Asal-usul “Habis Gelap Terbitlah Terang”

0
387
Sumber Ilustrasi : Tribun.com

“Singkat cerita, dalam berbagai kesempatan, Kartini memohon pada gurunya untuk menerjemahkan Alqur’an ke dalam bahasa Jawa.”

Dalam pergulatan batin saat mendalami agama dan mendalami keyakinan akan Tuhannya, RA. Kartini sempat ngambek. Doi mempertanyakan, mengapa enggak boleh mempelajari makna yang terkandung di dalam Alqur’an.

Kala itu, penjajah memang melarang adanya Alqur’an yang diterjemahkan. Tujuannya, agar masyarakat tetap bodoh dan enggak memahami kandungan ajaran Tuhan.

Ngambeknya RA. Kartini tertuang dalam surat untuk sahabatnya di luar negeri yang bernama Stella Zihandelaar. Tertulis tanggal 6 November 1899.

“MENGENAI AGAMAKU, ISLAM, AKU HARUS MENCERITAKAN APA? ISLAM MELARANG UMATNYA MENDISKUSIKAN AJARAN AGAMANYA DENGAN UMAT LAIN. LAGI PULA, AKU BERAGAMA ISLAM KARENA NENEK MOYANGKU ISLAM. BAGAIMANA AKU DAPAT MENCINTAI AGAMAKU, JIKA AKU TIDAK MENGERTI DAN TIDAK BOLEH MEMAHAMINYA?

ALQUR’AN TERLALU SUCI; TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN KE DALAM BAHASA APA PUN AGAR BISA DIPAHAMI SETIAP MUSLIM. DI SINI TIDAK ADA ORANG YANG MENGERTI BAHASA ARAB. DI SINI, ORANG BELAJAR ALQUR’AN TAPI TIDAK MEMAHAMI APA YANG DIBACA.

AKU PIKIR, ADALAH GILA ORANG DIAJAR MEMBACA TAPI TIDAK DIAJAR MAKNA YANG DIBACA. ITU SAMA HALNYA ENGKAU MENYURUH AKU MENGHAFAL BAHASA INGGRIS, TAPI TIDAK MEMBERI ARTINYA.

AKU PIKIR, TIDAK JADI ORANG SOLEH PUN TIDAK APA-APA ASALKAN JADI ORANG BAIK HATI. BUKANKAH BEGITU STELLA?”

Hingga suatu ketika, dalam sebuah pengajian, RA. Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat. Sang kiai sedang ceramah tentang tafsir kandungan surat Alfatiha.

Kartini bengong dengan materi yang disampaikan. Doi kagum, melongo, sebab akhirnya bisa tahu indahnya kandungan Alfatiha yang selama itu enggak diketahuinya. Dan setelah pertemuan itu, Kartini ngebet pengin ke tempat Kiai. Bahkan ingin menjadi muridnya.

Singkat cerita, dalam berbagai kesempatan, Kartini memohon pada gurunya untuk menerjemahkan Alqur’an ke dalam bahasa Jawa. Karena menurut doi, untuk apa membaca kitab suci bila enggak mengerti arti dan maknanya.

Akhirnya, sang guru melawan aturan penjajah yang melarang penerjemahan kitab suci. Diam-diam Kiai Sholeh Darat menerjemahkan Alqur’an. Ditulis menggunakan huruf arab gundul agar enggak dicurigai penjajah.

Tafsir terjemahan Alqur’an itu diberi nama Kitab Faidhur Rohman. Tafsir pertama di nusantara dalam bahasa Jawa dan aksara Arab. Kitab ini lalu dihadiahin untuk Kartini ketika pernikahannya.

Saking bahagianya Kartini sampai berujar, “Selama ini Alfatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikit pun maknanya. Tapi sejak hari  ini, ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya. Sebab Romo Kiai telah menerangkan dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

Dari kitab tafsir itu juga, Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh dirinya. Yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (Q.S. Al-Baqoroh: 257)

Sejak saat itu, dalam surat-suratnya Kartini sering menulis “Dari gelap menuju cahaya” yang dalam bahasa Belanda ditulis “Door Duisternis Toot Licht”.

Hingga di kemudian hari, oleh Armin Pane, ungkapan tersebut diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-surat RA. Kartini.

Kitab Faidhur Rohman sendiri hanya menerjemahkan surat Al Fatihah sampai surat Ibrahim. Enggak tuntas. Sebab sang kiai lebih dahulu tutup usia.

Itulah kisah tentang doi, Raden Ajeng Kartini.

Kriiik,…Kriiik,…Kriiik,…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here