Cerita Para Ibu Tunggal Pejuang

28
1670
Pengemudi ojol wanita, sering terpaksa bawa anak, dorong motor mogok.

“Duit tinggal 1000 Rupiah? Pernah.

Lauk tinggal telor 1 biji? Pernah.

Pura² sudah kenyang asal anak² tidak kurang makan? Pernah.

Seharian tidak dapat order satupun? Pernah.

Dorong motor mogok 5 km siang panas terik karena tidak ada duit buat ke bengkel? Pernah

Dicurigai Pelakor? Pernah…

Dilecehkan? Pernah.

Dll…dll…

Tapi menyerah? Insya Allah TAK AKAN pernah…

Sebelum kalian menghakimi kami, para single mom, cobalah jalani hidup kami sehari saja, dan insya Allah kalian akan tahu bagaimana rasanya…”

Sepenggal kisah di atas adalah cerita perjuangan Ratih, seorang ibu tunggal atau single mom. Saya mendapati kisahnya di Facebook. Kisahnya membuat saya trenyuh. Saya meminta ijin kepadanya untuk menuliskan sepenggal kisahnya di atas.

Ada semakin banyak ibu tunggal dalam masyarakat kita. Dari 5000 pertemanan di akun Facebook saya, mungkin ada ratusan teman yang berstatus ibu tunggal. Saya tak mungkin tahu jumlah pastinya, dan tak ingin kepo untuk mencari tahu.

Saya memang pernah membaca bahwa di Indonesia setiap tahun ada sekitar dua juta pernikahan, dan ada setengah juta perceraian. Jika ini menjadi acuan, maka satu dari empat pernikahan berakhir dengan perceraian.

Suatu hari saya tanpa sengaja bertemu dengan seorang pengemudi ojek online wanita, saat beliau mengantarkan pesanan makanan. Karena saat itu hujan lebat, beliau permisi untuk berteduh sejenak di teras rumah saya. Tentunya saya persilakan. Dalam pertemuan yang singkat itu kami berbincang sejenak. Saya tanyakan bagaimana situasi ojek online pada saat pandemi, dan raut wajahnya berubah sedih. Beliau, belakangan saya ketahui bernama Zubaidah, bercerita bahwa hari-hari pandemi adalah hari-hari yang luar biasa sulit secara keuangan. Ada hari-hari beliau tidak mendapat order dari satupun pelanggan, dan jika ada, paling banyak hanya tiga sehari. “Tapi mau bagaimana lagi Pak, saya harus lakukan ini untuk anak saya. Bapaknya sudah kawin lagi dan tidak mau membiayai. Hanya ini yang saya bisa dan hanya motor ini yang saya punya, jadi hanya ini pilihan yang ada saat ini. Anak saya yang membuat saya bertahan di jalanan sampai tengah malam supaya ada uang yang bisa dibawa pulang untuk makan besok pagi.”

Zubaidah bercerita bahwa kebanyakan pengemudi ojek online wanita memang berstatus orang tua tunggal. Tidak banyak yang bersuami ataupun berstatus masih lajang.

Saya tertegun dengan kisah Zubaidah di atas. Setelahnya saya membuat semacam riset sederhana, dengan Zubaidah dan beberapa pengemudi ojek online wanita berstatus ibu tunggal lain sebagai responden saya. Berikut ini adalah kisah-kisah mereka:

Zubaidah: “Saya single parent dengan satu anak usia 8 tahun. Saya sudah 4 tahun narik Grab. Selama pandemi orderan sangat sulit. Sebelum PSBB saja sudah sepi order, apalagi sekarang tambah sepi saja. Yang saya paling pusing bayar cicilan motor dan sewa rumah. Debt collector dan pemilik rumah gak mau tahu susahnya orang lagi jaman begini. Main ngancam-ngancam mau ngusir dari kontrakan, dan mau narik motor saya. Alhamdulillah uang sekolah memang digratiskan Pemerintah. Keperluan alat sekolah anak saya juga mendapat KJP dari sekolah. Saya tinggal cari untuk uang jajan dan makan anak saja Sebagai driver wanita banyak hambatannya, terutama pelecehan dari customer laki-laki..”

Lusi: “Saya single parent dengan 2 anak yang masih kecil-kecil, yang pertama umur 10 tahun, yang kedua umur 2 tahun kurang, rumah ngontrak per-bulan Rp.700.000, sedangkan penghasilan saya selama pandemi tiap hari tidak pernah mencapai Rp. 100.000/hari, bahkan kadang tidak dapat uang sama sekali. Ada rasa takut di jalan apalagi kalau narik sampai malam, misalnya kalau motor trouble, tapi mau bagaimana lagi.”

Siti: “Saya single parent dengan 4 orang anak. Saya menafkahi anak saya cuma dari narik Grab. Anak saya yang masih sekolah ada 2, yang nomor 2 & 3. Yang kecil masih umur 5 tahun. Alhamdulillah, walaupun gali lobang tutup lobang, Allah masih memberikan uluran tangannya untuk memberikan rizki untuk anak saya.  Yang paling bikin takut waktu saya mau dibegal, motor saya mau dirampas begal malam-malam. Untungnya ada warga yang teriak, begalnya panik terus kabur.”

Dari “penelitian” kecil  yaitu sedikit wawancara lisan maupun online dengan para responden, saya mendapati fakta-fakta sebagai berikut:

  1. Tidak ada seorangpun yang ingin menjadi ibu tunggal. Semua wanita mendambakan keluarga yang utuh, dipimpin dan dilindungi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab, yang memberikan nafkah dan mengayomi keluarga.
  2. Perceraian adalah pilihan terakhir. Seringkali, bukan pilihan bersama.
  3. Penyebab-penyebab utama perceraian tidak jauh-jauh dari: faktor ekonomi, kemiskinan, tidak adanya cukup tanggungjawab secara ekonomi khususnya dari pihak suami, perselingkuhan, KDRT.
  4. Yang paling membuat para wanita itu bertahan adalah keberadaan anak.
  5. Keberadaan anak tidak dapat menggantikan pasangan, tetapi anak adalah prioritas di atas keinginan mempunyai pasangan kembali.
  6. Kemiskinan masih merupakan masalah utama banyak warga kita. Kemiskinan sangat berkaitan dengan faktor pendidikan.
  7. Kemiskinan dapat merembet kepada hal-hal selanjutnya: ketidakharmonisan, ketidakmampuan mengatasi emosi, pertengkaran rumah tangga, bahkan KDRT.
  8. Terbatasnya pendidikan menjadikan terbatasnya pilihan pekerjaan. Dalam hal wanita pengemudi ojek online, pertimbangannya adalah: saya “hanya punya motor” dan kepintaran saya hanya “bawa motor.”
  9. Dengan tidak adanya figur ayah, banyak anak yang tumbuh secara tidak seimbang. Anak laki-laki dan perempuan mengalami dampak yang berbeda dengan tidak adanya figur seorang ayah.
  10. Stigma negatif yang banyak beredar sejak dahulu adalah bahwa kebanyakan janda adalah pelakor (perebut laki orang).

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan beberapa harapan kepada teman-teman pembaca. Para ibu tunggal adalah pejuang-pejuang yang luar biasa. Beban dari teman-teman ibu tunggal itu sangatlah berat. Mereka harus merangkap menjadi ibu dan sekaligus ayah untuk anak-anak mereka. Mereka harus membagi waktu dan prioritas antara menjadi ibu sekaligus juga pencari nafkah. Jika kita bisa membantu mereka, itu sangat baik, misalnya membantu secara ekonomi dengan membantu memberi sembako khususnya bahan pangan dan kebutuhan anak, atau memberikan order pekerjaan mengantar/berbelanja. Jika kita tidak bisa atau tidak mau membantu, paling tidak janganlah menambah beban berat mereka dengan mencap mereka dengan stigma-stigma negatif. Seperti kata seorang ibu tunggal yang pernah dicurigai sebagai pelakor“Siapa sih yang mau jadi janda? Jangan sama ratakan kami. Kami sudah pusing dengan urusan ekonomi dan anak, jangan lagi kami dicap macam-macam.”

Terima kasih. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk mengingatkan kita bahwa ada orang-orang yang tidak seberuntung kita, dan bagaimana kita bisa menyikapi keadaan ini.

Tangerang, 29 Oktober 2020.

Referensi:

Jumlah mitra pengemudi perempuan Grab Indonesia tumbuh lima kali lipat https://industri.kontan.co.id/news/jumlah-mitra-pengemudi-perempuan-grab-indonesia-tumbuh-lima-kali-lipat

https://www.alinea.id/nasional/angka-perceraian-meningkat-kemenag-kerjasama-dengan-bp4-b1ZT59xdU

28 KOMENTAR

  1. Mantap mas Peter sangat menyentuh, menandakan yang menulis sangat peduli dengan orang orang yg menjadi objek tulisan , maju terus dan tetap semangat.

  2. Well said, memang hidup sebagai single parent tidak muda di zaman sekarang ini. Buat kita-kita yang sanggup dalam finansial, marilah kita membantu mereka-mereka yang kurang beruntung!

    • Saya tidak mengenal beliau secara pribadi, tetapi bisa sedikit melihat bagaimana beliau mendidik Kang Maman. Terimakasih Kang Maman. Feedback dari penulis handal seperti Anda sungguh membuat saya bersemangat terus belajar menulis Kang. Hatur nuhun 🙏😊👍

  3. Ulasan yg menyentuh. Kita harus bersyukur karena masih ada pekerjaan & di berkati hidup kita.
    Thanks Peter! Keep up the good work 👍🏻

  4. 9 bulan sudah tukang ojek anakku tidak membawanya kesekolah. Mbak siti juga seorang ibu tunggal. Selain ngojekin anakku mbak siti juga seorang ojol. Waktu aku bilang anak2 di rumahkan sekolahnya, ada raut sedih di wajah mbak Siti, aku bisa baca itu. Aku tau bagaimana sulitnya mbak Siti menafkahi ke 3 orang anaknya, dan agar kesedihannya tak bertambah, aku katakan ke mbak Siti, “datanglah setiap tanggal pembayaran mbak. Buat bantu2 uang jajan anak mbak Siti”.
    Walaupun sebenernya pemasukanku sedikit berkurang selama pandemi, tapi aku tauTuhan tidak akan pernah membiarkan umatNya dalam kesulitan yg berkepanjangan.
    Thanks om Pit, sudah mau peduli dengan para ibu pejuang keluarga🙏

    • Luar biasa Sister Desiah. Luar biasa Kak Siti. Tuhan memberkati semua ibu tunggal dan semua yang peduli dan menghargai perjuangan mereka 🙏🤗❤️

  5. Perlu banyak belajar dari mereka bagaimana cara bersyukur, cara bertahan di dalam kesulitan, dan cara bersabar dan ikhlas dengan keadaan.

    • Terimakasih Mbak Ratih. Senang sekali saya mendapat komentar dari penulis handal seperti Mbak. Betul, para orang tua tunggal adalah pejuang-pejuang yang hebat 🙏😀❤️

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here