Menjadi Seorang Teladan

0
536
kompasiana.com

 

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”  (1 Timotius 4:12)

Ayat ini sangat terkenal di kalangan anak muda Kristen. Saya rasa hampir setiap anggota organisasi kepemudaan Kristen baik itu di gereja atau institusi kemasyarakatan pasti hafal ayat ini.

Timotius, sosok pemuda Kristen yang lahir dari keluarga campuran. Ibunya seorang berdarah Yahudi sementara Bapaknya adalah seorang Yunani. Dan dalam perjalanan hidupnya menjadi murid dari Rasul Paulus. Sebagai seorang Mentor, Rasul Paulus mau muridnya ini menjadi panutan banyak orang. Seperti impian semua orang tua ketika anaknya lahir, mereka pasti berharap dan berdoa agar anaknya mampu menjadi manusia yang baik, berguna bagi sesamanya dan membanggakan keluarga.

Masa muda merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan. Perkembangan yang dimaksud bukan berarti dalam masa remaja maka orang itu baru dikatakan berkembang dalam kehidupannya. Perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan ke arah yang lebih baik lagi dari semula. Masa remaja sering disebut sebagai masa yang penuh gejolak dan masalah. Pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah atau deadline dan tekanan pekerjaan yang ada di kantor terlalu banyak menuntut waktu dan perhatian, belum lagi adanya tuntutan orang tua sering kali menambah beban generasi muda dalam pergaulan mereka sehari-hari. Tuntutan yang terlalu banyak sering membuat seseorang ingin meninggalkan kebiasaan atau rutinitas itu dan ingin “pergi berpetualang”. Nah, dalam “petualangannya” ini sering kali seorang muda Kristen kehilangan identitas atau lupa diri.

Kembali pada ayat di atas. Ketika kita membaca ayat di atas, kebanyakan dari kita terperangkap dalam 2 konsep pemikiran :

  1. Pemikiran bagaimana saya bisa menjadi teladan sementara saya masih muda, saya tidak dan belum punya banyak pengalaman hidup dan seterusnya. Dan ini paling sering menjadi alasan untuk menolak tanggung jawab sehingga banyak anak muda yang cukup puas menjadi pengikut saja.
  1. Pemikiran bahwa pemuda harus jadi pemimpin. Apalagi kalau ayat ini digabungkan dengan perkataan Presiden Soekarno : Berikan aku 10 pemuda niscaya akan ku goncangkan dunia. Sejujurnya saya termasuk yang pernah berpandangan demikian juga ketika masih muda dan aktif di salah satu organisasi kepemudaan gereja. Saya beranggapan bahwa banyak kesalahan yang terjadi saat itu akibat “kesalahan generasi yang lebih tua dan bukan kesalahan generasi saya”. Sehingga bagi saya saat itu proses pergantian kepemimpinan harus dilakukan.

Kalaupun ada generasi muda saat ini mampu menjadi pemimpin itu bagus. Tapi sebenarnya cepat atau lambat semua orang muda pasti akan menjadi pemimpin. Ketika menikah kalau ia laki-laki maka ia akan menjadi kepala keluarga, memimpin keluarganya. Kalau dia perempuan dia akan memimpin dan mendidik anak-anaknya di rumah, mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin lagi di masa depan.

Sementara dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat pergaulan pemuda sekarang ini bisa dikatakan sudah tercemar. Pergaulan bebas, kenakalan remaja, sifat materialistis, hedonisme adalah salah satu bentuk model pergaulan kaum muda yang sudah tercemar. Dalam situasi seperti inilah, ayat ini mau menunjukkan kepada kita untuk tetap menjadi teladan. Kaum muda kristen harus mampu menahan diri dari godaan duniawi seperti layaknya Timotius. Ayat ini secara jelas menunjukkan bagaimana seorang muda Kristen harus bertindak. Bagaimana seorang muda Kristen harus menjadi teladan, bukan sekedar pemimpin di lingkungannya. Dan faktor muda tidak bisa menjadi alasan menghindar atau tidak dapat melakukannya.

Jangan habiskan masa muda yang diberi Tuhan kepada kita dengan hanya mengerjakan hal yang sia-sia. Jangan berpendapat, umur masih muda, jadi sekarang bebas berbuat apapun karena nanti bisa bertobat. Toh penjahat yang disalib disebelah kanan Kristus saja mendapat pengampunan, apalagi saya yang dari lahir sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus. Ingatlah, batas umur kita sebagai manusia tidak ada yang tahu, karena untuk mati tidak perlu harus menjadi tua terlebih dahulu.

“….dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. Bagian ayat ini bisa dilakukan oleh siapapun, saya dan anda bisa melakukannya tanpa melihat berapa umur kita. Ayat ini pun tidak berbicara orang muda harus serta merta menjadi pemimpin. Ayat ini mengingatkan kita kembali, ada hal yang harus dibuat oleh kita terlebih dahulu selaku orang muda Kristen agar bisa menjadi terang dan garam bagi orang-orang di sekitar kita.

Senantiasa berbuatlah baik. Kita tentu tidak bisa berharap orang tidak akan memandang rendah kita bila kita suka memaki orang lain, suka merendahkan orang lain, berperilaku jauh dari yang dikatakan Firman Tuhan. Menjadi tauladan berarti kita menjadi saksi hidup atas Firman Tuhan. Dan Ingat, Firman tanpa perbuatan adalah mati.

Semoga renungan ini menguatkan kita semua dan memberi semangat baru untuk menjadi saksi Kristus melalui perkataan dan perbuatan kita, di manapun dan apapun jabatan kita. Amin.

 

Roi Utoro H, seorang ayah muda berdarah Indonesia yang sedang bermukim di Tawau Sabah, Malaysia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here