Inilah Bahayanya Malas Membaca!

0
437
Sumber Ilustrasi : muslim.or.id

“Yang paling berbahaya dari malas membaca adalah meningkatnya minat komentar namun tanpa data.”

Suatu hari saya diajak berdiskusi. Berdebat, lebih tepatnya. Karena pernah dekat dengan orang tersebut dalam beberapa kerjasama, akhirnya ajakan debat itu saya penuhi.

Sebelum berdebat, saya mengajukan dua syarat. Pertama, saya meminta padanya untuk menyediakan data dari setiap pernyataan yang disampaikannya.

Kedua, saya meminta untuk berbicara secara bergantian. Maksudnya, ketika dirinya berbicara, saya akan mendengarkan selama apa pun penyampaiannya. Dan jika tiba giliran saya, maka dirinya pun harus diam. Tanpa memotong, tanpa menjeda. Orang itu setuju.

Debat pun dimulai. Dirinya lebih dahulu bicara.

Penyampaiannya cukup singkat. Lebih banyak menyampaikan opini dan beberapa informasi yang hanya berdasar “katanya-katanya”. Pemaparan yang singkat. Jauh lebih singkat dari yang saya kira.

Lalu giliran saya berbicara. Namun sebelumnya, saya meminta data yang menjadi dasar atas beberapa pernyataan yang sempat disampaikannya. Ternyata data-data itu enggak ada. Dan semua paparannya, lagi-lagi hanya informasi yang berdasar “katanya”.

“Ohh…,” batin saya.

Singkat cerita, saya sudah selesai menyampaikan pemaparan. Enggak lupa, saya sodorkan juga data-data yang menjadi dasar pernyataan yang saya sampaikan. Saya minta dirinya untuk membaca.

“Enggak, ah. Males. Banyak banget,” jawabnya.

Mendengar ucapannya, detik itu juga saya langsung berdiri, pergi, dan mengakhiri diskusi yang akan masuk ke sesi perdebatan. Namun masih sempat menyampaikan satu kalimat persis ke arah mukanya yang bulat.

“Lain kali, kalau kamu masih malas untuk membaca, enggak usah mengajak orang lain untuk diskusi apalagi berdebat!”

Iya, kurang lebih seperti itulah saya saat berhadapan dengan mereka yang malas membaca. Alih-alih berdiskusi, saya akan lebih memilih untuk diam. Pura-pura bodoh, toh kewarasan enggak harus selalu ditunjukkan. Atau, memilih untuk membahas topik lain saja yang lebih ringan.

Untuk apa berdebat dengan lawan bicara yang memiliki kemalasan untuk membaca. Opininya pasti akan penuh dengan emosi pribadi. Bigotri. Ujungnya, ad hominem enggak jelas. Basi.

Berbeda bila berada di situasi diskusi yang lain. Saya pernah berdiskusi dengan seseorang yang sarat ilmu. Terlihat level keilmuannya dari gayanya berbicara.

Di hadapan orang yang semacam itu, saya akan buru-buru mengosongkan cangkir ilmu. Bergaya menjadi manusia bodoh sebodoh-bodohnya dan banyak bertanya dengan sopan. Cara ini selalu saya lakukan, agar lawan bicara mengeluarkan segala pengetahuan yang dia punya. Lalu menjadi pengetahuan baru bagi diri saya.

Ingatlah ini, Firguso. Yang paling berbahaya dari malas membaca adalah meningkatnya minat komentar tanpa data. Persis seperti cerita debat di atas.

Bicara asal njeplak, enggak berdasar data-fakta sebagai dasar penyampaiannya. Ngalor-ngidul enggak jelas, berujung “katanya-katanya”.

Boro-boro kita akan mendapat ilmu baru. Yang ada, justru buang-buang waktu. Belum lagi, saat lawan bicaramu mengeluarkan jurus bapernya yaitu ad hominem. Kelar hidupmu!

Kriiik,…Kriiik,…Kriiik,…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here