Cinta Sunyi Tumaruntum

0
343
Sumber Ilustrasi : idntimes.com

“Cinta sang raja, telah bersemi kembali. Sama besarnya, dengan cinta sang permaisuri.”

Kala itu sekitar tahun 1749–1788 M di Kesultanan Surakarta Hadiningrat. Seorang permaisuri bernama Ratu Kencono atau Ratu Beruk mengisi hari-harinya dengan penuh kesepian.

Tak ada satu pun kebahagiaan yang dapat ia rasakan lagi selain perenungan dalam kesunyian malam. Kesedihan membelenggu jiwa. Sebagai istri raja, ia tak dapat memberikan keturunan sebagai penyambung takhta.

Seiring dengan itu, kepedihan makin mengharu-biru. Keinginan suami sang pujaan hati, tak dapat diganggu gugat lagi. Sang raja ingin menikah lagi. Mempersunting selirnya. Berpoligami!

Hari–hari Ratu Kencono semakin dipenuhi kepedihan. Ia mulai diacuhkan oleh Raja.

Sejak saat itu, dalam tiap kesunyian malam permaisuri hanya duduk berlama-lama di taman bunga. Matanya selalu memandangi bintang-bintang yang bertebaran di angkasa. Seolah, hanya merekalah yang memahami kesedihan hatinya. Tiap malam. Di setiap keheningan.

Hingga suatu malam, bintang-bintang itu mulai ia lukiskan pada selembar kain. Ia membatiknya. Sinarnya, biasnya, titik-titiknya. Ia babarkan jelas pada kain pilihan. Setiap malam, sebagai pengalih kesedihan.

Hampir setiap malam tiba, ia melakukan itu. Berbulan-bulan memakan waktu, permaisuri selalu tidak berada di kamarnya jika malam tiba. Ia bercengkerama dengan bintang-bintang malam di taman nan penuh harum wangi bunga. Meluapkan kesedihan pada guratan-guratan lilin malam. Ia tak peduli lelah, asalkan kepedihannya terobati.

Suatu hari, raja mencarinya. Hal yang diluar dugaan, mengingat sudah lama sekali raja tidak memperhatikan permaisuri. Namun malam itu, raja ingin menemuinya guna membicarakan kembali rencana poligaminya.

Setelah nihil menilik kamar permaisuri, raja mendapatinya sedang penuh kesabaran dan ketenangan jiwa bersama bintang-bintang di motif kainnya.

Diam-diam raja memperhatikan. Terus mengamati dengan saksama, ketekunan sang permaisuri di bawah cahaya purnama. Raja terus mengamati.

Sesekali, sang permaisuri terdengar terisak. Menarik napas panjang demi menahan tangis yang mendalam. Kemudian kembali melanjutkan goresan batiknya. Begitu, terus berulang.

Permaisuri berupaya mendekatkan diri pada Tuhan sambil meneruskan batiknya. Demi mengisi kekosongan. Baginya membatik sudah seperti berzikir pada Sang Kuasa.

Raja terus mengamati. Ia sudah mulai lupa dengan niatnya untuk membahas rencana poligami. Raja merasakan apa yang ada dalam jiwa permaisurinya. Paduka tersentuh, perasaan yang telah lama hilang mulai menjalar lagi. Cintanya tumbuh kembali.

Tak kuasa menahan rasa gelora di jiwanya, raja pun menampakkan diri. Mendekati Permaisuri yang tampak berulang menyeka pipi.

Permaisuri tersentak. Sedangkan raja masih terkagum-kagum dengan motif bintang-bintang yang dibuat oleh permaisuri. Dirinya merasa tak pernah melihat batik seindah itu sebelumnya.

Yang lebih menghujam lagi saat ia mengetahui bahwa motif itu, adalah persembahan dari permaisuri untuk dirinya. Juga ketika raja tahu, bahwa yang dilakukan permaisuri itu adalah sebuah cara untuk membuat tegar hatinya yang pedih. Kehancuran hati permaisuri yang sebelumnya tak pernah diketahui oleh raja.

Kemudian raja melihat kain itu lebih dekat. Mengamati ketelitiannya. Ada sudut yang sama dalam tiap motifnya. Dengan pola yang tak berubah. Menurut permaisuri, maknanya adalah bahwa apapun yang dilakukan oleh raja, perasaan cinta permaisuri tak akan pernah berubah pada sang raja.

Sontak, saat itu juga raja memeluk sang permaisuri. Ia kembali jatuh cinta pada ratunya. Raja tak dapat memungkiri perasaannya yang membuncah tiba-tiba. Raja minta maaf. Detik itu pula, raja membatalkan rencana poligaminya.

Cinta sang raja, telah bersemi kembali. Sama besarnya, dengan cinta sang permaisuri. Taman bunga itu, menjadi saksi sebuah cerita. Tumaruntum.

Hingga saat ini batik motif truntum dijadikan perlambang cinta yang tak terbatas dan tak berkesudahan. Batik ini biasa dipakai oleh orang tua pengantin saat pernikahan anaknya. Dengan harapan cinta kedua orangtua dilanjutkan oleh keluarga anaknya setelah menikah.

Kriiik,…Kriiik,…Kriiik,…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here