Benarkah Keadilan Pendidikan bagi Seluruh Rakyat Indonesia Sudah Terealisasikan?

0
538
Sumber: google.com

Pembahasan kali ini fokus pada keadaan dunia pendidikan saat ini khususnya di Indonesia. Melalui tulisan ini kami mencoba mengumpulkan beberapa opini orang terkait pendidikan. Salah satu kalimat yang membekas tentang keadilan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia melalui penjelasan oleh Sokola Rimba di akun Instagramnya @sokolainstitute. Salah satu sekolah yang didirikan pada tahun 2003 oleh Butet Manurung dan pendidik lainnya dengan tujuan agar anak-anak yang di pedalaman bisa mendapatkan atau pendidikan yang sama seperti anak-anak lainnya.

Balik ke tema pembahasan, jika dipikir-pikir, pendidikan saat ini belum semuanya merata. Untuk membaca, menulis dan menghitung saja masih banyak anak-anak di beberapa daerah pelosok yang belum bisa. Lalu bagaimana dengan program Pemerintah yang mewajibkan semua penduduk mengikuti program pendidikan dasar selama sembilan tahun yaitu enam tahun di Sekolah Dasar atau SD, tiga tahun Sekolah Menengah Pertama dan tiga tahun Sekolah Menengah Umum. Kenapa masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan seperti program pemerintah tersebut, padahal sistem pendidikan ini juga tertulis dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.

Seberapa Penting Keberadaan Suatu Pendidikan?
Untuk pentingnya pendidikan, berikut ini kami merangkum opini atau pendapat yang pentingnya pendidikan itu sendiri.

“Pendidikan itu penting karena berkaitan erat dengan pengetahuan sementara jaman yang semakin canggih dalam segala bidang. Andai kita tidak punya pengetahuan maka bagaimana kita bisa hidup dalam peradaban yang ada. Masa depan itu nomor kesekian yang penting yang mampu mengikuti jaman” – Oma Selly

“Pendidikan itu sistem yang dapat mengubah perilaku seseorang melalui pembelajaran atau pelatihan yang terus menerus dilakukan. Dan pendidikan itu penting untuk bekal masa depan seseorang dalam mencapai karirnya” – Ratih Himura

Pendidikan itu adalah ilmu pengetahuan/pembelajaran penting untuk bertahan hidup dengan baik. Ilmu/ajaran tentang sosial, agama, budaya, perilaku, dasar berkreasi dan inovasi mengikuti perkembangan zaman. Serta harta/dasar dan cara berpikir/intelektual setiap manusia itu sendiri untuk menyesuaikan diri dimanapun dia berada dan berkembang. – Enny Setiyowati

“Pendidikan adalah usaha atau kegiatan yang menambah wawasan seseorang” – Sarah Trisna Kinanti

“Pendidikan itu seharusnya membuat seseorang menjadi versi terbaik dirinya yang bermanfaat bagi orang lain” – Butet Manurung

“Pendidikan itu sangat penting. Dan untuk tingkat pendidikan masing-masing orang berbeda, tak terkalahkan dengan kebutuhan hidupnya” – Freddy Bereciartu

Itulah pendapat mereka mengenai pendidikan, tidak ada yang salah atau benar. Masing-masing punya hak mengutarakan pendapatnya mengenai Pendidikan. Bisa dikatakan jika dari sisi pendidikan formal merupakan hal yang sangat penting karena penentu tingkatan untuk ke depan. Dengan hasil akhirnya yaitu ijazah yang dapat digunakan untuk melamar pekerjaan. Semakin tinggi pendidikan kamu, semakin tinggi kesempatan kamu untuk dilirik Perusahaan.

Akan tetapi, berbeda dengan Freddy Bereciartu yang sudah melakukan perjalanan ke 60 negara ini, gelar pendidikan yang diperoleh karena permintaan orang-tuanya. Freddy Bereciartu menyelesaikan sekolah menengahnya di Venezuela dengan kuliah bidang ekonomi di Amerika Serikat dan master bisnis di Eropa.

Baginya, pendidikan kehidupan merupakan salah satu pendidikan informal yang didapatnya dari perjalanan yang sudah dia lakukan.

Jadi, pendidikan informal juga dibutuhkan untuk menunjang pendidikan formal. Apalagi di zaman globalisasi sekarang, Perusahaan melihat gelar ketika mencari kandidat karyawannya. Setelah itu pengalaman dan keterampilannya.

Selain pendidikan formal, orang tua juga mengikuti anak-anaknya pendidikan informal seperti kursus bahasa Inggris, karate, balet, vokal, musik, dan banyak lagi.

Hal ini dilakukan oleh anak-anak yang mempunyai banyak kegiatan dan kemampuan yang bisa menunjang pendidikan formalnya.

Lalu Bagaimana dengan Pendidikan di Pedalaman atau Rimba?
Apakah pola pendidikan di pedalaman sama dengan pendidikan di perkotaan? Jawabannya tentu tidak. Masih banyak daerah-daerah yang ada di Indonesia, khususnya di pedalaman atau rimba yang untuk membaca, menulis dan berhitung saja tidak bisa. Tidak heran, kalau masyarakat di pedalaman atau rimba, sering dibohongi. Ada saja yang merekomendasikan jahat atas kepemilikan mereka seperti tanah, ladang, sawah maupun harta benda mereka lainnya.

Lalu, bagaimana cara bagaimana keluarga di pedalaman atau rimba bisa mendapatkan pendidikan dan pendidikan yang sama seperti perkotaan. Paling tidak, mereka bisa memahami dan memahami terlebih dahulu dulu membaca, menulis dan berhitung.

Kalau jawaban masyarakatnya harus hijrah ke perkotaan. Tidak semudah itu karena orangtuanya tidak akan memberikan izin untuk hijrah atau keluar dari daerahnya. Mereka takut jika sudah pergi dan keluar dari desanya, tidak akan kembali lagi. Hal ini berarti mereka akan lupa akan kampung halaman dan kebudayaanya.

Hal ini yang menjadi “PR” atau tanggung jawab Pemerintah daerah pedalaman atau rimba bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan masyarakat perkotaan. Kalau ada yang mengatakan LSM dan relawan yang datang untuk memberikan pendidikan kepada mereka. Pertanyaannya “bagaimana pola makan yang mereka berikan dan berapa lama mereka menetap di daerah, selamanya atau hanya sewaktu-waktu”. Mereka juga mempunyai keterbatasan finansial, termasuk dalam hal keuangan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mencoba untuk memulai pendidikan seperti yang sudah dilakukan oleh Sokola Rimba sebagai pusat pembelajaran masyarakat di pedalaman atau rimba. Pola pendidikan yang diberikan juga berbeda karena mereka belajar di alam. Tanpa pakaian seragam, tas, sepatu maupun buku belajar. Jam belajar juga tidak seperti di sekolah formal. Kalau bosan bisa rehat dan istirahat sebentar, lalu belajarnya akan diteruskan lagi.

Hal ini yang menjadi alasan kenapa Pendidikan belum merata karena masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan sesuai Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003. Pemerintah harus lebih fokus dan mencari solusi dalam hal ini, terutama bagaimana cara pendidikan di pedalaman atau rimba bisa sama dengan perkotaan. Paling tidak menulis saja dulu, “Membaca, dan Berhitung”

Sedangkan bagi orangtua, jangan pernah melarang anak untuk bereksperimen atau menganalisis sesuatu. Biarkan saja mereka melakukan apa yang mau mereka lakukan karena dari sana mereka akan belajar. Istilahnya “Jangan takut kotor”, justru dari kotor akan banyak ilmu yang didapat dengan sendirinya “. Pendidikan formal itu memang sangat perlu, tapi pendidikan informal juga perlu karena berguna untuk kehidupan kita. Semoga bermanfaat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here