan pertama, dan seterusnya. Tentunya, ya jangan berhenti setelah langkah pertama dong. Just do it, and keep doing it, till the finish line.

Hal-hal di atas adalah hal-hal yang sederhana saja, berdasarkan pengalaman saya sendiri. Jadi ini bukanlah pendapat ahli atau pakar gimana gitu, tapi yang jelas sudah terbukti berhasil pada saya. Semoga bermanfaat untuk teman-teman semua juga. Just Do It.

Tangerang, 5 November 2020

34 KOMENTAR

  1. Aduh kk Peter.. saya banget itu kk..
    Procrastination saya juga sudah menempel bahkan melekat pada diri saya.

    Makasih tipsnya.. semoga saya bisa terlepas dari kebiasaan buruk ini..👍🏼

  2. Siip banget kak peter tipsnya .moga bisa memulai perubahan dengan menerapkan tips yang disampaikan kak peter,sehingga kita bisa memanag waktu sebaik- baiknya.Aamiin.

  3. Hiks… Saya banget Kak Piet… Masih suka moody untuk melakukan sesuatu
    Tulisan ini, benar-benar menginspirasi saya untuk segera berubah
    Terima kasih Kak Piet…
    Saya tunggu karya selanjutnya…^^

  4. Berasa banget saya Mas Peter , banyak orang yg tau tapi tidak bisa merasakan, banyak orang merasakan tapi tidak banyak yg menuangkan . Mas Peter tau , merasakan dan menuangkan dalam tulisan . Mantap , tetap maju terus dan selalu menjadi orang yg bersahaja .

  5. Peter… ga nyangka deh, ternyata bakat nulisnya luar biasa. Luar biasa juga materi dan gaya penulisan… suka banget. Ijin share ya… materi bagus utk menyadarkan teman2 lain, beruntung nih ada tulisan ini. Good luck ya bro!

    • Terimakasih banyak Mbak Niela. Hehe masih belajar juga kok Mbak. Mari sama² saling menginspirasi dan menyemangati. All the best selalu Mbak 🙏😀❤️

  6. Dari baca judulnya aja, udh kayak kisah nyata saya (taelaa..). Beneran Kang, baru ngalamin kejadian itu🤭.

    Tugas akhir utk mahasiswa, sesuatu banget deh..
    Saya buat, baca lagi, terus review dibaca lagi, ada yg kurang, poles lagi, dst.. dst..
    Kayak kurang lengkap n kurang sempurna gitu..😃
    Akhirnya yakinin diri ‘tuk kumpulin.. Alhamdulillah bisa ikut ujian n maju
    tahap berikutnya 🤲

    Waahhh jd panjang ceritanya nih. Hahahaha…

    So, pembelajaran diri.. time management itu penting banget utk kehidupan yg lebih baik dimasa yad. Waktu itu berharga bangettt.. nuhun advice-na

    Sukses ‘tuk Kang Peter..

    • Hatur nuhun Kang Didiet. Wah senang bisa menginspirasi. Mari sama² saling menginspirasi dan menyemangati Kang. Sukses selalu ya! 🙏😄👍

  7. Sering saya geer dan berfikir apa hanya saya yang “menjebakkan diri” dalam lingkaran hidup malas dan hampir selalu menunda hal/kegiatan yang seharusnya dilakukan,tapi makin hari makin sadar ini problem/ujian bagi sebagian besar umat manusia(khususnya warga Indonesia,tepatnya saya!hehe).
    Terimakasih share info,tips&pengalaman pribadinya bung Peter.Salam semangat “Just Do It”.
    Nek Wani Ojo Wedi-wedi,Nek Wedi,Ojo Wani-wani!

  8. Kadang gak sadar nih kita terlalu nyaman dgn sering menunda, lama2 jadi kebiasaan. Makasih Peter sdh berikan tips utk jd lebih baik. “Do what you can do now, sometimes later becomes never”. Ditunggu tulisan2 menginspirasi lainnya. Good job!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here